web analytics

Ternyata Disini Indah

Ternyata Disini Indah
0 0
Read Time:4 Minute, 4 Second

Berkecamuk rasa dalam hati. Raut mukapun bingung mengekspresikannya. Hanya senyuman terpaksa yang dapat tergambarkan. Anggukan adalah jawaban bagi segala pertanyaan. Ya, awal membawa diri mengarah pada tempat yang dipenuhi dengan ilmu dan pengetahuan. Mungkin bisa disebut Penjara Suci. Yakni Pondok Pesantren. Tak pernah terbayangkan aku akan memutuskan untuk menimba ilmu ditempat yang paling aku hindari dari dulu. Selalu saja aku menolak untuk memasuki tempat ini, namun sekarang malah aku sendiri yang memutuskan. Terbayang-bayang, akan kegiatan- kegiatan yang begitu padat. Dunia yang penuh dengan peraturan dan paksaan. Huh… Jujur saja, aku bukanlah tipe orang yang suka diatur. Yaa, mungkin karena aku sudah terbiasa dengan kehidupan yang bebas tanpa adanya Batasan dan peraturan yang sampai begitu ketat seperti di pondok pesantren.

Tapi inilah keputusanku, aku harus tetap menerima segala aturan dan tuntutan atas keputusan yang telah kuambil, apapun itu. Aku hanya berusaha mendengarkan hati kecilku, dan mungkin inilah takdir yang Allah tentukan untukku. Bersiap melepas kebebasan sungguh tak mudah. Aku yang dulunya suka bermain kesana kemari, membeli apa yang ingin kubeli, memakan apa yang ingin kumakan, dan apapun itu. Semuanya bisa kulakukan tanpa adanya halangan. Namun sekarang, Aku harus menerima kenyataan bahwa semua itu tinggallah kenangan ketika aku memasuki penjara suci ini. Taka da tujuan yang pasti, namun hati kecil sudah menyatakan suaranya. Dia mengatakan dengan keras bahwa aku harus bersabar dan aku tak akan menyesal.

Salam, senyuman, dan pelukan adalah kebebasan terakhir yang dapat aku rasakan sebelum memasuki penjara suci ini dan berpisah dengan sanak saudara dan keluarga tercinta. Air mata tak sanggup dibendung lagi, tetaplah ia mengalir dari setiap mata yang akan tidak dipertemukan untuk sementara waktu. Memang Bahasa hati tidak bisa dibohongi. Yang namanya perpisahan, sudahlah pasti diiringi kesedihan. Namun ini hanyalah perpisahan sementara, karna aku yakin akan bertemu kembali ketika memang sudah waktunya.

Perlahan namun pasti. Kulepaskan genggaman tangan indah nan lembut ini. Tangan seorang ibu yang sejak aku menghirup udara dunia yang fana ini, selalu merawat dan menyayangiku sampai saat ini. Sedikit sulit, namun harus aku lakukan. Dan sekali lagi dengan izin Allah, pastilah pada saatnya nanti kubisa memegang dan mencium tangan penuh cinta ini lagi. Huh… akhirnya aku mulai melangkahkan kakiku ke dalam penjara suci ini. Tak ada handphone dan laptop, yang ada hanya tumpukan buku dan kitab yang siap menemaniku untuk menuntut ilmu disini.

Sebisa mungkin aku terus berusaha memahami situasi di sekitarku. Wajah- wajah yang begitu asing dari seluruh penjuru Indonesia. Semuanya orang asing, yaa kan memang belum kenalan… candaku dalam hati. Tak lama kemudian, datang seseorang menghampiriku dan menjulurkan tangannya mengajak bersalaman dengan wajah penuh senyuman. Aku balas senyumannya, lalu ku persilahkan dia duduk disampingku. Kami berkenalan, dia perkenalkan dirinya dengan nama Aisyah dan berasal dari Kalimantan. Obrolan berlanjut hingga petang menjelang dan langit mulai redup kekuningan. Suasana yang lumayan indah bisa kupandang dari bawah tangga jemuran bersama teman baruku Aisyah.

Tak lama kemudian, kentong adzan Maghrib berbunyi. Adzan bekumandang kemudian disusul bel pondok setelah adzan selesai. Pertanda sudah saatnya mengambil air wudhu dan bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib berjama’ah. Tuntutan pertama yang harus kupenuhi, karna kalau aku melanggar, maka aku akan dikenai ta’ziran. Ya ta’ziran, ta’ziran adalah hukuman atau sanksi bagi siapa saja santri yang telah melanggar peraturan atau kegiatan yang sudah ditentukan.

Usai sudah jama’ah sholat maghrib. Ada sejenak waktu luang untuk bertukar cerita dengan Aisyah sembari menunggu adzan isya’ berkumandang. Tak lama setelah kami membahas beberapa topik adzan pun berkumandang dan bel berbunyi pertanda saatnya melaksanakan jama’ah sholat isya’ dan istighotsah bersama. Anggap saja ini tuntutan kedua, istighotsah yang merupakan hal wajib di pondok pesantren ini. Meski tidak ada satu jam, mata serasa tak berdaya untuk mengangkat kelopaknya hingga rasa kantuk pun melalang buana. Berulang kali kucoba menahannya, namun apalah daya semilir angin menambah syahdunya rasa kantuk yang menerpa. Saat tiba-tiba mata terbuka, ternyata telah usai istighotsahnya. Lelah rasanya, tapi ingin ku tertawa saat Aisyah bercerita tentang keadaanku ketika menahan kantuk. “Sudah seperti pompa sumur saja. Ndengkluk- ndengkluk sebadannya sampai hampir jlungup ke lantai”. Begitu kata Aisyah, membuatku tertawa ditambah lagi dia mempraktekkannya dengan begitu sempurna. Malam sudah semakin larut, saatnya tiba untuk meraih mimpi dalam tidur yang sunyi.

Kring…. Kring… Bel pondok berbunyi. pertanda akan dimulainya jama’ah subuh. Selesai jama’ah, dilanjut dengan kegiatan mengaji al-Qur’an, setelah itu aku harus bersiap untuk pergi ke sekolah formal. Kemudian setelah sekolah dilanjutkan lagi dengan kegiatan jama’ah sholat dzuhur. Lalu bersiap untuk berangkat Madrasah Diniyah. Setelah Diniyah dilanjut dengan kegiatan sorogan kitab. Kemudian Jama’ah Maghrib, Musyawaroh, Jama’ah Isya’, dan terakhir ditutup dengan istighotsah.

Begitu sibuk, merepotkan, dan melelahkan. Namun karna cahaya pancaran ilmu dan barokah yang menyertai, akhirnya aku sadari TERNYATA DISINI INDAH. Sesibuk apapun dan selelah apapun, hati selalu tenang dan tentram jika memiliki cahaya ilmu dan pengetahuan. Apalagi ketika bisa bertemu dan bahkan belajar kepada para masyayikh dan pengasuh yang begitu mulia dan terhormat. Tiada duanya kebahagiaan yang dapat dirasakan.

About Post Author

F_Srikandhi

Satrio Pandito Sugih tanpo Bondo Digdoyo tanpo Aji Menang tanpo Ngasorake 🙂 Ig : @F_Srikandhi
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like