web analytics

Habib Muhammad Al-Habsyi dan Tradisi Khataman Kitab Shohih Bukhori

Habib Muhammad Al-Habsyi dan Tradisi Khataman Kitab Shohih Bukhori
Habib Muhammad Al-Habsyi Al-Mahrusiyah Lirboyo
0 0
Read Time:3 Minute, 32 Second

Pers Mahrusy- Kediri, Kamis (17/02) pengajian kitab Shohih Bukhori karya Imam Muhammad bin Ismail Ibn Ibrahim Al-Bukhori ini dilaksanakan rutin seminggu tiga kali setiap bulan Rajab di Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah Putri sesuai dengan jadwal berikut ini :

  • hari Rabu pagi                                : pukul 06.00 – 07.00
  • hari Kamis malam jumat             : pukul 21.00 – 23.00
  • hari Sabtu pagi                               : pukul 06.00 – 07.00

Pengajian terakhir kitab Shohih Bukhori ini dilaksanakan ba’da istighosah lebih tepatnya pukul 21.05 WIB. Dimulai dengan pembacaan suluk “sholli ‘ala nuri Ahmad, nuri manazil ya Muhammad” . Dipimpin oleh Habib Muhammad Al-Habsy selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah sekaligus Pendiri Majelis Ta’lim Al-Hilal.

Seusai membacakan suluk tersebut, pengajian dilanjutkan dengan tawasulan kepada para ulama’ dan guru, kemudian pembacaan kitab shohih bukhori, yang dibacakan langsung oleh tiga tamu istimewa beliau salah satu diantaranya yaitu KH. Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A.

Dalam pertengahan membaca lebih tepatnya pada setiap babnya Habib Muhammad menjelaskan maksud dan makna yang dikehendaki dari hadits yang telah dibaca, beliau sempat menyampaikan Manusia itu diciptakan, kalau ia mau tahu bahwa ia disayangi Allah, maka Allah akan meridhonya. Bisa dilihat ketika ia mudah dalam mengaji dan mudah dalam mencari ilmu. Dan bukan berarti pula ketika ia dalam keadaan susah penciptaannya tidak diinginkan, bukan seperti itu”. Tutur Suami Ning Ita Rosyidah ini.

Pembaca yang kedua dan ketiga juga bagian salah satu dari tamu istimewa Habib Muhammad, entahlah siapa karna memang tak disebutkan namanya, beliau pun juga terus memakai masker, kemudian dilanjutan oleh kang-kang santri. Dalam pertengahan membaca Habib Muhammad mengingatkan pada kita semua bahwa rahmat Allah itu lebih besar dari murkanya,

“Sabaqot-rohmati ghodzobi, fahuwa , ‘indahu fauqol ‘arsy”

“Ketahuilah-rahmatku lebih besar dari murkaku, semua sudah tercatat di ‘arsy”

Sebesar apapun dosa kita, seburuk apapun tingkah laku kita, walau tidak pernah sholat, tidak pernah berpuasa, pernah berzina, tetaplah bertaubat karana sudah dijelaskan bahwa rahmat Allah itu lebih besar dari murkanya. Allah SWT telah memberi jaminan bahwa “Tidak satupun dari umatku yang tidak masuk surga, semua masuk surga tidak terkecuali satupun.” itu merupakan jaminan dari do’a Nabi Muhammad SAW yang pasti diijabah oleh Allah.

Kunci masuk surga ialah syahadat , sebesar apapun itu kesalahan dan dosa kita, selama masih ada syahadat dalam hati kita, maka kita tetap akan masuk surga, akan tetapi bukan berarti karna sudah mendapat jaminan surga kita bisa berbuat dosa dengan sesuka hati dan masuk surga tanpa hisab, tidak seperti itu! Semua perbuatan tetap ada imbalannya, siapa yang berbuat dosa maka ia tetap akan disiksa, begitulah islam dengan segala keadilannya.

Sebelum pembacaan hadist yang terakhir, sampai pada hadist yang membahas tentang larangan membuat patung. Dalam pembahasan ini beliau menyampaikan bahwa masih ada perselisihan pendapat antar ulama, ada yang berpendapat bahwa pembuatan patung atau apapun yang berbentuk makhluk hidup itu hukumnya haram apabila lengkap dari rambut hingga kaki. Sedangkan untuk bentuk yang tidak sempurna dalam artian tidak lengkap entah hanya setengah badan atau mungkin hanya bagian tertentu saja itu diperbolehkan.

Antisipasi terjadi salah paham dalam meyikapi permasalahan ini, beliau mewanti-wanti bahwa jangan sampai kita berpikir bahwa memasang foto ulama, para habaib, itu juga tidak diperbolehkan. Jangan kalian itu sebut sebagai bid’ah karena dizaman nabi memang tidak ada fotografer, begitulah tutur beliau. hal itu diperbolehkan karena kita mencintai guru-guru kita, mencintai para habaib, sebagaimana kita mencintai Nabi Muhammad SAW.

“Itu semua karena cinta, cinta itu tidak bisa ditanyakan, cinta itu ghoib, begitu pula rasa, rasa itu tidak bisa diucapkan, karena itulah cinta tidak butuh alasan. Tingkat kema’rifatan tertinggi seorang hamba kepada Allah itu mahabbah (cinta). Jangan iba-tiba kamu datang berbicara perihal hakekat cinta, karena cinta tidak bisa dipertanyakan dan rasa tidak bisa diucapkan.” Begitulah dawuh yang sempat beliau tuturkan sebelum membaca hadist yang terakhir.

Usai beliau menyampaikan hal ini, kang santri kembali melanjutkan pembacaan hadits yang sempat terhenti, kemudian sampai pada hadist terakhir yang dibacakan langsung oleh Habib Muhammad Al-Habsy, beliau mengulang hadist ini sebanyak tiga kali kemudian dilanjutkan dengan do’a. Acara ditutup dengan do’a dan pembacaan sholawat “maula ya sholi” kemudian tidak lupa dengan adat khataman ala santri yakni mayoran (makan bersama).

Semoga pengajian ini membawa berkah dan manfaat bagi kita semua agar senantiasa mendapakan hidayah dari Allah Swt. dan selalu berada dalam jalan kebenaran. Aamin. [Wallahu a’lam]

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like