web analytics

Wacana tentang Kampung Literasi

Wacana tentang Kampung Literasi
Ilustrasi kepedulian anak dengan literasi
0 0
Read Time:4 Minute, 48 Second

Namanya Ryo. Salah satu dari anak kampung Mastuwo yang bekerja di kota dan pulang setiap hari raya ke kampungnya untuk berbalas rindu dengan keluarga besar ataupun tetangganya. Setiap kali Ryo pulang kampung, akan ada syukuran besar-besaran setiap usai sholat id. Wajar-wajar saja, dia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan besar sekaligus penulis buku-buku best seller. Bahkan, tak jarang pula Ryo membagikan buku-bukunya kepada masyarakat sekitar secara gratis agar mereka tidak buta pada pengetahuan. Untuk semua orang, tak terkecuali mereka-mereka yang belum bisa membaca atau pun menulis.

Suara ledakan petasan menggema di mana-mana. Selain diterbangkannya puluhan petasan, malam takbir kali ini juga dimeriahkan oleh adanya tumpengan di rumah Ryo. Bukan main ramainya rumah Pak Nafi’—ayah Ryo—waktu itu. Anak-anak kampung sangat menyukai tetangga mereka yang satu ini. Selain lemah lembut, Ryo juga dekat dengan anak-anak kecil di kampung. Maka, tidaklah berlebihan jika Pak Bambang—salah satu petani di kampung—menyebut Ryo dan keluarganya sebagai malaikat yang memberikan sayap-sayap keberkahannya pada seluruh warga kampung.

Langit mulai menarik senja miliknya ketika rembulan nampak di pucuk-pucuk semesta. Usai sholat isya’, takbir berkumandang di setiap sudut kampung, saling bersahutan. Pakde Soma, yang baru saja menyantap rendang ayam buatan istri Pak Nafi’ nampak sumringah menatap langit dari teras rumahnya.

“Ah, nampak seperti hidup di surga saja,” gumam pakde Soma di sela-sela menyendok rendang ayam di depannya.

***

Pukul delapan pagi. Setelah melaksanakan sholat id, rumah Pak Nafi’ penuh dengan puluhan orang yang ingin menikmati masakan mereka dan mendapatkan buku-buku gratis dari Ryo. Siti, salah satu bunga desa di kampungnya, mencari waktu luang untuk berbicara empat mata kepada Ryo terkait ratusan buku yang dibagi-bagikan oleh Ryo pada warga kampung Mastuwo.

“Kita ngobrol di belakang rumah aja, gimana?” tawar Ryo yang disambut senyum ramah oleh Siti.

“Boleh,” jawab Siti lembut.

Tanpa basa-basi, Siti segera menunjukkan sebuah poto yang membuat Ryo terperanjat. Sebuah poto ketika para warga kampung mengumpulkan buku-buku di rumah bu Retno yang pekerjaan sehari-harinya menjadi pemulung.

“Kamu tahu kan, harga satu buku bila dikilokan berapa?”

Ryo berpikir keras. Apakah ini balasan dari warga kampung atas kebaikannya selama ini?

“Mereka tidak bisa menulis, pun tidak membaca. Tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan selain menjualnya pada bu Retno. Lumayan, juga kan, kalau bisa diuangkan? Daripada nganggur di kamar.”

Dalam hal ini, tidak ada yang patut disalahkan. Warga kampung tidak salah, Ryo juga bukan orang yang tepat untuk disalahkan. Hanya butuh sedikit inovasi lagi agar warga kampung menyadari pentingnya membaca.

“Kamu ada usulan?”

Siti tidak menjawab pertanyaan Ryo. Untuk masalah literasi, Siti pun memiliki kekurangan tersendiri: ia tidak pernah sekalipun belajar membaca dan menulis. Tapi, ada satu keistimewaan yang dimiliki oleh Siti: ia tahu cara menghargai sebuah buku; ia lebih dari sekadar tahu akan dikemanakan buku-buku yang selama ini diberikan oleh Ryo. Siti bahkan membeli lemari khusus untuk menyimpan buku-buku yang diberikan oleh Ryo agar suatu saat nanti, ketika ia sudah bisa membaca dan menulis, ia bisa memanfaatkan bukunya tanpa harus menyerahkannya pada Bu Retno.

***

Tiga hari lamanya Ryo memikirkan cara memecahkan masalah ini: tentang minimnya warga kampung untuk mau dan sudi meluangkan waktunya untuk membaca. Dan yang membuat Ryo lebih kecewa lagi adalah, empat hari setelah itu, Ryo belum juga menemukan ide baru untuk ini sedangkan Pakde Soma sudah mulai mengingatkan pada Ryo kalau dia harus segera bersiap-siap untuk kembali ke kota bersama ayahnya untuk kembali bekerja seperti hari-hari biasa.

Di tengah kegundahan itu, hanya ada satu nama yang terlintas di pikirannya: Siti. Kenapa ia tidak kepikiran tentangnya? Bukankah Siti adalah orang yang memberitahunya tentang kondisi warga kampung Mastuwo?

Tanpa berpikir lama lagi, ia berangkat ke rumah Siti untuk mencari informasi mengenai hal ini. Ia bahkan bernadzar kalau ia tidak akan memberikan buku-bukunya lagi jika warga kampung masih belum bisa membaca atau bahkan menulis. Menurutnya, maju-tidaknya suatu kampung dinilai dari tinggi-rendahnya minat warga kampung tersebut dalam hal membaca.

Setelah sampai di rumah Siti, Ryo langsung mengajak Siti untuk berdiskusi.

“Warga kampung sudah begitu bahagia ketika mereka bisa bekerja dan tertawa setiap harinya. Apa yang mereka impikan berbeda denganmu. Apakah kamu tidak menyadari itu?”

Siti mulai angkat suara, menjelaskan kondisi kampung pada Ryo.

Ryo, yang hanya pulang setahun sekali, baru sadar tentang hal ini. Cita-cita seorang intelek jelas jauh berbeda daripada cita-cita warga kampung biasa. Bagaimana mungkin Ryo melupakan hal ini?

“Ini bukan masalah mereka suka membaca atau tidak, ini masalah kenapa mereka harus bisa membaca dan menulis sedangkan mereka sudah menggapai cita-cita mereka? Pergi ke sawah setiap pagi dan nongkrong di waktu malam dengan para pekerja lain adalah rutinitas yang paling mereka sukai. Sesekali mereka bahkan bermain judi dan mabuk di tempat umum. Adakah yang lebih membahagiakan daripada itu semua? Jelas tidak!”

Kedua tangan Ryo menyatu di bawah dagunya. Ia bekerja di sebuah penerbitan dan sudah menulis lebih dari sepuluh buku yang hampir setengahnya sudah dicetak berulang kali. Tapi kenapa ia tidak bisa memulihkan kondisi kampungnya yang minim akan membaca?

Dari apa yang telah terjadi, Ryo sepertinya menemukan titik terangnya. Sedari awal, ia terlalu berambisi untuk membuat seluruh warga kampung berpikiran sama dengannya; menjadi orang sukses, dan itu jelas merupakan sebuah kemustahilan.

“Selain tidak bisa membaca dan menulis, kendala apalagi yang kamu temukan pada warga kampung?”

Siti berpikir sekejap, mencari jawaban.

“Seluruh warga kampung tidak ada yang suka membaca buku.”

Ryo mendengus kesal. Rencana untuk mengubah kampungnya menjadi kampung literasi dengan cara membagi-bagikan bukunya secara gratis sepertinya hanya sebatas wacana. Apalagi yang bisa dilakukan oleh Ryo untuk mewujudkan cita-citanya sedangkan warga kampung tidak suka membaca buku?

Karena terlau lelah, Ryo akhirnya merebahkan tubuhnya di atas karpet hijau dan memejamkan matanya paksa.

Baca Juga: Fanatik

Tidurkah ia?

Tidak. Ia hanya kecewa!

Oleh: M. Hasan Alkafrowi

Sumber gambar: tebuireng.online

 

About Post Author

elmahrusy16

Elmahrusy Media Merupakan Wadah literasi dan jurnalistik bagi santri, alumni dan pemerhati Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like