web analytics

Memperingati Haul Nyai Dlomroh, Sang Kunci Berdirinya Pondok Lirboyo

0 0
Read Time:3 Minute, 10 Second

Kediri, Elmahrusy Media (29/04)

Dalam rangka memperingati haul Ibu Nyai Dlomroh atau Ibu Nyai Siti Khodijah, Asrama Darsyi dan Darzen menggelar pembacaan manaqib serta Maulid Diba’ di penghujung April yang bertepatan dengan pertengahan bulan Dzulqa’dah.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Al-Fatah Asrama Darur Rosyidah setelah sholat Magrib berjamaah. Acara dibuka oleh Agus Ahmad Nasyiruddin Moenir yang menyampaikan profil singkat tentang keistimewaan Nyai Dlomroh. Dalam kesempatan tersebut, beliau didampingi dua putri tercintanya, Afnan Miskiyah Al-Habsyi dan Mahera Maziya Miskiyah.

Pengasuh PP HM Al-Mahrusiyah Asrama Darur Rosyidah, Gus Anas, menyampaikan bahwa Nyai Dlomroh wafat pada malam 12 Dzulqa’dah. Beliau menegaskan bahwa peringatan haul bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah meletakkan pondasi perjuangan Islam dan pendidikan pesantren.

“Ibu Nyai Dlomroh adalah kunci adanya Lirboyo,” tutur menantu Almarhum Almaghfurlah KH Imam Yahya Mahrus.

Nyai Dlomroh merupakan istri pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, yaitu KH Abdul Karim, sekaligus putri dari ulama kharismatik KH Sholeh Banjarmelati. Dalam kisah pernikahan Nyai Dlomroh dan KH Abdul Karim, terdapat jarak usia yang terpaut cukup jauh. Saat menikah, KH Abdul Karim berusia sekitar 52 tahun, sedangkan Nyai Dlomroh masih belum genap berusia 20 tahun.

Gus Anas juga mengisahkan perjuangan besar Nyai Dlomroh dan KH Abdul Karim saat merintis pesantren di kawasan Lirboyo. Karena sejarahnya, konon tanah Lirboyo itu dikenal sebagai hutan angker yang belum banyak dihuni sebelum kepindahan Ibu Nyai Dlomroh dan KH Abdul Karim.

“Ibu Nyai Dlomroh dan KH Abdul Karim itu dari Banjarmelati ke Lirboyo mbabat tanah untuk pendidikan,” tutur Gus Anas.

Meskipun berawal dari hutan yang dikenal angker, dengan tekad kuat, Nyai Dlomroh dan KH Abdul Karim membuka lahan demi mendirikan pusat pendidikan Islam yang kini menjadi salah satu pesantren terbesar di Indonesia.

Menurut Gus Anas, Nyai Dlomroh adalah sosok perempuan inspiratif yang memiliki keteguhan hati luar biasa. Pernah suatu ketika KH Abdul Karim berkeinginan pulang ke Magelang. Dalam situasi itu, Nyai Dlomroh mengambil sikap tegas. Beliau menyatakan siap dipulangkan ke Banjarmelati jika sang suami memilih meninggalkan Lirboyo.

Tak hanya itu, Nyai Dlomroh juga menyampaikan kesediaannya untuk menanggung kebutuhan keluarga agar KH Abdul Karim dapat fokus mengajar, mengaji, dan mendidik para santri. Pada masa itu, urusan keuangan hingga administrasi pesantren seluruhnya dikelola oleh Nyai Dlomroh. Peran inilah yang menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh penting di balik berdirinya Pondok Lirboyo.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Gus Anas berpesan kepada para santri agar selalu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

“Barokahnya ilmu insyaallah akan selalu menyertai kita selama kita tenanan (bersungguh-sungguh). Karena hasil tidak akan mengkhianati proses,” dawuh beliau.

Beliau kembali menegaskan bahwa keberkahan hidup bukan terletak pada nasab semata, melainkan pada keseriusan, keilmuan, dan amal saleh. Hal ini dicontohkan oleh perjuangan KH Abdul Karim yang bukan terlahir langsung dari keturunan kiai besar, namun melalui kegigihan, keikhlasan, dan perjalanan panjang dalam menuntut ilmu hingga usia matang, beliau mampu melahirkan generasi ulama besar masa kini serta mengembangkan Pondok Lirboyo menjadi lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang hingga memiliki banyak cabang.

Gus Anas juga menukil dawuh KH Abdul Karim:

“Lek santri Lirboyo tenanan mempeng, mulih ra dadi opo-opo, ketoken kupingku.”
(Jika santri Lirboyo benar-benar rajin dan bersungguh-sungguh di pondok, lalu pulang tidak menjadi apa-apa, potonglah telingaku.)

Pesan tersebut selaras dengan hadis Rasulullah SAW:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak akan mampu mempercepat kedudukannya.”
(HR. Muslim ibn al-Hajjaj, no. 2699)

Hadis tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh garis keturunan, pangkat, maupun status sosial, melainkan oleh amal dan ketakwaannya. Sebab itu, setiap insan diajarkan untuk tidak bergantung pada nasab, melainkan fokus memperbaiki diri, meningkatkan amal saleh, dan berjuang di atas kaki sendiri demi meraih keberkahan dunia serta akhirat.

Wallahu a’alm.

 

About Post Author

Anisa Fitri Ulhusna

Mengabdi untuk Mengabadi
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Mengabdi untuk Mengabadi

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Gus Reza: “Ilmu Tanpa Sanad, Bagai Perang Tanpa Senjata”

Gus Reza: “Ilmu Tanpa Sanad, Bagai Perang Tanpa Senjata”

Bekal Pengabdian: MQQ Al Mahrusiyah Gelar Diklat dan Khotmil Qur’an Ke 5

Bekal Pengabdian: MQQ Al Mahrusiyah Gelar Diklat dan Khotmil Qur’an Ke 5

Haru Biru Pemilu Ketua Pondok Baru

Haru Biru Pemilu Ketua Pondok Baru

Di Haul Masyayikh Lirboyo 2026, KH Reza Ahmad Zahid Tekankan Perbarui Niat

Di Haul Masyayikh Lirboyo 2026, KH Reza Ahmad Zahid Tekankan Perbarui Niat

Habib Jindan: “Sanad Bagian dari Agama”

Habib Jindan: “Sanad Bagian dari Agama”

Syahdu Merindu Dalam Majelis Dzikir wa Maulidurrosul

Syahdu Merindu Dalam Majelis Dzikir wa Maulidurrosul