web analytics

Bekal Pengabdian: MQQ Al Mahrusiyah Gelar Diklat dan Khotmil Qur’an Ke 5

0 0
Read Time:3 Minute, 17 Second

Madrasah Qiro’atil Qur’an (MQQ) sukses menyelenggarakan acara Diklat dan Khotmil Qur’an ke-05 pada Ahad (26/04). Bertempat di Aula KH Imam Yahya Mahrus, Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah III Ngampel, kegiatan ini menjadi agenda strategis tahunan untuk membekali siswa tingkatan Aliyah D sebelum terjun dalam masa pengabdian satu tahun kedepan.

Acara yang berlangsung khidmat sejak pagi hari ini bertujuan untuk melakukan standarisasi metode pengajaran Al-Qur’an serta meningkatkan kompetensi dan dedikasi para calon pendidik.

Suasana aula mulai ramai dipadati peserta sejak pukul 07:00 WIB. Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan doa, syair kalamun, serta pembacaan Al-Qur’an bitartil mulai dari surah Ad-Dhuha hingga An-Nas.

Ketua Panitia bersama Kepala Madrasah, Dewan Asatidz Aliyah D dan tamu undangan turut hadir di baris depan. Dalam sambutannya, pihak panitia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, peserta dan  pihak yang terlibat dalam menyukseskan forum pembekalan wajib bagi syarat kelulusan pengabdian ini.

Memasuki sesi materi, dua praktisi pendidikan Al-Qur’an, Bapak Muhammad Nurul Hafidz dan Bapak Ubay Abdul Hayyi membedah secara tuntas teknik pengajaran yang benar.

Pada kesempatan penyampaian materi  Diklat jalsah Ulaa, Bapak Muhammad Nurul Hafidz menekankan pentingnya akurasi fonetik pada Fawatihus Suar (huruf pembuka surah) serta edukasi mendalam mengenai perbedaan Hamzah Wasal, Hamzah Qata’, dan implementasi Waqaf Mu’anaqoh.

“Penyebutan nama huruf hijaiyah yang benar menjadi kunci agar praktik sesuai kaidah tajwid yang sah,” tegasnya.

Setelah para peserta turut seksama mengikuti acara, Dzuhur tiba, semua yang hadir diperkenankan sholat, juga pula istirahat.

Selanjutnya penyampaian materi jalsah tsani, oleh Bapak Ubay Abdul Hayyi, beliau menyoroti urgensi metode talaqqi (menirukan) dan penggunaan Rasm Utsmani sebagai standar otentik penulisan Al-Qur’an.

Beliau juga menyampaikan terdapat tiga keistimewaan atau keutamaan utama dari metode Jet Tempur yang digagas oleh Romo Kiai Maftuh Basthul Birri.

1. Metode Hafalan: Fokus utama metode ini adalah hafalan, yang dirancang untuk membangun fondasi kuat bagi santri dalam mengenal Al-Qur’an secara langsung melalui pendengaran dan pengulangan, seperti praktik para sahabat di zaman Rasulullah SAW.

2. Penggunaan Rasm Utsmani: Metode Jet Tempur secara konsisten menerapkan standar penulisan Rasm Utsmani dan tanda baca yang tepat. Hal ini bertujuan agar santri terbiasa dengan kaidah penulisan Al-Qur’an yang otentik dan diakui secara luas sejak tingkat dasar.

3. Pembelajaran Wakaf dan Wasal: Keunggulan lainnya adalah diperkenalkannya tata cara wakaf (berhenti) dan wasal (menyambung) bacaan sejak dini. Dengan memahami aturan ini, santri tidak hanya sekadar bisa membaca huruf, tetapi juga mampu membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan pola bacaan yang benar sesuai kaidah.

Setelah jeda, sesi dilanjutkan dengan Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Romo K.H. Sirojuddin. Dalam kesempatan mauidhohnya, beliau merefleksikan sejarah metode Jet Tempur yang memiliki keterikatan historis dengan momentum Muktamar NU ke-30 di Lirboyo.

Beliau juga menekankan pentingnya menjaga sanad keilmuan dengan meneladani perjuangan ulama terdahulu seperti Mbah Kiai Munawwir dan Mbah Kiai Maftuh Basthul Birri.

“Jika sudah selesai mengaji, baik bin nadzor maupun bil ghaib, maka harus mempersiapkan diri untuk mengajar,” pesan K.H. Sirojuddin sebagai motivasi spiritual bagi para calon pengajar agar senantiasa sabar dan ikhlas dalam berkhidmat.

Selanjutnya yang terakhir Mauidhoh Hasanah sekaligus doa yang disampaikan oleh Kiai Husein Syafi’i

Beliau mengingatkan pentingnya menjaga sanad keilmuan yang bersambung dengan mencontoh perjuangan para kiai, seperti kisah Mbah Kiai Maftuh Bathul Birri

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

yang menunjukkan kegigihan dalam menuntut ilmu dengan berguru kepada Mbah Kiai Nawawi di Ngrukem dan Mbah Kiai Ahmad Munawir di Krapyak hingga khatam 30 juz.

Hal ini menjadi pengingat bagi para pengajar bahwa dalam menyebarkan ilmu Al-Qur’an, kita tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga sedang menyambungkan tali kesinambungan ilmu yang penuh keberkahan dari para pendahulu kita.

Acara ditutup menjelang waktu maghrib dengan harapan besar bahwa para lulusan Aliyah D ini mampu menjadi pendidik yang kompeten dan mahir dalam menjaga warisan keilmuan pesantren di masyarakat.

Wallahu a’lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
El Mahrusy Media

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Haru Biru Pemilu Ketua Pondok Baru

Haru Biru Pemilu Ketua Pondok Baru

Di Haul Masyayikh Lirboyo 2026, KH Reza Ahmad Zahid Tekankan Perbarui Niat

Di Haul Masyayikh Lirboyo 2026, KH Reza Ahmad Zahid Tekankan Perbarui Niat

Habib Jindan: “Sanad Bagian dari Agama”

Habib Jindan: “Sanad Bagian dari Agama”

Syahdu Merindu Dalam Majelis Dzikir wa Maulidurrosul

Syahdu Merindu Dalam Majelis Dzikir wa Maulidurrosul

Pesan-Pesan Ning Nafisah di Selepas Kembalinya Santri ke Pondok

Pesan-Pesan Ning Nafisah di Selepas Kembalinya Santri ke Pondok

Pesan K.H Reza Ahmad Zahid Dalam Halal Bi Halal Yayasan Hm Al Mahrusiyah

Pesan K.H Reza Ahmad Zahid Dalam Halal Bi Halal Yayasan Hm Al Mahrusiyah