Kediri, Elmahrusy Media
(26/03), derasnya guyuran hujan Kota Solo tak mampu menyurutkan semangat para santri, alumni, hingga para wali santri untuk turut menghadiri acara Halal bi Halal (HBH) Istikmal Mataram. Acara yang berlangsung di Gedung Graha Universitas Raden Mas Said Solo ini dimulai pukul 12.00 WIB dan berjalan dengan penuh kehangatan serta kekhidmatan.
Sejak awal, suasana sudah terasa hidup dengan penampilan habsyi sebagai pembuka acara. Kehadiran dari Ibu Nyai Hj Zakiyatul Miskiyah Imam Al-Ishaqi, KH Reza Ahmad Zahid bersama sang istri Ning Hj Niswatul Arifah, serta Agus Ahmad Nasyiruddin Moenir bersama sang putri Afnan Miskiyah Al-Habsyi, semakin menambah meriahnya suasana dan menghangatkan atmosfer ruang acara.
Usai penampilan habsyi, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Maulana Cartens dan istighotsah yang dipimpin oleh Bapak M. Zakariya. Setelah itu, dilanjut dengan sambutan.
Sambutan disampaikan oleh KH Aminudin Ihsan, Lc.,M.A selaku tuan rumah. Dalam sambutannya beliau ngendikan, “ Alhamdulillah walau hujan lebat kita masih diparingi kesempatan kumpul dalam rangka silaturahmi dengan nama atau judul Halal bi Halal,” tutur pengasuh PPM Darussalam.
Beliau juga berharap pertemuan ini dapat membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, serta menjadi wasilah diampuninya dosa dan dilapangkannya rezeki. Seperti yang dikutip dari hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin dijembarkan rizkinya dan ditunda ajalnya atau diperpanjang umurnya. Maka sambunglah silaturahmi”
(H.R Imam Bukhori dan Muslim)
Berangkat dari hadits tersebut beliau menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai jalan keberkahan hidup.“Tidak ada pahala yang paling cepat masuk ‘rekening akhirat’ selain silaturahmi,” tegas beliau.
Memasuki inti acara, jamaah diajak mengikuti mahalul qiyam dan lantunan sholawat oleh tim habsyi, sebelum kemudian mendengarkan mauidhoh hasanah dari KH Reza Ahmad Zahid. Dalam mauidhohnya Gus Reza menjelaskan Ramadhan ini merupakan syahru siyam, Ramadhan ini adalah bulan puasa. Ada yang mengatakan juga, Ramadhan ini adalah syahru imtihan wa syahru iktibar atau bulan yang penuh dengan ujian. Sedangkan bulan Syawal ulama mengatakan ini adalah syahru jawaiz, hari kemenangan, hari untuk para pemenang.

“Semoga kita termasuk orang-orang yang lulus dari ujian Ramadhan dan di bulan Syawal ini diangkat menjadi golongan pemenang,” harap pengasuh PP HM Al-Mahrusiyah Asrama Al-Miskiy
Menariknya, Gus Reza juga membagikan perspektif unik tentang tradisi halal bi halal. Berdasarkan pengalaman beliau sebagai lulusan sarjana Tarim, tradisi ini tidak ditemukan di Timur Tengah. Hal ini karena di Timur Tengah, setelah sholat Id, masyarakat langsung kembali ke rumah dan bahkan melanjutkan puasa Syawal. Jadi, tidak ada acara berkumpul bersama apa lagi keliling ke rumah-rumah tetangga.
“Halal bi halal ini spesial, hanya ada di Indonesia,” jelas rektor Universitas Islam Tribakti
Beliau juga menyampaikan bahwa istilah halal bi halal ini pertama kali dicetuskan oleh KH Wahab Hasbullah atas permintaan Presiden Soekarno. Sejarahnya di mulai pada masa pasca proklamasi kemerdekaan. Kala itu Presiden Soekarno ingin mencari cara untuk mengumpulakan para tokoh-tokoh bangsa agar berkumpul dalam satu majlis.
Akhirnya beliau sowan kepada KH Wahab Hasbullah. Dan mendapatkan saran untuk membuat sebuah acara yang bertema halal bi halal. Dari acara tersebut, para tokoh-tokoh bangsa akhirnya bersatu. Dan halal bi halal menjadi cikal bakal tradisi yang terus lestari hingga kini.
Lebih lanjut, Gus Reza menekankan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah, khususnya ukhuwah ma’hadiyah (persaudaraan sesama alumni pesantren). Menurut beliau, lingkungan pertemanan yang baik akan menjaga seseorang dari pemahaman yang menyimpang.
“Kita harus mengedepankan persatuan, ukhuwah, lebih spesifik lagi ukhuwah ma’hadiyah,” tutur beliau.
Tak hanya itu, beliau juga memberikan pesan mendalam kepada para wali santri agar tidak terburu-buru memulangkan putra-putrinya dari pesantren sebelum benar-benar matang dalam menuntut ilmu.
Hal ini tak lain karena santri itu diibaratkan seperti burung dalam sangkar yang sedang dilatih. Jika dilepas sebelum siap, justru akan membahayakan dirinya sendiri dan tidak bisa bermanuver, segala yang ada di depannya akan ditabrak.
Begitupun santri, santri kalau belum cukup mondok terus keluar dari pondok pesantren itu akan membawa almamater pondok. Jadi, dikenal masyarakat sebagai seorang santri alumni pesantren. Akhirnya masyarakat menaruh kepercayaan. Jika belum matang pemahaman dan ilmunya maka akan membahayakan.
Maka dari itu Gus Reza berpesan, “Monggo putra-putrine didadekne wong seng temenan. Jangan tergesa-gesa terlebih dahulu diambil dari pondok pesantren. Kalo diambil tapi dilanjutkan ngajinya, dilanjutkan mondoknya, dan dilanjutkan sekolahnya,” pesan beliau kepada para wali santri dengan penuh perhatian.
Setelah rangkaian mauidhoh hasanah, acara ditutup dengan doa oleh Agus Ahmad Nasyiruddin Moenir. Kegiatan kemudian dipungkasi dengan sesi foto bersama dan mushofahah yang semakin mempererat tali silaturahmi.
Pada akhirnya di tengah guyuran hujan, acara Halal Bi Halal Istikmal Mataram ini justru menjadi momen hangat yang mempertemukan hati, memperkuat ukhuwah, dan mengingatkan kembali pentingnya menjaga silaturahmi antar sesama umat manusia.
Waallahu a’lam.