web analytics

Jejak Panjang di Balik Selembar Kertas

0 0
Read Time:6 Minute, 16 Second

Pagi hari yang cerah dengan suara burung berkicau melengkapi keindahan pada waktu itu. Daniel dengan semangat membara Bersiap untuk berangkat sekolah karena pada hari itu ada sebuah mata pelajaran yang sangata ia sukai yakni matematika.

Dengan persiapan matang dan do’a dari orang tua, ia berangkat dengan kendaraan kesayanganya yakni sekuter Listrik yang baru saja ia dapatkan dari ayahnya karena hari ulang tahun yang ke-17.

Selama disekolah, ia sibuk dengan mengulang pelajaran kesukaannya tersebut. Hingga tiba saatnya sejolinya tiba dengan wajah gembira dan sedikit jahil.

“Eh Dan. Kau tau ngga apa barang yang sering kita gunain setiap hari?” Tanyanya dengan sedikit mentoel-toel pinggangnya agar ia gagal fokus.

“ISH … Apa sih ganggu banget jadi orang.”

“Lhah … marah. Serius nih aku nanya.”

Dengan sedikit berat karena waktunya diganggu oleh sejoli jahilnya ini, akhirnya ia meladeninya.

Also Read: Sejarah THR

”OK, pertanyaanmu tadi apa?”

”Apa barang yang tiap hari dipakai sama manusia dari dulu sampai saat ini?”

Emm … Daniel berpikir keras

”Ayo cepet jawab!”

”Ya sabar kali.”

Dengan mengingat seta menerka hal yang dipertanyakan dan mulai menebak dengan berbagai jawaban mulai dari uang, kain, kayu, batu, bahkan dedaunan. Akan tetapi semua itu disalahkan oleh wildan. Hingga pada akhirnya  ia pun menyerah dan mulai bertanya jawabannya.

”Baiklah kalau  kau nyerah. Jawabannya adalah …” Dengan memanjangkannya, yang membuat Daniel kesal menunggunya.

“Udahlah langsung  aja jawabannya apa?”

”Ok, jawabannya adalah kertas.”

”Lhah? Kok kertas?”

”Ia, coba kamu pikirin seandainya kertas tak pernah ditemukan kita nulis dimana sekarang. Terus bawa catatan penting itu gimana sekarang.”

”Ia ya. Bener juga katamu.”

”Lhah … emang kamu tau darimana kalau kertas ditemukan zaman dahulu. Terus orang sebelum ada kertas nulisnya kan di batu lewat ukiran.”

”Nah setelah zaman primitif itu, para umat manusia zaman dahulu mulai mencari jalan alternatif dan ditemukanlah beberapa serat tipis seperti kulit hewan, kulit pohon, bambu ataupun lembaran kulit daun lontar.

Hingga pada abad ke- 2, tepatnya tahun 105 Masehi. Barulah para  umat manusia mulai mengenal kertas.”

”Berarti dulu kertas setipis sekaran udah ada ya wil?”

”Nah, ngga samapi itu aja. Kita kembali lagi pada zaman kuno terbesar di sejarah perkembangan manusia yakni peradaban Mesir kuno. Mereka pada tahun 2200 SM telah menyumbangkan suatu serat yang dinamakan dengan serat papyrus. Kemudian serat ini mennyebar keseluruh timur tengah hingga Romawi, bahkan sampai pada daratan Eropa pada saat itu.

Nah, dari hal inilah muncullah sebutan Paper disegala negara.”

“Tapi kok bisa jadi kayak gini wil?”

”Karena walaupun udah ada serat papyrus. Tetapi umat manusia jaman dahulu masih menggunakan bahan kulit hewan untuk menyampaikan pesan kepada sesama. Kamu tau ngga namanya?”

”Emm … yang namanya Perkamen itu ya. Yang ditemuin tahun 170 masehi itu kan.”

”Nah!! Itu dia bener.”

”Terus setelah jaman Perkamen itu ada yang nemuin lagi ngga sih. Aku agak lupa soalnya.”

”Ok, sebelum itu minta dulu jajanmu. He … He …”

Daniel memang terbiasa membawa makanan ringan untuk mengisi  perutnya sebelum atau pun setelah jam sekolah. Dengan perasaan penasaran yag kuat, akhirnya ia mengeluarkan jajannya untuk dijadikan teman ngobrolnya selama jam masuk sekolah belum tiba.

”Ok, lanjut. Setelah jaman perkamen itu ditemukan. Memang ada seorang tionghoa yang menemukan pengganti serat sutra dengan serat kulit kayu pohon murbei. Ia bernama T’sai Lun atau sebutan enaknya Cai Lun …”

KRINGG … KRINGG … KRINGG … Suara bel sekolah menengahi pembahasan mereka mengenai sejarah kertas. Hingga mereka pun kembali ke kelas masing-masing dan belajar dengan serius.

Daniel yang sedari tadi menyimak pembahasan dari wildan. Mengingat terus serta tak sabar menunggu kelanjutan dari sejarahnya.

Tibalah waktu istirahat tiba. Daniel yang sedang makan, masih dengan rasa penasaran dengan kelanjutan cerita dari Wildan mengenai sejarah kertas tersebut.

Dari kejauhan Wildan datang dengan wajah sedikit lesu karena ia habis dibantai dengan pelajaran yang paling ia tidak sukai, yakni Matematika. Karena melihat wajah Wildan yang sedang lesu, Daniel menunggu moodnya agar kembali seperti semula.

Wildan berjalan menuju kelas Daniel dengan menenteng kotak bekalnya agar ia bisa makan bersama dengan sejoli MTK-nya itu. Tibalah ia disamping Wildan dan tanpa berkata apapun ia langsung melahap makanannya hingga habis dan melanjutkan kisah sejarahnya.

“OK, kita  lanjut pembahasan kita mengenai kertas tadi.”

”Eh … Tunggu dulu, kau habis kena mapel MTK?”

”Hah … kok tau?”

”Lhah … kayak baru kenal 1 hari aja”

“Alah!! Udahlah itu malas aku. Mending lanjutin yang tadi aja.”

“Ok 👌”

“Tunggu … sampai mana tadi?”

“Sampai Cai Lun.”

“OK, Cai Lun ini hidup pada masa dinasti Han pada abad pertama hingga ke-2 M. Ia lahir di Guiyang yang sekarang berada di wilayah Provinsi Hunan. Awal dari penemuan ini adalah disebabkan karena kegigihannya dalam mencoba membuat kertas yang lebih ramah dikantong. Karena sebelumnya pada peradaban Cina. Mereka telah menemukan kertas tetapi berbahan sutra dan sangat langka serta susah.

Dengan berbagai pecobaannya ia akhirnya menemukan sebuah maha karya yang sekarang kita bisa rasakan bernama kertas. Dan dari hal inilah ia diberi gelar bangsawan oleh kaisa Ho Ti yang pada saat itu memerintah cina kuno.

Setelah penemuan tersebut serta waktu yanng lama akhirnya terjadilah penyebaran kertas pada abad ke 3 yang dimulai dari Jepang, Korea serta ke wilayah timur.”

”Tunggu dulu aku  masih ada jajan nih untuk nemenin ngobrol.”

”Mending Disimpen aja daripada …”

KRINGG … KRINGGG …. KRINGGG ….

Dan mereka pun berpisah sementara karena jam sekolah masuk telah berbunyi. Wildan kembali ke kelas dengan tenaga yang telah terkumpul dan begitu pula Daniel yang masih setia menunggu waktu jam pulang tiba.

KRINGGG … KRINGGG … KRINGGG …

Jam pulang punn tiba, Daniel  segera mengemasi barang-barangnya untuk pulang dan menunggu sejolinya untuk melanjutkan ceritanya. Dengan wajah yang sedikit lelah karena jam sekolah yang seolah mematikan. Akhirnya Daniel pergi keluar kelas, akan tetapi  ia mendapatkan Wildan sedang terburu untuk melanjutkan belajarnya di tempat les privatnya.

Karena mengetahui kesibukannya. Akhirnya ia mereka hanya bisa janjian untuk bertemu pada malam harinya setelah semua kegiatannya selesai.

Malam hari pun tiba. Daniel yang telah selesai mengerjakan semuaa tugasnya segera menghubungi Wildan untuk bertemu disebuah warung kopi.

Benar saja ternyata, Wildan telah disana semenjak ia pulang dari les privatnya. Dengan semangat yang masih membara untuk mendengar lanjutan kisahnya, akhirnya ia menyusulnya. Setiba di warung kopi, ia langsung memesan beberapa makanan dan minuman serta mencari temannya itu.

”Halo Wil (sambil menelponnya dari meja kasir). Kau dimana?”

”OH, udah datang ya. Aku dimeja paling ujung.”

Sambil melihat sekitar, akhirnya Wildan memberi kode dengan lambaian tangan. Segera ia berjalan mendekat dan menghampirinya.

“Eh Wil, dah lama disini?”

“Ya, lumayan lah”

“Ngerjain apa kau?”
“Biasa tugas double.”

“OO … Eh ini Lho makanan.” Sambil menyodorkan makanan yang ia pesan sebelumnya.

”OK.” Dengan tangan sigap ia mengambilnya.

Dengan sedikit obrolan pemmbuka, sampailah Wildan untuk melanjutkan ceritanya..

”Lanjut, pada abad ke  7, terjadi penyebaran media tulis dan transfer teknologi pembuatan kertas. Mulai dari Jepang, Nepal dan India telah mengenalnya. Kemudian di abad 8, daerah arab juga mulai mengenal pembuatan kertas.

Barulah pada abad ke 12, daerah benua Eropa mulai mengenal teknologi ini. Mulai dari Spanyol, Prancis, Itali, Jerman dan Swiss. Kemudian pada abad ke 16-17 Amerika memiliki teknologi untuk membuat kertas sendiri. Dari siutulah seluruh dunia mulai mengenal kertas yang kita gunakan saat ini.”

”Oo … Panjang juga ya wil prosesnya. Padahal cuman selembar tipis gini aja Lho.” Sambil mengangkat struk pembelian yang diberi oleh kasir.

”Ia Dan, sangat panjang. Tapi dari kisah pannjang ini ada satu hal yang bisa kita pelajari yakni dibalik keberhasilan penyebaran kertas saat ini ada orang yang rela mengorbankan waktunya agar umat manusia saat ini tak perlu bersusah payah belajar dan melakukan kegiatan tulis menulis.”

”Oo …” Sambil mengangguk mengerti dengan kalimat yang diucapakan oleh temannya itu.

Setelah pembahasan sejarah kertas selesai. Mereka melanjutkannya dengan bermain game kesukaan mereka serta bersendau gurau samapi akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing untuk mempersiapkan tenaga di esok hari.

Wallahu ’Alam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Sejarah Halal Bi Halal

Sejarah Halal Bi Halal

Sejarah THR

Sejarah THR

Biografi Imam Nawawi: Ulama Besar Penulis Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in

Biografi Imam Nawawi: Ulama Besar Penulis Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Anggraeni yang Harus Mati

Anggraeni yang Harus Mati

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri