web analytics

Anggraeni yang Harus Mati

0 0
Read Time:7 Minute, 7 Second

“Hai Panji kenapa kau tampak tidak bahagia?” Raja Jenggala masih mencari alasan di sudut mata Panji Asmoro Bangun yang gundah gulana. Dalam benaknya Panji harus menerima takdir, namun ia punya pilihan. Melawan orang tua juga tidak mau dijadikannya pilihan hidup. Melawan perasaan juga dapat melukai diri sendiri.

“Seharusnya Kau bahagia wahai putraku. Mendapatkan seorang putri dari kerajaan Kediri yang jelita putri Raja Panjalu itu.” Telisik demi telisik masih saja dilontarkan Raja pada Putranya. Mencari cara supaya putra yang gagah itu memancarkan kebahagiaan.

Panji pun hanya diam dan memilih meninggalkan kerajaan dengan lesu lengkap cemberut wajah yang susah hilang itu. Di dalam hati Panji masih memuji seorang wanita. Langkah kakinya mengarah pada alamat yang selalu diingat dan menetap dalam benak. Kenangan indah yang terukir bersama berdua. Dari kejauhan melambai sudah kecantikannya. Panji siap melangkah dengan jutaan bahagia menatap kecintaannya.

“Di mana dirimu wahai Dewi.” Rekah senyum berubah bingung. Taman yang biasa memandangi mereka berdua bermanja kini lengang. Alang-alang seperti ikut cenung seakan tak rela sejoli itu saling menjauh. “Di situ Kau rupanya Dewiku yang jelita.” Terduduk murung di ujung bukit yang tak jauh dari tempat mereka biasa bermain.

“Ada gerangan Dewi, kenapa Kau begini?”

“Kau masih bertanya mengapa Aku begini, Panji? Percuma selama ini kita berdua, percuma kau rayu Aku. Setelah Aku mendengar kabar kalau Kau meminang Dewi Sekartaji. Siapa yang tak patah hati? Siapa pula yang mau dimadu? Dan kau masih bertanya Aku kenapa. Kau jahat, Panji.”

Wajah Panji yang tadinya bahagia kini larut dalam derita. Amukan wanita di depannya membuat bisu dan kaku. Harus berkata apa seorang Panji setelah ini. Rompal sudah hati seorang wanita olehnya. Dengan gagap dan penuh keraguan rapal kata Panji coba keluarkan dari balik bibirnya yang gemetar.

“Bukan keinginanku berbuat seperti itu, Dewi. Semua hajat kerajaan yang seperti tidak mungkin untuk ditolak. Sebuah takdir harus Aku jalani, Dewi Anggraeni.”

Mendengar penjelasan Panji Asmoro Bangun, Dewi Anggraeni memilih untuk menangis sambil berlari meninggalkan Panji yang penuh kecewa. Patah hati dewi sudah tak dapat ditutupi mekaran kenangan yang selama ini terajut rapi hilang sirna seketika. Harapan yang sudah terbangun sedemikian indah kini tinggal puing-puing kepedihan.

Panji tak kalah patah hatinya. Takdir macam apa pula yang menimpa sampai-sampai Dewi Anggraeni yang dicinta harus direlakan demi hajat kerajaan yang mengawinkannya dengan Dewi Sekartaji. Dalam diam pupus harapan tak ingin rasanya Panji menginjakkan kakinya lagi ke istana. Tak sudi memandang wajah-wajah orang kerajaan. Kebahagiaannya direnggut paksa Raja Jenggala telah sepakat dengan Raja Panjalu untuk mengawinkan Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Sekartaji. Demi kejayaan kerajaan dan keberlangsungan kekuasaan. Cinta Panji pada Anggraeni pun digadaikan.

Hilangnya Panji Asmoro Bangun dari istana membuat seisi kerajaan bingung bukan kepalang. Kabar hilangnya Panji dari istana pun terdengar sampai ke telinga Dewi Sekartaji.

“Benarkah Panji cinta padaku, Ayah.” Adunya pada Raja Panjalu yang makin pusing melihat tingkah putrinya. Makin hari makin cemberut meragukan cinta Panji Padanya.

“ Tenanglah wahai Putriku, tidakkah engkau melihat berbondong rombongan yang datang dari Jenggala menghampirimu kala itu? Panji yang Kau cinta pun turut hadir meminangmu.” Redam Raja Panjalu sebisa seorang Ayah membujuk anak perempuannya.

“Jika Panji memang cinta, lalu mengapa sampai saat ini entah di mana ia sekarang?” Beribu alasan membuat keraguan Dewi Sekartaji berkobar. Tanpa kabar pasti dari Panji Asmoro.

“Mungkin Panji hanya sedang ingin menyendiri untuk menenangkan harinya. Wahai Putriku percayalah pada Ayahmu ini.” Dewi Sekartaji hanya membalas dengan wajah yang kusut.

Di tengah huru-hara perasaan yang jauh dari kata tenang dan kabar Panji yang juga masih menjadi tanda tanya. Datanglah tamu tak diundang yang membuat makin rancu. “Di manakah engkau Dewi Sekartaji yang jelita, cintaku yang besar ini akan membawamu pada kebahagiaan. Tidak ada yang layak bersanding denganmu selain diriku yang gagah berani lagi tampan ini. Siapa di negeri ini yang tidak mengenal namaku, Klana Swandana.”

Dewi Sekartaji pun dengan muak menemui Klana Swandana. “Kau bukan Panji! Kau tidak akan pernah setampan dan segagah Panji, ingatlah kalau cintaku hanya intuk Panji bukan pada yang lain. Termasuk dirimu.” Meski penolakan yang diterimanya Klana masih bersikeras ingin meminang Dewi Sekartaji keras kepalanya dalam mencintai tak perlu diragukan. Namun sungguh sayang tidak bersahut takdir. Raja Panjalu yang mendengar kegaduhan mencoba mengakali cinta Klana agar tak sampai menggagalkan rencananya untuk menjodohkan Dewi Sekartaji pada Panji Asmoro Bangun. “Baiklah jika Kau sangat mencintai putriku, Wahai Klana. Apakah kau menyanggupi tantangan dariku?”

“Sebutkan saja Raja Panjalu. Akan kuturuti segala tantangan yang berikan padaku. Demi cintaku pada putrimu Dewi Sekartaji hanya cantiknya yang bisa membuat hatiku bergetar kecintaan.”

“Baiklah bila Kau menyanggupinya, Klana. Akanku sediakan bejana besar dan isilah bejana itu dengan seluruh hartamu. Jika kau memang bisa pinanglah putriku.” Akal Raja Panjalu tak sampai di situ. Dengan liciknya, Raja Panjalu sengaja membuat lubang di tengah bejana dan meletakkan di atas sungai yang alirannya sampai ke Kerajaan Kediri dan menjadi miliknya.

“Semua akan kulakukan demi cintaku ini.” Klana segera kembali ke Kerajaan Bantarangin dan dengan segera memerintahkan seisi istana untuk menghimpun seluruh hartanya demi memenuhi bejana Raja Panjalu. Demi cinta yang sudah terlanjur besar tak ada alasan untuk tidak menghabiskan hartanya. Segala usaha dikerahkan Klana.

Patih Darumaya diam-diam memikirkan usaha mempertemukan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Asmoro yang tak kunjung kembali ke istana. Tercetus di kepalanya dengan menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginan Raja Panjalu. Diadukannya pada pandita kerajaan Jenggala.

“Hadapku padamu Pandita, Aku sungguh gusar pada huru-hara yang sedang terjadi di istana, Wahai Pandita. Keinginanku hanya supaya kehendak Raja Panjalu dapat terjadi. Jika memang Dewi Anggraeni adalah benalu dalam hubungan Panji Asmara dengan Dewi Sekartaji, maka harus segera dimusnahkan.”

“Sungguh keji rencanamu, Wahai Patih. Tidaklah sebanding sebuah cinta berbalas nyawa.”

“Ini ada titah dan segala yang menghalangi titah harus diluluh lantakkan. Bila engkau tidak menyetujuinya, maka termasuk penghalang terhadap titah Raja. Bisa saja Kau turut serta sebagai penghalang dan Aku sebagai patih siap untuk turut memusnahkanmu.”

“Bukan itu maksudku, Wahai Patih. Maka, bila ini memang demi titah raja dan tidak ada cara selain ini. Tidak ada pilihan lain selain sejalan denganmu. Akan turut kututup mulutku.”

Berangkatlah Sang Patih dan Pandita mencari Dewi Anggraeni sampai pelosok wilayah kerajaan Panjalu. Kebengisan tak dapat ditolak. Ajal pun menghampiri Dewi Anggraeni melalui Sang Patih dan Pandita. Nyawa menjadi taruhan perjodohan Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Sekartaji. Dewi Anggraeni yang cintanya terluka malah dijadikan tumbal kerajaan demi melancarkan titah Raja yang memaksakan putranya demi kekuasaan semata.

Setelah Dewi Anggraeni meregang nyawa. Kabar kematian pun dirangkai bahwa Dewi Anggraeni ditemukan terlalu patah hati pada Panji Asmoro hingga meregang nyawanya sendiri. Kehampaan membuatnya putus asa dan memilih ajal sebagai jalan pintas berdamai dengan keadaan yang tidak pernah mendukungnya. Kabar itu segera menyebar ke seluruh penjuru Jenggala. Kuping Panji Asmoro pun tak luput mendengar kabar kematian Dewi Anggraeni. Panji segera kembali ke kerajaan untuk memastikan kabar bahwa Dewi Anggraeni telah dijemput ke akhirat. Didengarnya pula kalau Patih dan Pandita adalah saksi kunci penemuan mayat Dewi Anggraeni. Tangisnya dibalas sedih pula oleh Patih dan Pandita. Dengan pandai mereka berdua menutupinya dari Panji yang akhirnya kembali ke kerajaan. Kegembiraan menyelimuti hati seisi istana dari balik kesedihan yang telah direncanakan dengan sangat rapi. Demi menghalangi ambisi Klana yang sedang berjuang untuk memenuhi tantangan Raja Panjalu padanya.

“Sudah kuserahkan seluruh hartaku demi mengisi bejanamu. Namun mengapa tidak pernah bisa penuh? Kau apa kan bejanamu, Wahai Raja Panjalu.” Klana yang mulai bingung memenuhi tantangan mulai memelas dan meminta Raja Panjalu memberinya sedikit kasih untuk memberikan restu padanya.

“Wahai Klana, bila memang Kau tidak dapat memenuhi tantanganku. Tidak perlu Kau menanyakan apa yang Aku perintahkan. Alasan apalagi yang akan Kau gaduhkan, Wahai Klana. Tidak perlu Kau cari alasan lagi, hartamu telah habis dan menyerah menjadi satu-satunya pilihanmu saat ini.” Dengan angkuh Raja Panjalu memandang sebelah mata perjuangan Klana demi cintanya pada Dewi Sekartaji.

“Tidak akan diriku pasrah dengan keadaan ini, Wahai Raja Panjalu. Bila memang Aku tidak dapat meminang putrimu Dewi Sekartaji. Maka hanya ada satu cara. Akanku luluh lantakkan kerajaanmu beserta dirimu agar dirimu tidak dapat lagi menghalangi cinta pada Dewi Sekartaji yang jelita.” Klana mengamuk di Kerajaan Panjalu. Hampir semua roboh tak keruan. Namun sebelum Klana sempat meratakan kerajaan dengan tanah. Raja Panjalu yang sebenarnya baru saja menyelesaikan pertapaan sambil menunggu Klana memenuhi bejana tantangannya berubah bentuk menjadi harimau. Klana yang semula tanpa lawan harus rela menelan kekalahan dengan kesaktian baru Raja Panjalu yang dibawanya dari hasil pertapaan. Namun terlanjur sudah kerajaan hancur lebur hingga nestapa masih berlanjut.

Panji Asmoro beserta sang ayah Raja Jenggala tidak kuasa menahan rasa iba pada kerajaan Panjalu. Diikhlaskan rasa cinta Panji Asmoro pada Dewi Anggraeni. Rela pula ia menerima titah sang ayah untuk mempersunting Dewi Sekartaji. Dengan penuh kasih sayang Panji Asmoro mencintai Dewi Sekartaji.

About Post Author

Abidzar Maulana

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Peristiwa 1 Januari Sebagai Simpul Sejarah Nasional Hingga Internasional

Mengenal Peristiwa 1 Januari Sebagai Simpul Sejarah Nasional Hingga Internasional

14 Desember: Hari Ketika Indonesia Merebut Kembali Narasinya

14 Desember: Hari Ketika Indonesia Merebut Kembali Narasinya

Lembu Suro dan Ramalan Jayabaya: Misteri dari Kediri

Lembu Suro dan Ramalan Jayabaya: Misteri dari Kediri

Perjalanan Panjang HAM: Dari Teori Hak Kodrati hingga Reformasi Indonesia

Perjalanan Panjang HAM: Dari Teori Hak Kodrati hingga Reformasi Indonesia