web analytics

Apakah Niat Kita Telah Ideal dan Ikhlas di Tengah Kompleksitas

0 0
Read Time:4 Minute, 29 Second

Melanjutkan kajian terhadap kitab Ta’lim Muta’allim, dalam menuntut ilmu tentu diperlukan niat. Oleh karena itu, dalam Ta’lim Muta’allim, pembahasan niat tidak sekadar pembuka, tetapi fondasi ontologis seluruh aktivitas belajar. Syekh Zarnuji secara tegas menyatakan,

إِنَّمَا يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَنْوِيَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ رِضَا اللَّهِ تَعَالَى وَالدَّارَ الآخِرَةَ

“Seorang penuntut ilmu seharusnya meniatkan dalam mencari ilmu itu untuk ridho Allah dan negeri akhirat.”

Pernyataan ini menempatkan ilmu bukan sebagai alat dunia, tetapi guna menempuh jalan yang jauh melampaui batas pengalaman manusia, fisik, atau keduniawian (akhirat). Namun di sinilah muncul sebuah masalah, Syekh Zarnuji seolah mengandaikan bahwa niat manusia bisa diarahkan secara tunggal menuju Allah semata. Padahal, jika kita jujur secara psikologis, niat manusia hampir selalu berlapis.

Bahkan dalam hadis yang menjadi dasar utama konsep ini, Nabi bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”

Hadist ini sering dipahami sebagai niat baik dalam melakukan sesuatu. Namun jika kita telaah lebih dalam, beliau justru membuka kompleksitas, karena jika amal tergantung niat, dan niat itu sendiri tidak pernah sepenuhnya jernih, maka nilai amal pun berada dalam wilayah yang memaksa manusia untuk tetap rendah hati dan terus memurnikan motifnya.

Syekh Zarnuji melanjutkan dengan peringatan keras,

وَلا يَنْوِيَ بِهِ إِقْبَالَ النَّاسِ عَلَيْهِ وَلَا طَلَبَ الْجَاهِ

“Jangan sampai ia meniatkan ilmu untuk menarik perhatian manusia atau mencari kedudukan.”

Apakah keinginan untuk dihormati selalu salah? Dalam struktur sosial, penghormatan sering menjadi konsekuensi alami dari ilmu. Bahkan dalam banyak kasus, struktur sosial menjadi motivasi awal seseorang untuk belajar. Jika kita menolak seluruh motivasi sosial, kita berisiko menciptakan standar yang tidak manusiawi. Namun jika kita menerima semuanya tanpa kritik, maka ilmu kehilangan arah moralnya.

Oleh karena itu, nilai moral berperan sangat penting dalam situasi dan kondisi seperti ini guna menyaring motivasi sosial dan memastikan bahwa tindakan yang dilakukan tidak hanya menguntungkan diri sendiri tetapi juga menghormati orang lain dan menjaga keharmonisan sesama.

Al-Qur’an sendiri memberikan tekanan pada keikhlasan,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan Ikhlas.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Meski umumnya manusia tentu sulit menanamkan sebuah keikhlasan dalam segala perbuatan, ayat tersebut menjelaskan bahwa Ikhlas bukan sekadar anjuran, tetapi perintah. Menariknya, Syekh Zarnuji tidaklah naif. Beliau tidak hanya menekankan niat, tetapi juga tujuan sosial dari ilmu,

وَيَنْوِيَ إِحْيَاءَ الدِّينِ وَإِبْقَاءَ الإِسْلاَمِ

“Dan hendaknya ia meniatkan untuk menghidupkan agama dan menjaga Islam.”

Di sini muncul pandangan baru bahwa ilmu tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk keberlangsungan masyarakat. Ini penting, karena menunjukkan bahwa orientasi ilmu tidak sepenuhnya individual. Bagaimana jika seseorang benar-benar ingin keluar dari kemiskinan melalui ilmu? Apakah itu bertentangan dengan keikhlasan? Dalam hadis lain disebutkan,

“Barang siapa menuntut ilmu untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga.”

Hadist ini sering dikutip secara absolut. Tetapi jika dipahami secara literal tanpa konteks, hadits tersebut berpotensi meniadakan kebutuhan dasar manusia. Tentu! Dunia tidak selalu identik dengan keburukan, dunia pun bisa menjadi sarana ibadah jika ditempatkan dengan benar. Karena apabila kita mencoba memahami Syekh Zarnuji secara lebih halus, beliau tidak mengkritik “memiliki tujuan dunia”, tetapi “menjadikan dunia sebagai tujuan utama”.

Sayangnya, logical fallacy secara umum terhadap batas dari tujuan dan konsekuensi dapat menjadi masalah. Banyak orang yang mengklaim belajar karena Allah, tetapi seluruh energi dan strateginya diarahkan pada pencapaian duniawi.

Konsep niat tidak bisa diverifikasi karena berada di wilayah batin yang tidak dapat diukur. Oleh karena itu, niat sangat rentan menjadi alat pembenaran diri. Orang bisa saja merasa ikhlas, padahal sebenarnya sedang mengejar ego dalam bentuk yang lebih halus.

Namun justru di situlah nilai konsep ini. Karena tidak bisa diukur oleh orang lain, niat menjadi ruang kejujuran paling personal. Ia memaksa individu untuk berdialog dengan dirinya sendiri tanpa topeng sosial.

Al-Qur’an memberikan gambaran menarik tentang orientasi ini:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ

“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanya karena mengharap ridho Allah.” (QS. Al-Insan: 9)

Ayat ini menunjukkan bentuk ideal amal melampaui kepentingan pribadi. Namun lagi-lagi, ini adalah batas pandangan, bukan titik awal.

Dalam konteks santri modern, problem ini menjadi semakin kompleks. Sistem pendidikan hari ini menuntut hasil konkret, seperti nilai, ijazah, bahkan keterampilan kerja. Jika seorang santri hanya berpegang pada idealisme niat tanpa mempertimbangkan realitas ini, ia bisa tertinggal. Tetapi jika ia sepenuhnya mengikuti logika dunia, ia kehilangan ruh keilmuan yang diajarkan dalam tradisi klasik.

Oleh karena itu, melihat niat sebagai proses yang terus bergerak dan senantiasa memperbarui niat adalah salah satu cara yang paling masuk akal bagi manusia pada umumnya. Cara ini lebih sesuai dengan realitas manusia sekaligus tetap menjaga nilai moral. Meski begitu, cara ini harus senantiasa dijaga, bukan malah menjadi alasan untuk menunda keikhlasan dan menjadi pembenaran tanpa akhir.

Dengan demikian, Syekh Zarnuji tidak melihat bahwa manusia bisa sepenuhnya ikhlas, tetapi melihat pada dorongan untuk terus mempertanyakan orientasi hidupnya.

Wallahu a’lam.

 

 

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ilmu Apa yang Wajib Dicari?

Ilmu Apa yang Wajib Dicari?

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Golongan Yang Wajib Membayar Fidyah Puasa

Golongan Yang Wajib Membayar Fidyah Puasa

Kitab Al-Adzkar  Warisan Agung Imam An-Nawawi Dalam Tradisi Dzikir Islam

Kitab Al-Adzkar Warisan Agung Imam An-Nawawi Dalam Tradisi Dzikir Islam

Rukun-Rukun Sholat, Kitab Kasyifatus Saja

Rukun-Rukun Sholat, Kitab Kasyifatus Saja

Ngaji Syama’il Part 25, Cara Duduk Rasulullah SAW

Ngaji Syama’il Part 25, Cara Duduk Rasulullah SAW