Sholat bentuk penghambaan. Butuh penghayatan mendalam guna menyelami hikmah yang Allah simpan bagi setiap insan. Bilamana setiap gerakan hanya penggugur kewajiban maka tidak perlu kau sujudkan cukup senam sampai badan sehat umur panjang. Allah rangkai semua tata cara berupa hukum syariat bagi pemeluk Islam. Masihkah kau buta? Maka mari belajar bersama. Setidaknya, ada tujuh belas rukun tertera dalam ritual spiritual yang lima kali kau kerjakan setiap matahari pergi kerja sampai pulang ke pelukan malam.
Sunah melafadzkan, sebab ucap mulut menopang hati agar tidak sempoyongan. Tampak hatimu dari mulut yang menutur syahdu. Wajib menggandeng niat pada takbiratul ihram, sebermula sholat ialah keduanya tanpa mendua atau bahkan saling menghianati. Ulama membagi empat bagaimana niat membersamai takbiratul ihram;
1) المقارنة الحقيقية
Yaitu memulai bacaan niat dalam hati yang sama persis dengan memulai takbir.
2) استحضار حقيقيا
Maka istihdlor hakiki menjadi satu kesatuan bersama muqaranatul hakikiah. Medikte hati pada titimangsa sintasan dzat sholat.
3) المقارنة عرفية
Yaitu memulai bacaan niat dalam hati yang tidak perlu selaras persis membersamai takbir. Dengan catatan keduanya masih dinilai bersama dan membersamai.
4) استحضر عرفيا
Maka istihdlor urfi bagai bersamamu tapi tak memilikimu. Memang kataku, katamu, dan kata yang lain, kita bersama namun memilikimu secara utuh bak kemustahilan bagiku. Yang mana niat dan takbir tetap bersama meski entah bagaimana caranya.
Imam Nawawi dalam kitab Majmu’nya, Imam Haramain dan Imam Ghozali mendawuhkan penuh sopan kalau muqoranatul urfiah sudah mencukupkan niat membersamai takbir. Artinya, qoshdu(menyengaja) bukan termasuk dzatnya rukuk. Sebab muqoranatul hakikiah pelik diraba entitasnya dengan panca indra awam macam kepunyaan penulis.
Gerbang pengharaman pada apa-apa yang dihalalkan ketika sholat tak dilaksanakan. Takbir rupa sebuah sebab buat musabab, seperti makan dan bicara. Jika makan menuntut mengunyah dan menelan lalu kenyang dan bicara menuntut pendengar. Maka, sholat menuntut takbir tuk memulai sebagai pembuka rukun-rukun fi’li lain. Lafadznya sederhana cukup allahu akbar saja, meski tak apa menambahkan yang tidak mencegah ismut takbir contohnya menambahkan salah satu sifat Allah dari sekian banyak sifat Allah.
Jangan pula kau tambahkan lafadz yang menyelai selain sifatNya, seperti kalimat dhomir dan nida’ jadilah nanti lafadz allahi huwa akbar, allahu ya rahman, ya rahimu akbar, allahu ya akbar yang terucap dari lisan yang gagap membaca makna di dalamnya.
Dengan tegap sampai tulang rusuk yang isinya sendi semua lurus semampai. Kepala pun dibuatnya tidak bergerak karena tegap sudah badan musholi. Namun kesempurnaan berdiri tegap, hanya sebuah kesunahan sholat bukan kewajiban.
Sebermula kesunahan wajib berdiri dari dawuh Nabi Muhammad pada Imran bin Hushain yang terkena penyakit wasir;
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Sholatlah kamu dengan berdiri, bila tak mampu maka sholatlah dengan berduduk, jika masih tak mampu maka lakukanlah sholat dengan berbaring”
(HR. Imam Bukhari)
Melafadzkan yang sudah dihafalkan atau juga bisa dengan membaca Al-Qur’an. Juga tak apa memakai lampu saat dalam kegelapan. Diwajibkan pada tiap-tiap rakaat sholat baik sirriyah maupun jahriyah. Ketika sholat berjamaah juga berlaku membaca fatihah pada imam, ma’mum apalagi sholat munfarid atau sendirian. Dalam hadits nabi sabdakan;
لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Surat al-Fatihah.”
(Shahih Bukhari, Hadits Nomor 714)
Bilamana musholi tak mampu membaca alfatihah dalam sholatnya maka baca apa pun yang tertera dalam Al-Qur’an meski pun bukan satu kesatuan surah ayat-ayatnya. Jika masih tak mampu pula lisan mengucap Qur’an maka baca saja dzikir rupa, subhanallah, wal hamdulillah, wa lailahaillah, wa allahu akbar, wa la quata illa billah. Ditambah masyaallahu kana. Juga ma lam yasya’allahu lam yakun. Genap sudah dzikir tujuh bagian yang dijadikan pendapat oleh ulama.
Sepaling minimal rukuk ialah saat telapak tangan berhasil menggapai lutut dengan yakin. Tidak terhitung bila yang menggapai hanya jari jemari.
Dengan setidaknya tubuh menetap pada gerakan ruku’ dan dapat membedakan antara berdiri dan bungkuk untuk ruku”.
Lanjut Part 2.