Madrasah Diniyah HM Almahrusiyah III menggelar acara yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya, yakni Ceremony Muhafadhoh Akhirussanah, acara ini bertempat di Aula KH Imam Yahya Mahrus, pada senin malam (18/05/26).
Seluruh siswa yang telah melaksanakan muhafadhoh gelombang pertama yakni kelas 5, 6 Ibtidaiyah dan seluruh tingkatan Tsanawiyah, dengan antusias menunggu para siswa yang melaksanakan muhafadhoh gelombang kedua yakni kelas 4 Ibtidaiyah dan seluruh tingkatan Aliyah.
Tepat di jam sepuluh kurang seperempat, seluruh siswa berkumpul di Aula, suara merdu Sholawat tim Habsyi menemani para siswa sembari menunggu acara dimulai.
Acara ini dihadiri oleh kepala Madrasah Diniyah, yakni Agus Nabil Aly Utsman, KH Reza Ahmad Zahid, juga seluruh bapak Mustahiq Madrasah Diniyah.
Acara dimulai dengan sambutan panitia Ujian Semester Genap. Kemudian dilanjut sambutan atas nama Kepala Madrasah, yakni Agus Nabil Aly Utsman.
Beliau menyampaikan bahwa Muhafadhoh atau menghafalkan ilmu atau juga menghafalkan Nadhoman, adalah sebuah gerbang menuju Ilmu yang akan kita dapatkan, yang mana ketika kita menghafalkan ataupun hafal ilmu yang kita pelajari ataupun materi yang kita pelajari, insya allah akan sangat-sangat mudah untuk kita memahaminya, dimana hal ini adalah bentuk tata krama kita menuntut ilmu.
Beliau juga menambahkan bahwa, seseorang ketika menuntut ilmu harus terpenuhi tiga faktor:
pertama: Orang tuanya harus sungguh-sungguh. Yakni harus ikhlas dan juga ridho serta tidak pelit ketika sang anak meminta biaya kebutuhan seperti buku, kitab atau pun alat untuk belajar lainnya.
kedua: Gurunya juga harus sungguh-sungguh. Yakni, kita harus memilih guru yang benar-benar jelas akan sanad keilmuannya, juga guru harus ikhlas menghadapi para murid-muridnya.
Ketiga: Muridnya pun harus bersungguh-sungguh. Artinya, seorang murid harus memiliki niat dan juga semangat yang tinggi dalam proses menuntut ilmu, salah satunya adalah dengan bersemangat dalam menghafal.
Maka dari itu ketika seseorang mondok, ketiga faktor ini harus terpenuhi, terutama faktor yang ketiga, yakni seorang murid atau santri harus benar-benar memiliki niat dan juga mengikuti tata cara mencari ilmu, salah satunya adalah menghafal. Yang mana kemudian menghafal yakni kemudian muhafadhoh ini dijadikan adat oleh Pesantren Liboyo dan juga Pesantren Al Mahrusiyah, dimana ini adalah salah satu tata cara untuk kita menuntut ilmu.
“Karena dengan menghafal ilmu yang kita pelajari, Insya Allah kita akan sangat-sangat mudah untuk memahami suatu ilmu, karena menghafal adalah tatacaranya menuntut ilmu” tegas Gus Nabil
Acara kemudian dilanjut dengan penyerahan penghargaan kepada seluruh siswa teladan dari tiap-tiap kelas Madrasah Diniyah, serta pemberian penghargaan kepada peserta Festival Alfiyah 1002 bait, dimana festival ini diikuti oleh kelas 2 Aliyah.
Setelah penyerahan penghargaan selesai, kemudian dilanjut dengan pembacaan presentase Muhafadhoh Akhirussanah, Sorak sorai para siswa memeriahkan seisi Aula ditiap-tiap pembacaan presentase.
dimana momen ini tentu yang paling ditunggu-tunggu para siswa. Pembacaan dimulai dari presentase kelas 4 Ibtidaiyah sampai kelas 3 Aliyah.
Setelah presentase selesai dibacakan, kemudian yang terakhir Mauidhotul Hasanah, yang disampaikan oleh KH Reza Ahmad Zahid.
Dalam kesempatan Mauidhohnya beliau menyampaikan kepada para siswa bahwa lembar demi lembar nadhom yang kalian bolak-balikan, juga yang kalian hafalkan, yakinlah, semoga menjadi amal sholeh untuk kalian. Juga kepada para siswa yang belum mendapatkan nilai jayyid, semoga ini menjadi cambuk agar kalian bisa menjadi semangat kembali untuk menjadi lebih baik.
Beliau kemudian menyampaikan bahwa
“مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ”
Barang siapa yang harinya itu lebih baik dari pada hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung.
Jadilah kalian para santri-santri untuk menjadi orang yang bersemangat untuk mendapat keberuntungan, dengan cara, hari ini harus lebih baik dengan hari kemarin.
Jangan menjadi yang kedua. yakni:
“وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ”
Barang siapa yang harinya itu sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang rugi.
Terlebih menjadi orang yang ketiga, Naudzubillah, yakni:
“وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ”
Barang siapa yang harinya itu lebih buruk dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang celaka.
Maka momentum Muhafadhoh pada malam hari ini tentu menjadi satu cambukan bagi kita untuk berusaha menjadi lebih baik. Tidak ada salahnya kita mencontoh teman-teman yang sukses pada malam hari ini, tapi tentu jangan sebaliknya, yakni meniru orang-orang yang kebetulan masih belum beruntung.
“حذ ما صفا وترك ما كدر”
“Ambil kebaikan yang ada disekitar kita, hilangkanlah kejelekan yang kita temukan”
Ini adalah satu prinsip yang harus kita tanamkan didalam hati kita, ketika kita bermu’asyarah bersama-sama, harus menjadi orang yang bijak memilih mana yang baik dan mana yang jelek, yang baik kita tiru yang jelek kita tinggalkan.
“Semangat untuk kalian semuanya, semangat dalam bertholabul ilmi. Insya Allah semangat kalian akan menjadi sayap kalian untuk menggapai harapan dan cita-cita kalian, semakin tinggi semangat yang kalian miliki, maka semakin tinggi pula kesempatan kalian untuk bisa mendapatkan harapan yang kalian inginkan, semakin tinggi semangat yang kalian miliki, semakin besar juga potensi kalian untuk menggapai cita-cita kalian. Harapannya, apa yang telah kalian pelajari, akan menjadi ilmu yang bermanfaat” tutup Gus Reza
Kemudian Doa dipanjatkan seketika oleh beliau sekaligus menutup acara Muhafadhoh Akhirussanah.
Wallahu A’lam