Setiap awal Mei, dua momentum penting datang hampir bersamaan: Hari Buruh Internasional dan Hari Pendidikan Nasional. Keduanya seolah berdiri di dua kutub yang berbeda, namun sejatinya saling terkait erat. Buruh berbicara tentang kerja, produksi, dan keringat. Pendidikan berbicara tentang ilmu, kesadaran, dan masa depan. Pertanyaannya: apakah pendidikan benar-benar hadir untuk membebaskan kaum buruh, atau justru ikut melanggengkan ketimpangan yang mereka alami?
Di tengah gegap gempita peringatan Hari Buruh, kita sering mendengar tuntutan klasik: kenaikan upah, jaminan kerja, perlindungan sosial. Namun jarang sekali pendidikan ditempatkan sebagai bagian utama dari perjuangan tersebut. Padahal, pendidikan adalah alat paling mendasar untuk mengubah posisi tawar buruh—dari sekadar tenaga kerja menjadi subjek yang sadar, kritis, dan berdaya.
Ironisnya, sistem pendidikan kita masih cenderung mencetak buruh, bukan membebaskan mereka. Sekolah dan perguruan tinggi sering kali diposisikan sebagai pabrik tenaga kerja: menghasilkan lulusan yang “siap pakai” bagi industri, tetapi minim kemampuan untuk mempertanyakan sistem yang mereka masuki. Kurikulum dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan pasar, bukan untuk membangun kesadaran sosial. Akibatnya, pendidikan kehilangan ruhnya sebagai alat emansipasi.
Bagi banyak keluarga buruh, pendidikan masih menjadi kemewahan yang mahal. Biaya sekolah, seragam, buku, hingga transportasi menjadi beban yang tidak ringan. Meskipun pemerintah mengklaim pendidikan dasar gratis, realitas di lapangan sering berkata lain. Ada biaya tersembunyi, ada tekanan sosial, ada ketimpangan kualitas antara sekolah kota dan desa. Anak-anak buruh kerap harus menghadapi pilihan pahit: melanjutkan sekolah atau membantu ekonomi keluarga.
Di titik ini, pendidikan tidak lagi menjadi hak, melainkan privilege. Mereka yang lahir dari keluarga berada memiliki akses lebih besar terhadap pendidikan berkualitas, sementara anak-anak buruh harus berjuang lebih keras hanya untuk bertahan. Ketimpangan ini menciptakan lingkaran setan: buruh melahirkan buruh, kemiskinan melahirkan kemiskinan.
Namun persoalan tidak berhenti pada akses. Bahkan ketika kaum buruh berhasil mengenyam pendidikan, pertanyaan berikutnya adalah: pendidikan seperti apa yang mereka terima? Apakah pendidikan tersebut membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis? Apakah mereka diajarkan tentang hak-hak mereka sebagai pekerja? Ataukah mereka hanya dilatih untuk patuh, disiplin, dan tidak banyak bertanya?
Realitasnya, pendidikan kita masih minim muatan kesadaran kelas. Sejarah gerakan buruh jarang dibahas secara mendalam. Hak-hak pekerja sering hanya menjadi catatan kecil dalam pelajaran kewarganegaraan. Diskursus tentang keadilan sosial sering kalah oleh narasi kompetisi dan individualisme. Dalam sistem seperti ini, buruh tidak hanya dieksploitasi secara ekonomi, tetapi juga diredam secara intelektual.
Keresahan ini semakin terasa di era modern, ketika fleksibilitas kerja dijadikan dalih untuk mengaburkan hak-hak buruh. Gig economy, outsourcing, dan kontrak jangka pendek menjadi norma baru. Banyak pekerja muda—yang notabene lebih terdidik—justru terjebak dalam ketidakpastian kerja. Mereka memiliki gelar, tetapi tidak memiliki jaminan masa depan. Mereka terdidik, tetapi tetap rentan.
Di sinilah kita perlu mempertanyakan kembali arah pendidikan nasional. Apakah pendidikan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri? Ataukah ia seharusnya menjadi alat untuk membangun masyarakat yang adil dan setara? Jika pendidikan hanya menjadi pelayan pasar, maka ia akan terus menghasilkan buruh yang terampil tetapi tidak berdaya.
Sebaliknya, pendidikan yang berpihak pada kaum buruh harus berani mengambil posisi. Ia harus mengajarkan literasi kritis, bukan sekadar hafalan. Ia harus membuka ruang dialog, bukan hanya ceramah satu arah. Ia harus mendorong siswa untuk memahami realitas sosial, termasuk ketimpangan yang ada di dalamnya. Pendidikan semacam ini tidak hanya mencetak pekerja, tetapi juga warga negara yang sadar akan hak dan tanggung jawabnya.
Lebih jauh, pendidikan untuk kaum buruh juga harus hadir dalam bentuk pendidikan sepanjang hayat. Banyak buruh yang sudah terlanjur masuk ke dunia kerja tanpa sempat mengenyam pendidikan tinggi. Mereka tetap berhak untuk belajar, berkembang, dan meningkatkan kualitas hidup. Program pelatihan, kursus, dan pendidikan nonformal harus diperluas dan dipermudah aksesnya. Negara dan perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan ruang tersebut.
Namun, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Negara harus memastikan kebijakan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Dunia usaha harus berhenti melihat buruh semata sebagai alat produksi. Serikat pekerja harus mulai memasukkan isu pendidikan sebagai bagian dari agenda perjuangan. Dan masyarakat luas harus menyadari bahwa pendidikan bukan hanya urusan individu, tetapi juga persoalan struktural.
Peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah pendidikan kita sudah benar-benar memerdekakan? Ataukah ia masih menjadi alat reproduksi ketimpangan?
Jika kita serius ingin membangun masa depan yang lebih adil, maka pendidikan untuk kaum buruh tidak bisa lagi dipinggirkan. Ia harus menjadi prioritas, bukan pelengkap. Ia harus menjadi ruang pembebasan, bukan sekadar pelatihan. Karena pada akhirnya, buruh yang terdidik dan sadar adalah fondasi bagi masyarakat yang demokratis dan berkeadilan.
Tanpa itu, kita hanya akan terus merayakan Hari Buruh dengan tuntutan yang sama setiap tahun—tanpa pernah menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya.