Hari Kartini sering diidentikan dengan perayaan seremonial dan busana adat. Namun, jika kita melihat lebih jauh ke jalanan, pasar, dan pemukiman warga, kita akan menemukan esensi perjuangan R.A Kartini yang jauh lebih nyata. Sosok tersebut hadir dalam diri lady yakult, ibu-ibu tangguh yang setiap hari bergelut dengan aspal dan cuaca demi kemandirian ekonomi keluarga.
Kartini dahulu memimpikan agar perempuan tidak hanya diam, tetapi memiliki fungsi dan peran bagi mayarakat. Para pekerja lapangan ini telah mewujudkan mimpi terseebut. Mereka bukan lagi sekedar pelengkap dalam struktur ekonomi, melainkan montor penggerak. Dengan seragam khasnya, mereka menembus batas-batas domestik, membuktikan bahwa ketahanan fisik dan kecerdasan sosial dalam memasarkan produk adalah keahlian yang patut dihormati.
Namun, menyambung semngat kartini ke keadaan saat ini berarti juga berani melihat permasalahan yang menyertainya, beberapa diantaranya:
Perjuangan para ibu ini adalah bentuk literasi ekonomi yang nyata. Mereka belajar menejemen waktu, komunikasi, hingga pengolaan keuangan secara otodidak di lapangan. Jika dulu “gelap” bagi kartini adalah keterbelakangan pendidikan, maka “gelap” bagi perempuan saat ini adalah ketergantungan finansial dan kerentanan ekonomi.
Dengan menggayuh sepeda atau mengendarai montor di tengah teriknya panas matahari, mereka sebenarnya sedang menjemput “terang” untuk masa depan anak-anak mereka. Mereka memastikan bahwa generasu berikutnya memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik-sebuah cita-cita mulia yang selalu diagungkan oleh Kartini.
Refleksi hari Kartini tahun ini mengajak kita untuk lebih menghargai setiap tetes keringat perempuan yang bekerja di sektor lapangan. Ketangguhan mereka adalah bukti bahwa api semangat kartini tidak pernah padam; ia hanya berganti rupa dari surat-surat di atas kertas menjadi putaran roda di atas jalanan.