web analytics

Refleksi Hari Kartini: Menilik Ketangguhan Ekonomi Perempuan di Sektor Lapangan

0 0
Read Time:1 Minute, 49 Second

Hari Kartini sering diidentikan dengan perayaan seremonial dan busana adat.  Namun, jika kita melihat lebih jauh ke jalanan, pasar, dan pemukiman warga, kita akan menemukan esensi perjuangan R.A Kartini yang jauh lebih nyata. Sosok tersebut hadir dalam diri lady yakult, ibu-ibu tangguh yang setiap hari bergelut dengan aspal dan cuaca demi kemandirian ekonomi keluarga.

Kartini dahulu memimpikan agar perempuan tidak hanya diam, tetapi memiliki fungsi dan peran bagi mayarakat. Para pekerja lapangan ini telah mewujudkan mimpi terseebut. Mereka bukan lagi sekedar pelengkap dalam struktur ekonomi, melainkan montor penggerak. Dengan seragam khasnya, mereka menembus batas-batas domestik, membuktikan bahwa ketahanan fisik dan kecerdasan sosial dalam memasarkan produk adalah keahlian yang patut dihormati.

Namun, menyambung semngat kartini ke keadaan saat ini berarti juga berani melihat permasalahan yang menyertainya, beberapa diantaranya:

  • Dilema peran ganda: ditengah tuntutan ekonomi yang sangat tinggi, ibu-ibu ini sering kali menjalankan “dua shift” kerja. Shift pertama di jalanan untuk mencari nafkah, dan shift ke dua di rumah untuk mengurus rumah tangga. Tantangan saat ini bukan lagi soal akses bekerja, melainkan soal keseimbangan beban tanggung jawab yang sering kali belum merata,
  • Keamanan dan kesejahteraan: bekerja di sektor lapangan memiliki resiko yang tinggi, mulai dari polusi udara yang berdampak pada kesehatan dan keselamatan lalu lintas. Di era ini, perlindungan terhadap pekerja perempuan di sektor informal dan lapangan menjadi isu krusial yang harus terus diperjuangkan, sebagaimana kartini memperjuangkan hak-hak dasar kaumnya.

Perjuangan para ibu ini adalah bentuk literasi ekonomi yang nyata. Mereka belajar menejemen waktu, komunikasi, hingga pengolaan keuangan secara otodidak di lapangan. Jika dulu “gelap” bagi kartini adalah keterbelakangan pendidikan, maka “gelap” bagi perempuan saat ini adalah ketergantungan finansial dan kerentanan ekonomi.

Dengan menggayuh sepeda atau mengendarai montor di tengah teriknya panas matahari, mereka sebenarnya sedang menjemput “terang” untuk masa depan anak-anak mereka. Mereka memastikan bahwa generasu berikutnya memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik-sebuah cita-cita mulia yang selalu diagungkan oleh Kartini.

Refleksi hari Kartini tahun ini mengajak kita untuk lebih menghargai setiap tetes keringat perempuan yang bekerja di sektor lapangan. Ketangguhan mereka adalah bukti bahwa api semangat kartini tidak pernah padam; ia hanya berganti rupa dari surat-surat di atas kertas menjadi putaran roda di atas jalanan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Also Read: Pola Asuh

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Transformasi Budaya Membaca di Era Digitalisasi

Pola Asuh

Pola Asuh

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok

Pentingnya Support Orang Tua Pada Anak di Pondok

Mengenal Tujuan Maqosid As Syari’ah

Mengenal Tujuan Maqosid As Syari’ah

Ayah… Ibu… Hapus Air Matamu

Ayah… Ibu… Hapus Air Matamu

Apa Kita Boleh Cengeng Dalam Membaca?

Apa Kita Boleh Cengeng Dalam Membaca?