web analytics

Al-Quran, Antara Keindahan dan Keluasannya

0 0
Read Time:3 Minute, 52 Second

Hampir 1416 tahun yang lalu seorang utusan mendapatkan wahyu pertamanya, wahyu tersebut diturunkan di Gua yang sering dijadikan Kaum Quraisy bertafakur tentang hakikat kehidupan, gua itu sering disebut Gua Hira. Wahyu tersebut diterima dan disebarkan secara bertahap, dan beberapa tahun kemudian kumpulan wahyu tersebut dinamakan Al-Quran. Al-Quran adalah kitab yang sedari dulu telah dijadikan pedoman hidup bagi umat muslim, hal ini karena Al-Quran selalu relate terhadap apa yang ada dari zaman ke zaman.

Al-Quran sendiri adalah mukjizat yang diberikan Allah SWT. pada Nabi Muhammad SAW., melalui perantara malaikat Jibril. Al-Quran juga termasuk salah satu dari keempat kitab suci Allah, antara lain Taurat, Zabur dan Injil. Al-Quran diturunkan tidak secara instan sempurna, melainkan turun secara bertahap, hampir 23 tahun atau lebih tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari ayat per ayat Al-Quran diturunkan. Dan turun pertama kali di Gua Hira yang bertepatan dengan 17 Ramadhan, walaupun dalam penentuan Dalam proses ini, Nabi Muhammad telah melalui beberapa bentuk cara menerima wahyu tersebut,

  1. Wahyu disampaikan oleh Malaikat Jibril dalam rupa seorang manusia, dan disampaikan selayaknya orang yang sedang bercakap-cakap. Kadang pula Malaikat Jibril datang dengan menyerupai sahabat nabi yang paling rupawan, yakni Sahabat Dihyah Al-Kalbi.
  2. Wahyu datang dengan suara menyerupai suara lonceng, proses ini adalah proses penerimaan wahyu yang paling berat bagi Rasulullah SAW. Bahkan diceritakan bila wahyu datang dengan suara lonceng, Rasulullah SAW. akan berkeringat walau wahyu diturunkan di musim dingin, kadangkala beliau juga sampai merasakan sesak nafas karena menerima wahyu tersebut.
  3. Wahyu datang dan langsung masuk dalam hati Rasulullah SAW. Dalam hal ini beliau akan langsung tahu dan langsung memahami tentang wahyu yang baru saja masuk ke dalam lubuk hati Rasulullah SAW.

Meski Malaikat Jibril juga menyampaikan wahyu dengan datang dan menyerupai seorang pria atau sahabat beliau, Malaikat Jibril juga pernah datang dalam rupa aslinya.

Al-Quran adalah mukjizat terbesar yang dianugrahkan pada Rasulullah, mengapa bisa begitu? Karena Al-Quran bukanlah berisi pujian pada Allah semata tapi juga berisi tentang beberapa ilmu, mulai dari akidah, akhlak, astronomi, sains, hukum keluarga, sejarah dan syariat. Bahkan dikatakan dalam mendalami Al-Quran tidak hanya cukup melalui terjemahan saja, namun juga harus beserta tafsirnya. Menurut Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Ithqan fi Ulum Al-Quran terdapat 80 cabang ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran, berbeda lagi dengan T.M Hasbi Ash-Shiddieqy yang menyebutkan jika Al-Quran memiliki 17 cabang dalam Ulumul Al-Quran.

Mukjizat terbesar ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk dapat menjadi salah satu bukti kenabian, dan untuk mengungguli hal yang sedang diramaikan dimasa itu, yakni syair. Di zaman tersebut banyak sekali orang-orang fasih yang berlomba-lomba menggubah syair, sampai-sampai barangsiapa yang syairnya paling indah maka ia akan dianggap sebagai orang yang terhormat. Al-Quran diturunkan dengan bahasa sastra yang melampaui kemampuan manusia, karena itulah mengapa Rasulullah SAW. juga diberikan mukjizat berupa ummi, yakni tidak bisa membaca dan menulis agar menjadi bukti bahwa Al-Quran murni Kalam Allah, dan Nabi Muhammad SAW. adalah seorang yang bertugas menyampaikannya.

Al-Quran juga memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab yang lain, salah satunya adalah Al-Quran adalah kitab yang keasliannya dijaga langsung Allah SWT. Terbukti hingga kini tak ada yang mampu menandingi keindahan tata bahasa Al-Quran atau hanya sekedar merubah sedikit susunannya. Beberapa ayat Al-Quran juga dapat dijadikan penyembuh dibeberapa penyakit, karena itupula kitab satu ini memiliki banyak sebutan termasuk dengan Asy-Syifa.

Al-Quran merupakan penyempurna dari kitab-kitab Allah SWT. hal ini juga dijelaskan dalam penggalan ayat 48 Surah Al-Maidah yang berbunyi :

“Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya). Maka, putuskanlah (perkara) mereka menurut aturan yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan (meninggalkan) kebenaran yang telah datang kepadamu……”

Dalam Al-Quran juga menceritakan kisah-kisah terdahulu agar dapat menjadi pelajaran bagi yang membacanya, setiap ayat Al-Quran tidak ada yang tidak memiliki makna tersurat maupun tersirat. Terbukti dengan banyaknya karya-karya tafsir Al-Quran dari para Ulama terdahulu maupun sekarang. Bahkan sekelas Ilmuwan pun turut mempelajari Al-Quran karena kaya akan ilmu pengetahuan.

Awalnya Al-Quran langsung disampaikan dan dihafalkan oleh para sahabat, beberapa juga menulis di lembaran-lembaran, namun karena banyaknya para Hafidz yang gugur dalam perang di zaman Khalifah Abu Bakar, maka dengan usulan Umar bin Khattab dibuatlah tim penghimpun ayat Al-Quran dan kodifikasi Al-Quran dalam satu mushaf, tim ini diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dan dilanjutkan dengan pembukuan dan penyeragaman bacaan Al-Quran pada masa Khalifah Utsman bin Affan atas usulan dari Hudzaifah bin Yaman untuk menghindari perpecahan karena adanya perbedaan dialek.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Izinkan Santri Lusuh Ini Memeluk Pesantrennya

Izinkan Santri Lusuh Ini Memeluk Pesantrennya

Kata Siapa Pink Warna Perempuan?

Kata Siapa Pink Warna Perempuan?

Ngaji Salalimul Fudhola: Membedah Sifat Ghoflah di Balik Tradisi Bukber!

Ngaji Salalimul Fudhola: Membedah Sifat Ghoflah di Balik Tradisi Bukber!

9 Wasiat Penghambaan Diri Dalam Kitab Salalimul Fudhola

9 Wasiat Penghambaan Diri Dalam Kitab Salalimul Fudhola

 Rokok Membatalkan Puasa, Kok Bisa?

 Rokok Membatalkan Puasa, Kok Bisa?

Golongan Yang Wajib Membayar Fidyah Puasa

Golongan Yang Wajib Membayar Fidyah Puasa