web analytics

Sesaset Sepi yang Kita Seduh Sendiri

0 0
Read Time:2 Minute, 28 Second

Gemerlap berisik yang kita dengar, lihat dan rasakan, di dunia yang penuh dengan hiruk pikuk aktivitas, ekspektasi sosial dan gemuruh dunia maya, menarik diri mungkin dipilih sebagai opsi untuk sejenak kita beristirahat atau sebagai bagian dari bentuk kasih sayang terhadap ujung tombak mental.

Ditengah itu semua, sebagian dari kita dengan kesadaran penuh memilih untuk menyeduh sesaset sepi untuk diseruput secara perlahan.

Akan tetapi semua sebab tentu berujung pada akibat, entah itu menguntungkan atau malah merugikan. Dimana awalnya menarik diri (solitude) dianggap sebagai sebuah selfcare atau pelarian yang menenangkan, justru berubah menjadi kerisauan yang menyiksakan, mungkin karena sepi yang dirasa sehat memiliki batas yang sangat tipis dengan kesepian yang merusak.

Meskipun manusia atau kita sengaja menciptakan sepi sebagai perlindungan dari kebisingan, tanpa kontrol emosi yang tepat, sepi instan ini justru menjadi momok yang sangat menakutkan dan menjerumuskan kita kedalam lubang kekosongan eksistensial dan gangguan psikologi.

Hal ini tentu bisa saja terjadi karena ketidaksiapan mental kita dalam menghadapi diri sendiri. Sebab ketika suara-suara berisik dari luar diri kita tak lagi terdengar, justru momen ini menjadikan suara dikepala terdengar berkali-kali lipat kerasnya. Bisa jadi trauma masa lalu, kecemasan masa depan, dan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang selama ini tidak terdengar ketika kita tenggelam dalam kesibukan.

Tentu kita melewatkan satu hal yang pasti, yakni kita mungkin bisa saja menarik diri untuk lari dari dunia, tetapi kita tidak akan pernah bisa lari dari diri kita sendiri. Akibatnya, otak yang mengalami efek “sakau” yang disebabkan dari hilangnya stimulasi sosial secara drastis ini mulai memproduksi distorsi kognitif. Singkatnya kita menjadi lebih percaya kepada kebohongan atau hal-hal buruk didalam pikiran kita sendiri, sehingga kita melihat realitas secara salah dan jauh lebih buruk dari kenyataan sebenarnya. Akibatnya kita mulai merasa tidak diinginkan, terasing, dan perlahan tenggelam dalam depresi serta kecemasan akut.

Lantas solusinya bagaimana?

Agar kita tidak terus-menerus tenggelam didalam kolam api ini, kita harus mengolah dan mengubah bagaimana cara kita mengonsumsi sepi. Solusinya bukan dengan menghilangkan kesendirian, tapi mengubah kesepian yang pasif menjadi kesendirian yang produktif. Ruang yang sudah terlalu lama menyepi itu harus diisi bukan dibiarkan kosong.

Kita pun bisa mengisinya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif seperti membaca, menulis atau melakukan meditasi untuk lebih menenangkan jiwa, atau bisa dengan melakukan refleksi yang jujur terhadap diri sendiri, sebagai upaya lebih mengenal diri dan juga mampu berdamai dengan sesuatu yang buruk atau trauma yang terjadi dimasa lalu.

Disamping itu isi juga dengan kegiatan yang mengaitkan orang lain, atau dalam arti melakukan kembali hubungan sosial yang mengedepankan kuantitas, seperti klub buku atau kelompok positif lainnya, tidak perlu sampai berinteraksi kembali dengan kebisingan massal palsu yang tidak perlu, tetapi merawat satu atau dua hubungan sosial yang mendalam dan bermakna.

Untuk mengemas kesemuanya menjadi lebih sempurna kita bisa menjinakkan sepi ini dengan cara lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta serta lebih menerima dan mencintai seluruh takdir dengan suka cita, tak lupa juga perlu sedikit ditaburi dengan bumbu syukur agar kita benar-benar bisa menikmati sesaset sepi yang kita seduh sendiri.

Wallahu A’lam

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
el mahrusy id

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Terlena Untung, Terkejut Kerugian

Terlena Untung, Terkejut Kerugian

Lahir Tanpa Darah dari Daerah

Lahir Tanpa Darah dari Daerah

Siklus yang Tak Pernah Putus

Siklus yang Tak Pernah Putus

Selamat Hari Dinosaurus!

Selamat Hari Dinosaurus!

Hari-Hari Bersama Buku

Hari-Hari Bersama Buku

Buku Itu Kita

Buku Itu Kita