web analytics

Buku Itu Kita

0 0
Read Time:4 Minute, 55 Second

Di dunia yang bergerak terlalu cepat, buku tetap menjadi benda yang paling sabar menunggu manusia. Ia tidak memanggil dengan notifikasi, tidak berteriak dengan suara algoritma, dan tidak meminta perhatian secara paksa. Buku hanya diam di rak: berdebu, menua, menguning. Namun justru dari diam itulah lahir romantisasi yang melankolis: bahwa pengetahuan terbaik sering kali datang dari sesuatu yang tidak tergesa-gesa.

Ada alasan mengapa banyak orang mencintai buku bukan hanya sebagai bacaan, tetapi juga sebagai benda emosional. Buku adalah artefak perasaan. Ia bisa menjadi hadiah paling intim, hiasan paling personal, bahkan peninggalan paling abadi dari seseorang. Ketika seseorang memberikan buku, sesungguhnya ia tidak sekadar memberi kertas dan tinta, melainkan memberi isi kepalanya. Memberi buku adalah bentuk lain dari berkata, “Aku ingin kau memahami dunia sebagaimana aku memahaminya.”

Umberto Eco pernah berkata, “Books are not made to be believed, but to be subjected to inquiry.” Buku bukan alat untuk menerima dunia secara mentah, melainkan medium untuk menanyai kehidupan. Di sinilah letak nilai romantiknya: membaca membuat manusia tidak hanya hidup, tetapi juga merenungi hidupnya sendiri.

Ada sesuatu yang sendu dari perpustakaan pribadi. Tumpukan buku yang belum selesai dibaca, halaman-halaman yang dilipat, catatan kecil di pinggir paragraf, aroma kertas tua; semuanya seperti rekaman diam dari perjalanan mental seseorang. Rak buku sering kali lebih jujur daripada media sosial. Dari sana terlihat ketakutan, ambisi, kesepian, dan rasa ingin tahu pemiliknya. Sebab manusia membaca bukan hanya untuk mengetahui, melainkan juga untuk merasa ditemani.

Mungkin itu sebabnya Jorge Luis Borges mengatakan, “I have always imagined that Paradise will be a kind of library.” Surga, dalam imajinasinya, adalah perpustakaan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat melankolis. Perpustakaan adalah tempat manusia berbicara dengan orang-orang yang bahkan sudah mati ratusan tahun lalu. Saat membaca Dostoevsky, kita sedang berbincang dengan kegelisahan abad ke-19. Saat membaca Nietzsche, kita sedang mendengar seseorang bertengkar dengan moralitas dari masa lampau. Buku membuat kematian menjadi tidak sepenuhnya berhasil membungkam manusia.

Namun di luar romantisasinya, membaca tetap merupakan salah satu metode belajar paling kuat yang pernah dimiliki umat manusia. Banyak orang modern menganggap belajar cukup dilakukan lewat video singkat, podcast, atau potongan konten digital. Memang media audiovisual lebih cepat dan praktis, tetapi membaca memiliki kedalaman yang sulit digantikan.

Ketika menonton video, informasi bergerak mengikuti tempo pembicara. Tetapi ketika membaca, manusia mengendalikan ritmenya sendiri. Ia bisa berhenti, berpikir, mengulang, menandai, lalu merenung. Membaca menuntut partisipasi mental aktif. Otak tidak hanya menerima gambar dan suara, tetapi membangun imajinasi dari nol. Karena itulah membaca melatih konsentrasi, nalar, dan refleksi secara lebih mendalam dibanding metode pasif lainnya.

Neil Postman pernah mengkritik budaya visual modern dengan mengatakan bahwa masyarakat perlahan berubah dari “budaya berpikir” menjadi “budaya menonton”. Dalam budaya menonton, manusia mudah terhibur tetapi sulit mendalami. Sementara membaca memaksa seseorang tinggal lebih lama bersama sebuah ide. Dan semua ide besar membutuhkan kesabaran.

Tokoh-tokoh besar sejarah hampir selalu memiliki hubungan obsesif dengan membaca. Napoleon Bonaparte membawa perpustakaan kecil ke medan perang. Karl Marx menghabiskan bertahun-tahun di perpustakaan British Museum hingga kesehatannya memburuk. Soekarno membaca begitu rakus selama masa pengasingannya hingga buku menjadi bahan bakar ideologinya. Bahkan Malcolm X, saat dipenjara, menyalin kamus kata demi kata agar dapat memahami bahasa dan memperluas pikirannya.

Kisah paling terkenal mungkin datang dari Abraham Lincoln. Ia lahir dalam kemiskinan ekstrem dan nyaris tidak memiliki akses pendidikan formal. Namun ia membaca apa pun yang bisa didapatkan: kitab hukum, Alkitab, Shakespeare, hingga buku matematika. Ia membaca di bawah cahaya lilin, meminjam buku dari tetangga, dan berjalan jauh hanya demi mendapatkan bahan bacaan. Dari seorang anak desa yang miskin, ia menjelma menjadi presiden yang pidatonya dianggap salah satu karya retorika terbesar dalam sejarah Amerika.

Ada pula kisah Theodore Roosevelt yang mampu membaca satu buku per hari bahkan saat menjabat presiden. Ia membaca sebelum sarapan, di sela rapat, hingga larut malam. Bagi Roosevelt, membaca bukan hobi, melainkan kebutuhan biologis. Tokoh-tokoh seperti ini menunjukkan bahwa kegilaan membaca sering kali berkorelasi dengan keluasan cara berpikir.

Ironisnya, di zaman modern justru membaca panjang menjadi aktivitas yang semakin langka. Manusia lebih akrab dengan ringkasan daripada kedalaman. Banyak orang ingin “tahu cepat” tetapi tidak ingin “mengerti perlahan”. Padahal pemahaman sejati hampir selalu lahir dari proses yang lambat.

Membaca juga memiliki dimensi spiritual yang tidak dimiliki media lain. Ada kesunyian ketika seseorang membaca sendirian di malam hari. Suara halaman dibalik, secangkir kopi yang mulai dingin, hujan di luar jendela, semuanya menciptakan ruang kontemplatif yang intim. Dalam momen seperti itu, buku menjadi semacam cermin batin. Kadang kita membaca satu kalimat lalu terdiam beberapa menit karena merasa sedang dibongkar habis-habisan oleh penulisnya.

Franz Kafka pernah berkata, “A book must be the axe for the frozen sea within us.” Buku harus menjadi kapak yang memecahkan lautan beku di dalam diri manusia. Kutipan ini menjelaskan bahwa membaca bukan aktivitas steril. Ia bisa melukai, mengguncang, bahkan mengubah hidup seseorang. Banyak manusia menemukan arah hidup, keberanian, atau justru kehancuran emosional melalui buku.

Di sisi lain, buku sebagai hiasan juga menyimpan simbol sosial dan psikologis yang unik. Rumah tanpa buku sering terasa seperti ruang tanpa memori intelektual. Bahkan orang yang jarang membaca pun sering merasa perlu memiliki rak buku. Ada wibawa tertentu dari deretan buku yang memenuhi dinding. Seolah-olah manusia ingin mengatakan bahwa hidupnya pernah bersentuhan dengan gagasan-gagasan besar.

Tetapi sebenarnya nilai buku bukan pada tampilannya, melainkan pada jejak yang ditinggalkannya dalam pikiran manusia. Buku yang paling berharga sering kali bukan edisi mahal, melainkan buku penuh coretan dan lipatan. Buku yang usang justru menunjukkan bahwa ia pernah hidup bersama seseorang.

Pada akhirnya, romantisasi buku lahir karena manusia diam-diam takut menjadi dangkal. Di tengah dunia yang serba cepat, membaca adalah bentuk perlawanan yang tenang. Ia melatih manusia untuk sabar, berpikir, dan merasa lebih dalam. Buku mengajarkan bahwa tidak semua hal harus segera selesai, segera dipahami, atau segera dilupakan.

Dan mungkin benar: manusia tidak hanya membutuhkan informasi untuk hidup. Manusia membutuhkan makna. Sementara buku, dengan seluruh aroma tua dan kesunyiannya, tetap menjadi salah satu tempat paling setia untuk mencarinya.

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Hari-Hari Bersama Buku

Hari-Hari Bersama Buku

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!