web analytics

Nasib Pendidikan, Buruh, dan Santri Sepuh

0 0
Read Time:2 Minute, 3 Second

Ada rasa haru sekaligus prihatin di setiap memasuki awal bulan Mei. Hari Buruh di tanggal 1, dan Hari Pendidikan Nasional di tanggal 2. Secara kasat mata, sangat amat berdampingan dekat dan lekat. Namun dalam realitanya, terdapat timpang dan jomplang yang kian pelik dan mencekik.

Secara tidak langsung hal ini tentu menciptakan 2 golongan besar yang berpendirian dan saling terkait: buruh berorientasi pekerja dan bekerja, sedangkan pendidikan esensinya ya pembelajar dan belajar.

Bukan tidak bisa, namun rasanya sulit untuk menggabungkan keduanya menjadi satu kepaduan tujuan. Karena memang, kedunya membutuhkan pengorbanan waktu dan fokus yang penuh.

Hingga pada akhirnya, hal itu mengantarkan kita pada jembatan-jembatan dilema:

“Sebenarnya, belajar untuk bekerja atau bekerja untuk belajar?”

Tidak sedikit orang yang bersungguh-sungguh dalam belajar hanya agar bisa mudah mendapatkan pekerjaan, atau malah bekerja keras hanya untuk membiayai belajar.

Ya itulah masalahnya, di negara ini yang gratis itu malah makan siangnya, bukan pendidikannya. Pendidikan yang asasi malah terkesampingkan oleh makan siang yang ekstravagansi.

Pendidikan saat ini seperti privilege. Tidak semua orang merasakan pendidikan yang merdeka, bebas, dan merata. Atau setidaknya mencapai tujuan sebagaimana yang disampaikan Tan Malaka:

“Pendidikan bertujuan untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan.”

Otoritatif nasib kauh buruh dan masyarakat menengah ke bawah yang tidak begitu mujur perihal pendidikan karena banyak faktor yang mempengaruhi seperti finansial, waktu, relevansi, dan diskriminasi serta stigma, membuat mereka kian terasing dari kebutuhan asasi berupa pendidikan yang berdampak pada realita nasib yang berputar tanpa ujung dan stagnan tanpa perubahan.

Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas mengatatakan:

“Pendidikan sejati adalah praksis: refleksi dan aksi manusia atas dunia.”

Bahwa, pendidikan bukan hanya soal pemahaman, tapi juga tindakan: usaha penerapan apa yang sudah dipahami.

Lalu, pertanyaannya, sudah sejauh mana masyarakat kita memahami? Atau malah baru mulai membaca? Atau mulai mengeja? Mengenal huruf?

Belajar dan bekerja adalah dua hal yang umumnya tidak dilakukan secara langsung dan bersamaan oleh siapa pun; keduanya lebih efektif dijalani dengan fokus dan keseriusan, satu per satu secara penuh.

Tapi hal ini tak jarang juga dialami oleh santri dalam fase-fase dilema yang krusial: antara mencari ilmu dan mencari uang, antara belajar dan bekerja.

Fase ini bisanya dialami oleh santri senior, sepuh, mereka yang sudah lama mendiami pondok. Sampai satu di antara alasan yang lain, ia harus boyong, bermasyarakat lebih cepat, meninggalkan sepenuhnya kehidupan pondok pesantren dengan pelajaran yang usai.

Hal apa yang lebih utama dan sikap apa yang harus diambil antara mencari ilmu dan mencari uang bagi santri sepuh tersebut?

 

 

 

 

About Post Author

Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
Esai

Penulis Baik Hati, Tidak Sombong, dan Rajin Menabung*

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Pendidikan untuk Kaum Buruh: Antara Janji Emansipasi dan Kenyataan Eksploitasi

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!

Refleksi Hari Kartini: Menilik Ketangguhan Ekonomi Perempuan di Sektor Lapangan

Refleksi Hari Kartini: Menilik Ketangguhan Ekonomi Perempuan di Sektor Lapangan

Izinkan Santri Lusuh Ini Memeluk Pesantrennya

Izinkan Santri Lusuh Ini Memeluk Pesantrennya