web analytics

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

0 0
Read Time:3 Minute, 3 Second

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam di dunia. Di dalamnya terdapat kisah-kisah umat terdahulu, syariat, serta hukum-hukum agama. Dalam memegangnya pun kita harus memerhatikannya dengan saksama. Hal ini disebabkan oleh adanya penghormatan terhadapnya karena kesucian dan kemuliaan kalam yang ada di dalamnya.

Adapun dalam berinteraksi dengannya, para ulama terdahulu telah memberikan tata cara dan beberapa anjuran dalam berbagai kitab mereka. Seperti yang dilakukan oleh Imam Nawawi dalam kitab Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an.

Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan beberapa adab serta sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
Isinya tertera dalam beberapa bab yang akan kami sebutkan.

  1. Keutamaan membaca dan mengkaji Al-Qur’an
  2. Kelebihan orang yang membaca Al-Qur’an
  3. Menghormati golongan penghafal Al-Qur’an
  4. Panduan Belajar dan Mengajar Al-Qur’an
  5. Panduan Menghafal Al-Qur’an
  6. Adab dan Etika Membaca Al-Qur’an
  7. Adab Berinteraksi dengan Al-Qur’an
  8. Ayat dan surat yang diutamakan membacanya pada waktu-waktu tertentu
  9. Riwayat Penulisan Mushaf Al-Qur’an

Akan tetapi dalam garis besarnya, kitab ini menjelaskan tentang:

  1. Keutamaan bagi orang yang mempelajari, menghafal, dan membacanya.
  2. Adab membaca Al-Qur’an. Seperti yang ia sebutkan dalam salah satu tulisannya adalah:

١– ‍فتكره القراءة في حالة الركوع والسجود والتشهد وغيرها من أحوال الصلاة سوى القيام
٢ – وتكره القراءة بما زاد على الفاتحة للمأموم في الصلاة الجهرية اذا سمع قراءة الامام
٣ – وتكره حالة القعود على الخلاء
٤ – وفي حالة النعاس
٥ – وكذا إذا استعجم عليه القرآن
٦ – وكذا في حالة الخطبة لمن يسمعها

Artinya: “Makruh membaca Al-Qur’an dalam keadaan rukuk, sujud, tasyahud, dan keadaan shalat lainnya selain berdiri. Makruh membaca lebih dari Al-Fatihah bagi makmum dalam shalat jahr ketika ia mendengar bacaan imam. Makruh membacanya saat duduk di tempat buang hajat, dalam keadaan mengantuk, ketika mengalami kesulitan dalam membaca, serta saat mendengarkan khutbah.”

  1. Adab bagi seorang pengajar dan seorang murid. Dalam kitab ini disebutkan tentang etika guru terhadap para muridnya.
  2. Hukum fikih.

Selain dari segi adab, kitab ini juga menjelaskan hukum membaca Al-Qur’an bagi orang yang hadas serta bagi orang yang mengingkarinya. Seperti pada salah satu tulisannya:

قال الامام الحافظ أبو الفضل القاضي عياض ﵀ أعلم أن من استخف بالقرآن أو المصحف أو بشئ منه أو سبهما أو جحد حرفا منه أو كذب بشئ مما صرح به فيه من حكم أو خبر أو أثبت ما نفاه أو نفي ما أثبته وهو عالم بذلك أو يشك في شئ من ذلك فهو كافر بإجماع المسلمين

Artinya: “Imam Al-Hafizh Abul Fadhl Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, ‘Ketahuilah bahwa siapa yang meremehkan Al-Qur’an atau mushaf atau sebagian darinya, atau mencelanya, atau mengingkari satu huruf darinya, atau mendustakan hukum atau kabar yang ditegaskan di dalamnya, atau membenarkan sesuatu yang dinafikannya, atau menafikan sesuatu yang ditetapkannya, sedang ia mengetahui hal itu atau meragukan sesuatu darinya, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin.’”

Kelebihan dari kitab ini sendiri adalah:

  1. Sistematis dan ringkas. Hal ini sesuai bagi orang yang ingin mempelajari akhlak dan beberapa hukum fikih tentang Al-Qur’an tanpa bertele-tele dan berkepanjangan.
  2. Otoritatif. Disebabkan oleh penulisnya yang merupakan seorang imam besar, yaitu Imam Nawawi, dan telah kami berikan biografinya secara ringkas pada artikel sebelumnya.
  3. Praktis. Dalam artian memberikan panduan yang jelas bagi siapa pun yang ingin membaca dan mempelajarinya, karena di dalamnya terdapat beberapa hadis dengan sanad sahih serta perkataan para ulama yang beliau ambil dari berbagai kitab.

Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari alangkah baiknya setelah mempelajarinya kita langsung mempraktikkannya. Mengapa? Karena jika kita memiliki ilmu yang hanya berdasar teori tanpa penerapan nyata di lapangan, maka ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Hanya pandai berkata tetapi tidak berisi.

Ingatlah kutipan dari salah satu pemimpin kita:

“We Walk The Talk, Not Only Talk The Talk.”

Wallahu ‘Alam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu

Tuntunan Membaca Surat Al-Qur’an dalam Shalat dan Waktu Tertentu