web analytics

Berkokok di Tengah Para Perokok

0 0
Read Time:2 Minute, 33 Second

Berbicara seputar manfaat rokok sama sekali tidak sebanding dengan risiko gangguan kesehatan yang didapat, atau malah tak ada sama sekali. Lantas mengapa negara Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan perokok laki-laki tertinggi di dunia? Apakah sebegitu umum rokok dalam pandangan pribumi? Hingga sekitar 70 juta penduduk di Indonesia adalah perokok aktif.

Manfaat Merokok

Bagi perokok pasif yang telah terkontaminasi rayuan daun tembakau, mungkin mereka selalu mencari pembenaran atas kebiasaan buruk tersebut. Karena manfaat yang dirasakan perokok adalah pelarian yang mereka cari itu sendiri. Oleh karena itu, para perokok nyaman atau bahkan tak pernah merasa ingin berhenti dari kebiasaan menghisap tersebut.

Memberi kenikmatan, meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, menambah energi, dan meningkatkan konsentrasi. Semua manfaat yang diberikan daun tembakau hanya bersifat sementara, sehingga memungkinkan seorang perokok merasa membutuhkan lebih banyak asupan tembakau bagi otaknya.

Seorang perokok menandakan bahwa kebiasaan berpikir tak pernah lepas dari kepalanya. Kebanyakan perokok memiliki isi kepala yang berisik, sehingga membutuhkan rokok sekedar mengatur para pokok pikiran dalam kepala. Oleh karena itu, perokok sering beranggapan bahwa jika ada seseorang yang dapat tetap waras menjalani hidupnya tanpa bantuan rokok merupakan orang yang hebat.

Sayangnya, nikotin yang dikonsumsi perokok bekerja sangat cepat memengaruhi otak dengan memicu pelepasan dopamin, sehingga menimbulkan efek rileks dan energik, namun berdampak pada kecanduan kuat.

Efek kecanduan tersebut menyebabkan cukai rokok merupakan salah satu penyumbang terbesar APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Target penerimaan negara dari cukai rokok diproyeksikan mencapai Rp230 triliun hingga Rp244 triliun pada tahun 2025. Sehingga secara tidak langsung perokok menyumbang kontribusi terhadap negara, terutama dari segi ekonomi melalui penerimaan cukai dan pajak.

Budaya Kretek

Kebiasaan merokok di Indonesia telah bermula pada abad ke-19 dari Kudus, Jawa Tengah oleh Haji Jamhari yang mewariskan rokok kretek. Kretek diambil dari suara “kemretek” yang dihasilkan dari pembakaran lintingan tembakau dan cengkeh.

Dari segi faktor sosial, merokok di Indonesia dianggap sebagai alat interaksi sosial, meredakan stress, atau kebiasaan yang dilakukan dalam pergaulan sehari-hari. Terlebih kemudahan untuk mengakses rokok dari berbagai kalangan masyarakat menjadi salah satu faktor yang menyokok budaya kretek di Indonesia.

GEMA AYAM BERKOKOK (Gerakan Masyarakat dalam Upaya Berhenti Merokok) haruslah terus mendorong masyarakat melepaskan diri dari budaya merokok. Oleh karena budaya merokok yang terus berkokok menyebabkan para orang yang tidak merokok harus ikut merasakan imbasnya.

Hal ini dapat dilihat dari jumlah perokok pasif di Indonesia yang melebihi jumlah perokok aktif sendiri. Tanpa banyak orang sadari, perokok pasif justru lebih berisiko daripada perokok aktif sekalipun karena perokok pasif menghirup asap dari ujung rokok yang terbakar dan itu memiliki konsentrasi zat racun yang lebih tinggi.

Mungkin sangatlah tidak mungkin apabila memungkinkan juga mengharapkan para perokok berhenti berkokok karena budaya yang telah menjamur di negara ini. Oleh karena itu, kesadaran diri adalah poin utama yang sangat dibutuhkan untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi kebiasaan merokok.

Mencari pelarian lain guna meluapkan dopamin yang dilayangkan otak ketika merokok adalah jawaban lain yang dapat digunakan untuk menanggulangi budaya kretek ini. Bisa diisi dengan olahraga atau aktivitas fisik guna mengelola stres. Apabila perlu mencari pengganti asupan mulut dapat dimulai dari mengunyah permen karet.

Kalau tidak bisa berhenti, maka kurangi. Demi kemaslahatan bersama!

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Muslimah di Balik Astrolab

Muslimah di Balik Astrolab

Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Perubahan Zaman

Mari Menelantarkan Buku!

Mari Menelantarkan Buku!

Mohammed Aziz: Toko Buku, Membaca, dan Menaklukkan Dunia

Mohammed Aziz: Toko Buku, Membaca, dan Menaklukkan Dunia

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Feodalisme dalam Pondok Pesantren: Pilar Adab, Stabilitas, dan Pendidikan Karakter

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”