web analytics

Muwadda’ah Full Barokah, Jangan Lupa Dawuh Dzurriyyah

Screenshot
3 0
Read Time:3 Minute, 30 Second

Kediri, Elmahrusy Media. Satu tahun terlewati, fase riyadloh pun sudah dilakukan sepenuh hati. Setelah gema tadarus dan pengajian kitab menjadi hidangan ruhani sehari-hari, kini, tibalah saatnya liburan bagi para santri, mengemas rindu untuk dibawa pulang ke pelukan keluarga yang sudah menanti.

Menjelang perpulangan, PP. Al-Misky HM Al-Mahrusiyah menggelar acara Muwadda’ah pada malam Jum’at (06/03). Usai sholat tarawih dan istighotsah, seluruh santri memenuhi Aula dan teras lantai satu dengan penuh haru. Acara ini menjadi momentum tahunan bagi para santri untuk mereguk nasihat dari pengasuh, KH. Reza Ahmad Zahid (Gus Reza) dan Ning Hj. Niswatul Arifah (Ning Rifa), yang dengan penuh ta’dzim kami sapa ‘Abah’ dan ‘Mama’.

Lantunan sholawat dari tim Habsyi dan tim Marawis PP. Al-Misky membuka tirai acara. Tak lama kemudian, Gus Reza dan Ning Rifa rawuh, tepat pukul 21.18 WIB.

Pada kesempatan kali ini, Gus Reza menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap ilmu. Beliau mengingatkan agar tak ada satu pun lembaran kitab yang terlewat tanpa makna menjelang pengoreksian, “Bagi yang belum tam, yang masih ada ‘bolong-bolong’ maknanya, silakan segera dilengkapi,” tutur beliau.

Beliau juga menitipkan pesan agar keasrian pesantren tetap terjaga melalui ro’an (kerja bakti) kubro sebelum gerbang pondok ditinggalkan. Bagi santri yang memilih mukim (tidak pulang), Gus Reza memberikan kelonggaran berupa hiburan nobar alias nonton bareng, namun dengan syarat tetap menjaga kedisiplinan shalat berjamaah serta istighotsah,

Manfaatkan waktu sebaik-baiknya di dalam pondok. Santri yang tidak pulang tetap berada di pondok. Tapi insyaallah akan disediakan bioskop. Nobar, tapi tetap sholat jama’ah dan istighotsah. Nikmatnya ga pulang itu jadi penguasa pondok, tidak antri kamar mandi, tidak antri mau tidur. Tapi tetap mengikuti peraturan pondok. Malam 27 ramadhan nanti kita akan ziaroh para Masyayikh yang ada di Kediri. Ketika idul fitri nanti bisa silaturahmi, sowan kepada Dzurriyyah di Ngampel, di Lirboyo juga. Nanti dikoordinasikan dengan pengurus.” Jelas beliau.

Pesan paling krusial ditujukan bagi mereka yang akan mudik. Gus Reza mewanti-wanti agar santri tetap tekun muthola’ah dan muroja’ah, serta tetap istiqomah dalam ibadah meski telah berada di rumah. Beliau mengingatkan agar santri tidak larut dalam candu teknologi dan tetap menjaga marwah sebagai santri putri.

“Kalian membawa nama besar pondok pesantren, guru, dan keluarga. Dijaga akhlaknya, bedakan antara sebelum mondok dan sesudah mondok. Jangan lupa balik pondok tepat waktu, kalau waktunya balik ya balik,  jangan banyak alasan.” tegas beliau.

Terakhir, Putra pertama dari Almarhum Almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus tersebut mengingatkan para santri untuk tidak mampir-mampir terlebih dahulu sebelum sampai rumah,  “Langsung pulang, jangan mampir-mampir dulu. Kalian sudah ditunggu orang tua kalian. Cium tangan, hurmat, dan jadilah anak yang membanggakan orang tua kalian”. Pesan beliau sebelum ditutup dengan do’a bersama.

Acara dilanjutkan dengan pengumuman dan pembagian penghargaan bagi santri berprestrasi, mulai dari pemenang lomba bedug sahur, kultum ramadhan, jam’iyah far’iyah, lorong terbersih, hingga penyematan gelar “Santri Teladan”.

Melengkapi wejangan Gus Reza, Ning Rifa juga mengingatkan para putrinya di Pondok Pesantren Al-Misky terkait marwah seorang wanita. Tanpa kenal lelah beliau memberikan nasihat, mengupas tuntas bab wanita dalam kacamata syariat.

Putri dari Almarhum Almaghfurlah KH. Sholeh Saifuddin ini juga mengingatkan bahwa ilmu tidaklah ramah bagi mereka yang manja. “Karena menuntut ilmu itu membutuhkan umurnya Nabi Nuh, kesabaranya Nabi Ayyub, dan hartanya Qorun.” Artinya, menuntut ilmu membutuhkan waktu yang lama, kesabaran, dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, jangan sampai kesempatan menuntut ilmu tidak digunakan dengan baik.

Teruntuk santri yang pamit boyong karena ingin melanjutkan khidmahnya sebagai seorang istri, beliau berpesan, “Kalian harus punya prinsip dan standar yang tinggi, karena yang bisa menentukan kalian di surganya Allah adalah imam (suami) kalian. Carilah pasangan yang bisa menjaga silaturahmi kalian dengan guru. Kalian itu menikah bukan untuk diri sendiri, tapi juga untuk ilmu dan orang tua kalian. Jangan gadaikan guru kalian demi orang yang tidak bisa menyambung silaturahmi dengan guru kalian”. Pesan beliau Ning Rifa.

Lailatul Muwadda’ah ini ditutup dengan sesi mushofahah. Para santri berbaris rapi untuk sungkem kepada Ning Hj. Niswatul Arifah, lalu dilanjutkan antar sesama santri. Alunan sholawat dari tim habsyi semakin menambah suasana haru pada sesi ini. Semoga acara ini mengalirkan barokah yang dapat menuntun para santri untuk menjadi seorang mar’atus sholihah, yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang tua, pasangannya, serta orang di sekitarnya. Aamin.

Wallahu a’lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Struggle

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Di Haul Masyayikh Lirboyo 2026, KH Reza Ahmad Zahid Tekankan Perbarui Niat

Di Haul Masyayikh Lirboyo 2026, KH Reza Ahmad Zahid Tekankan Perbarui Niat

Habib Jindan: “Sanad Bagian dari Agama”

Habib Jindan: “Sanad Bagian dari Agama”

Syahdu Merindu Dalam Majelis Dzikir wa Maulidurrosul

Syahdu Merindu Dalam Majelis Dzikir wa Maulidurrosul

Pesan-Pesan Ning Nafisah di Selepas Kembalinya Santri ke Pondok

Pesan-Pesan Ning Nafisah di Selepas Kembalinya Santri ke Pondok

Pesan K.H Reza Ahmad Zahid Dalam Halal Bi Halal Yayasan Hm Al Mahrusiyah

Pesan K.H Reza Ahmad Zahid Dalam Halal Bi Halal Yayasan Hm Al Mahrusiyah

Masih Dalam Nuansa Syawal, Keluarga Besar Yayasan Al Mahrusiyah Gelar Halal Bi Halal

Masih Dalam Nuansa Syawal, Keluarga Besar Yayasan Al Mahrusiyah Gelar Halal Bi Halal