Kediri, Elmahrusy Media,
Dalam rangka memperingatai haul Ibu Nyai Hj Zainab yang ke 41, Asrama Darur Rosyidah dan Daru Zainab menggelar majlis dzikir pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani dan maulidud diba’i. Acara yang dilaksanakan pada hari Selasa, 02 Desember 2025 dengan diikuti oleh seluruh santri Darsyi dan Darzen biasanya hanya diselenggarakan di Aula Al-Fatah Asrama Darur Rosyidah. Namun, kali ini acara meluas hingga lantai dasar dan lorong lantai 3 Asrama Darur Rosyidah karena jumlah santri asrama Darsyi (Darur Rosyidah) dan Darzen (Daru Zainab) semakin membludak.
Peringatan haul tahun ini, berlangsung ba’da sholat Magrib berjama’ah yang di buka oleh Agus Ahmad Nasyruddin Moenir selaku pengasuh asrama. Di awal dawuh beliau ngendikan, “Ibu Nyai Zainab itu bagaikan singa betina yang kuat dan tegas,” tutur beliau membuka mauidzoh.
Kemudian beliau dawuh bahwasanya Ibu Nyai Hj Zakiyah memberikan nama Daru Zainab karena beliau berharap agar santri-santrinya kelak tumbuh seperti Ibu Nyai Zainab yang tangguh dan tegas.
Maka dari itu Gus Anas dawuh, “Tugas kita adalah mempelajari biografi beliau,” tutur menantu Ibu Nyai Hj Zakiyah Miskiyah Al-Ishaqi.
Gus Anas melanjutkan, “Ibu Nyai Zakiyah dan Ibu Nyai Zainab itu hampir sama dalam segi keteguhan,” tutur garwo Ning Hj Ita Rosyidah Miskiyah.
Hal ini karena Ibu Nyai Hj Zakiyah itu setelah menikah langsung dibawa oleh Abah Yai Imam ke ndalem sehingga beliau banyak belajar dari ibu Nyai Hj Zainab. Gus Anas menjelaskan bahwa Ibu Nyai Hj Zakiyah banyak belajar tentang kesabaran karena setelah menikah beliau langsung ditinggal oleh Yai Imam ke Makkah melanjutkan belajar.
Sehingga, Gus Anas berpesan, “Tugas panjenengan sebagai santri adalah mempelajari ilmu ulama,” pesan beliau kepada santri-santri Asrama Darsyi dan Darzen.
Karena barokah nasab dan barokah ilmu itu tidak bisa disangkal, sehingga sudah sepatutnya kita sebagai estafet dakwah ulama mempelajari bografi dan ilmu-ilmu beliau agar kelak dapat diwariskan hingga generasi-generasi mendatang.
Kemudian Gus Anas bercerita tentang Kisah Mbah Kholil bin Harun Rembang yang merupakan guru KH Mahrus Aly. Gus Anas bercerita bahwasannya Mbah Harun itu putra putrinya menjadi ulama besar dan salah satu sumber ilmu itu dari Mbah Yai Harun Rembang.
Maka, dawuh Gus Anas, “Kalau kita belum punya nasab bikin nasab,”
Karena ibu adalah madrosatul ula, tanpa ibu kita tidak akan ada artinya dan melalui ibu pula estafet keilmuan dipegang. Ibu Nyai Zainab itu putra-putrinya 14 dan beliau dikenal dengan kesabarannya.
Kemudian Ibu Nyai Zakiyah khidmah kepada Ibu Nyai Zainab selama tujuh tahun dan ketegasan Ibu Nyai Zainab diikuti oleh Ibu Nyai Zakiyah.
Dawuh Gus Anas, “Adanya profil hidup karena profil wafat yang ditiru,”
Maka, pesan Gus Anas, “Pelajari, cari informasi tentang Nyai Zainab, Yai Imam, Yai Mahrus, Nyai Zakiyah, dan semoga kita kelak diakui menjadi santri-santri beliau,” pesan sekaligus do’a Gus Anas yang kemudian disambung oleh Ning Ochi memimpin manaqib dan maulid diba’.
Waallhu a’lam.