web analytics

Bermedia, Bersosial juga Berakhlak

0 0
Read Time:3 Minute, 6 Second

Tidak bisa dimungkiri jika kita perlu belajar bermedia sosial dengan baik dan benar. Menyangkut isu-isu yang sedang panas menjelang Hari Santri Nasional, miris rasanya. Bukan hanya miris kepada jaringan televisi swasta nasional di Indonesia yang berdiri pada 4 Agustus 2006, bukan sekadar miris terhadap penayangan program infotainment dari stasiun televisi yang selalu saya tonton dulu ketika acara Si Bolang, On The Spot, Laptop Si Unyil, Si Otan, Dunia Binatang, Hitam Putih, dan lain-lain ditayangkan. Miris pula melihat komentar-komentar penuh akan caci maki, hujatan, gugatan, amarah, hingga apalah.

Meski mereka melanggar beberapa kode etik, namun tak sepenuhnya saya beratkan kepada mereka setelah melihat kolom komentar para netizen. Entah mengapa netizen begitu antusias untuk menanggapi sesuatu yang sedang panas hingga tanpa sadar, bahkan sampai membakar diri sendiri.

Menurut saya membela setelah meredam emosi lebih baik dari pada membela dengan emosi. Mengapa begitu? Bisalah dilihat komentar-komentar itu, kebanyak berisi olokan hingga merendahkan. Kalau begitu apa bedanya kalian yang mengisi komentar berkedok pembelaan dengan siaran televisi terkait? Oleh karena itu, mari beragumen, berkomentar, bermedia, bersosial menggunakan kepala.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ۞ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Dari surat Ali Imron ayat 133-134 kita dapati bahwa orang yang mampu menahan amarahnya dan orang-orang yang memaafkan termasuk orang-orang yang bertakwa.

Setelah saya melakukan diskusi ringan bersama beberapa teman dalam bingkai secangkir kopi, saya berhasil merangkum pendapat-pendapat mereka seputar isu belakangan. “Ya namanya manusia yang sudah tersulut emosinya pasti tidak memakai akal ketika melakukan sesuatu. Mereka memakai nafsu.”

Ketika bermedia sosial, akhlak pun tak bisa kita sampingkan. Dilansir dari Tadarus Tarbawy: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan berjudul “Pentingnya Pendidikan Akhlak dalam Kehidupan Masyarakat Islam”, akhlak merupakan cara manusia dalam berperilaku dan bermuamalah terhadap manusia lainnya bahkan bisa dikaitkan dengan perilaku manusia dengan penciptanya.

Akhlak bukan saja terfokus kepada pembentukan etika atau tingkah laku kepada diri sendiri, keluarga, pergaulan, bahkan ajaran tersebut merambat ke dalam tatanan sosial yaitu akhlak dalam bermasyarakat. Dalam hal ini, akhlak saat bersosial tentu diperlukan terlebih untuk menanggapi isu-isu terkini. Akhlak yang baik menjadi landasan untuk menenangkan jiwa, mengendalikan emosi negatif, dan memungkinkan akal untuk berfungsi lebih optimal dalam mengambil keputusan.

Adapun dari Edumaniora: Jurnal Pendidikan dan Humaniora berjudul “Pentingnya Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Membentuk Akhlak Siswa Di Sekolah SMA Swasta PAB 8 Saentis”, kita harus cerdas dalam bertindak, harus berpikir secara matang dan melihat konsekuensi yang akan didapat. Begitu pun dalam bermedia sosial, berkomentar, dan merargumen, karena ketika kita lalai dan hanya mengedepankan emosi dan nafsu akan berakibat fatal bagi individu maupun sosial.

Dari kejadian yang ramai belakangan ini, bisalah kita pakai untuk belajar bermedia, bersosial, dan berakhlak agar tidak meluapkan emosi di kolom komentar, apalagi dengan kata-kata yang tidak pantas. Apabila ingin menanggapi pastikan dengan kepala dingin. Bukan berarti saya setuju dengan apa yang disampaikan dalam acara televisi tersebut, saya marah, namun baiknya redamlah amarah dulu sebelum berbicara atau berkomentar.

Wallahu a’lam.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Apalah Arti Sebuah Nama

Apalah Arti Sebuah Nama

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi!

Refleksi Hari Kartini: Menilik Ketangguhan Ekonomi Perempuan di Sektor Lapangan

Refleksi Hari Kartini: Menilik Ketangguhan Ekonomi Perempuan di Sektor Lapangan

Izinkan Santri Lusuh Ini Memeluk Pesantrennya

Izinkan Santri Lusuh Ini Memeluk Pesantrennya

Kata Siapa Pink Warna Perempuan?

Kata Siapa Pink Warna Perempuan?

Al-Quran, Antara Keindahan dan Keluasannya

Al-Quran, Antara Keindahan dan Keluasannya