Kediri, Elmahrusy media.
“Al-isnad minad din. Laula isnad laqola man sya’a ma sya’a. Sanad itu bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad seseorang akan bicara semaunya.” Ujar Habib Jindan Novel Jindan pada mauizah hasanah dalam acara Majelis Dzikir wa Maulidurrasul Muhammad SAW sebagai bagian dari Haul Masyayikh Lirboyo, kamis (16/04).
Sanad di dalam metode pengabdian kepada Allah SWT dengan dasar keilmuan yang bersanad kepada orang-orang mulia adalah bagian dari agama. Seperti yang tertela di dalam surah Al-Baqarah ayat 133.
اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ بَعْدِيْ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِكَ اِبْرٰهمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًا وَنَحْنُ لَه مُسْلِمُوْنَ
Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.”
Saat Nabi Ya’qub sakaratul maut, beliau mengumpulkan anak-anaknya bukan untuk membahas masalah duniawi, tapi beliau bertanya, “Siapa yang kalian sembah sepeninggalku?” Maksud beliau bukan sekadar bertanya ‘siapa tuhan kalian?’ namun bagaimana metode peribadatan kalian kepada Allah SWT. Sehingga dijawab oleh anak-anaknya, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq.”
Peristiwa tersebut menunjukkan sanad di dalam beribadah. Menyembah Allah seperti Nabi Ibrahim menyembah Allah, mengikuti metode ibadah Nabi Ismail, mengikuti cara ibadah Nabi Ishaq, dan mengikuti metode ibadah ayah mereka (Nabi Ya’qub).
“Wa sanad min khusiyati hadzihil ummah. Sanad adalah keistimewaan dari umat Nabi Muhammad SAW.”
Dengan adanya sanad, kita tidak akan melupakan guru-guru yang mengajarkan kita metode dan cara beribadah kepada Allah SWT. Seperti Imam Al-Ghazali, Imam Syafi’I, Imam Malik bin Anas, Imam Hambali, Imam Hanafi, dan lain-lain. Oleh karena sanad, kita tidak melupakan orang-orang yang dimuliakan Allah SWT. Maka dengan sanad inilah kita dapat sampai (wushul) kepada Allah SWT. Orang yang tidak memiliki sanad keilmuan dan peribadatan sangatlah berbahaya. Seperti perkataan Abu Yazid Al-Busthami,
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخٌ فِي عُلُومِهِ، فَشَيْخُهُ الشَّيْطَانُ
“Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya setan.”
Wallahu a’lam.