Melunasi utang puasa Ramadhan atau mengejar bonus pahala puasa sunnah Syawal sering kali menjadi dilema yang menghampiri kita setelah gema takbir Idulfitri. Di satu sisi, ada keinginan besar untuk mendapatkan pahala puasa enam hari di bulan Syawal yang setara dengan puasa setahun penuh. Sebagaimana dalam hadis Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR. Muslim).
Namun, di sisi lain, sebagian orang masih memiliki utang puasa Ramadhan yang harus segera dilunasi, sebagaimana firman Allah SWT:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Maka, barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184).
Dari sini muncul pertanyaan: manakah yang harus diprioritaskan, puasa qadha atau puasa sunnah Syawal?
Melalui pendekatan kaidah fikih yang berbunyi:
الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ
“Amalan wajib lebih utama daripada amalan sunnah.”
Kaidah ini juga didukung oleh pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj:
يُكْرَهُ تَقْدِيمُ التَّطَوُّعِ عَلَى قَضَاءِ رَمَضَانَ
“Dimakruhkan mendahulukan puasa sunnah (Syawal) daripada mengganti (qadha) puasa Ramadhan.” (Juz 3, hlm. 458).
Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa yang harus didahulukan adalah qadha puasa Ramadhan, bukan puasa Syawal. Bahkan, hukumnya makruh jika seseorang melakukan puasa Syawal sebelum mengganti puasa Ramadhan.
Dalam praktiknya, muncul pula pembahasan mengenai tasyrīk niat, yaitu menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa Syawal. Apakah tetap mendapatkan pahala puasa Syawal?
Imam Asy-Syarqawi dalam kitab Hasyiyah Asy-Syarqawi menjelaskan:
ولو صام فيه ]أي في شهر شوال[ قضاء عن رمضان أو غيره نذراً أو نفلاً آخر، حصل له ثواب تطوعها؛ إذ المدار على وجود الصوم في ستة أيام من شوال…، لكن لا يحصل له الثواب الكامل المترتب على المطلوب إلا بنية صومها عن خصوص الست من شوال
“Apabila seseorang berpuasa di bulan Syawal dengan niat qadha Ramadhan atau lainnya seperti nazar atau puasa sunnah lain, maka ia tetap mendapatkan pahala puasa sunnah Syawal. Sebab, substansi puasa enam hari di bulan Syawal telah terlaksana. Namun, ia tidak mendapatkan pahala secara sempurna sebagaimana yang dimaksud dalam hadis. Jika ingin mendapatkan pahala yang sempurna, maka harus diniatkan khusus untuk puasa enam hari Syawal (tidak digabung dengan yang lain).” (Juz 1, hlm. 474).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa qadha Ramadhan merupakan kewajiban yang harus didahulukan dan segera dilaksanakan, sedangkan puasa Syawal adalah ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Bagi orang yang memiliki uzur, diperbolehkan menunda qadha, namun tetap lebih utama untuk mendahulukannya. Adapun bagi yang tidak memiliki uzur, maka wajib segera mengqadha dan tidak diperbolehkan mendahulukan puasa sunnah.
Sebagian ulama membolehkan menggabungkan niat qadha dan puasa Syawal, tetapi pahala yang diperoleh tidak sempurna. Oleh karena itu, untuk mendapatkan keutamaan secara maksimal, sebaiknya seseorang mendahulukan qadha puasa Ramadhan, kemudian melanjutkannya dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Wallahu a‘lam.