Dalam lembaran sejarah hidup Nabi Muhammad SAW, kita mendapati sebuah fakta unik bahwa beliau tidak hanya disusui oleh ibunda kandungnya, Aminah, melainkan juga oleh beberapa wanita dari kabilah yang berbeda-beda, seperti Tsuwaibah (budak Abu Lahab dari Quraisy), Halimatus Sa’diyyah (Bani Sa’d), hingga para wanita dari Bani Sulaim.
Di dalam kitab Targhibul Musytaqin disebutkan 10 wanita yang pernah menyusui Nabi Muhammad SAW yang diringkas dalam syiir berbahr kamil:
إِنْ رُمْتَ تَحْفَظَ مُرْضِعَاتِ المُصْطَفَى * خُذْهُنَّ بِالتَّرْتِيبِ فِي التِّبْيَانِ
Jika engkau ingin menghafal para penyusu Al-Musthafa (Nabi Muhammad), Maka ambillah (pelajarilah) mereka secara berurutan dalam penjelasan ini.
أُمٌّ لَهُ وَهَكَذَا ثُوَيْبَةٌ يَا فَتِى * وَحَلِيمَةٌ نَالَتْ رِضَا الرَّحْمَنِ
Pertama adalah Ibu kandungnya sendiri, kemudian Tsuwaibah, wahai pemuda; lalu Halimah yang meraih rida Allah Sang Rahman.
وَكَذَلِكَ امْرَأَةٌ لِحَمْزَةَ أَرْضَعَتْ * وَثَلَاثُ أَبْكَارٍ روي فِي الشَّانِ
Begitu juga istri (dari paman beliau) Hamzah yang juga menyusui, Dan ada tiga wanita perawan (gadis) yang diriwayatkan dalam sejarah ini.
مَعَ أُمِّ فَرْوَةَ أُمِّ أَيْمَنَ بَعْدَهَا * مَعَ خَوْلَةٍ شُرِّفْنَ بِالعَدْنَانِ
Bersama Ummu Farwah, lalu Ummu Aiman setelahnya, Serta Khaulah; mereka semua dimuliakan karena menyusui sang Nabi dari keturunan Adnan.
Berdasarkan syiir diatas, berikut daftar 10 wanita yang pernah menyusui Nabi Muhammad SAW:
Lantas, apa hikmahnya?
Tentu saja bukan tanpa alasan. Berikut hikmah dibaliknya:
Hikmah utama dari banyaknya ibu susuan Nabi adalah penyatuan hati antar kabilah. Dalam tradisi Arab, hubungan persusuan (rodlo’) dianggap setara dengan hubungan darah (nasab). Dengan disusui oleh wanita dari berbagai kabilah, Nabi Muhammad SAW secara otomatis menjadi “putra” bagi kabilah-kabilah tersebut.
Beliau tidak lagi dipandang sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Ini adalah modal sosial yang luar biasa untuk meredam fanatisme kesukuan (ashabiyah) yang sangat kuat kala itu.
Ketika masa kenabian tiba, hubungan persusuan ini menjadi pintu masuk dakwah yang lembut. Nabi memiliki akses emosional ke berbagai suku. Sebagai contoh, penghormatan Nabi kepada kaum Hawazin (asal kabilah Halimah As-Sa’diyyah) saat Perang Hunain. Beliau membebaskan ribuan tawanan tanpa tebusan demi menghormati ikatan persusuan. Peristiwa ini melunakkan hati ribuan orang untuk memeluk Islam.
Dengan berpindah-pindah di bawah asuhan ibu susuan yang berbeda, Nabi Muhammad SAW sejak kecil telah mengenal keberagaman dialek, adat istiadat, dan karakter masyarakat Arab—mulai dari masyarakat perkotaan Mekkah hingga masyarakat pedalaman (badui) yang fasih bahasanya dan kuat fisiknya. Hal ini membentuk pribadi Rasulullah sebagai pemimpin yang inklusif dan mampu memahami psikologi berbagai kelompok masyarakat.
Banyaknya ibu susuan bagi Rasulullah SAW adalah bentuk “Diplomasi Rodlo’” yang dipersiapkan Allah SWT. Hal ini memastikan bahwa misi risalah beliau tidak terhambat oleh sekat-sekat kesukuan. Beliau hadir sebagai pemersatu yang merangkul semua kabilah dalam satu ikatan ukhuwah yang kokoh. Wallahu a’lam.