Semua berawal dari dialog sederhana yang penuh makna antara saya dengan seseorang yang bercita-cita menjadi dokter hewan. Di tengah percakapan yang mengalir, ia menyingkap sekelumit pengetahuan yang dijumpainya dalam salah satu bacaan, tentang kemiripan seekor kelinci dengan manusia.
Seketika akal yang masih dangkal ini, bertanya-tanya atas hal itu.
Kemudian, ia melontarkan sebuah pertanyaan “Kamu pernah lihat nggak, di belakang kemasan shampo, kosmetik kecantikan, bahkan obat-obatan kadang ada gambar kelinci atau kaya hewan-hewan gitu?”
Pertanyan sederhana itu menyisakan rasa penasaran pada benak saya. Gambar kelinci yang pernah saya lihat dan saya anggap sebelah mata, ternyata berkaitan dengan sebuah persoalan yang lebih luas yakni, animal testing atau pengujian terhadap hewan.
Kemudian setelah saya menelusuri dan membaca, ada beberapa alasan mengapa hewan dijadikan bahan pengujian khususnya untuk obat-obatan sebelum digunakan pada manusia. Menurut Aizan (2022), hewan yang struktur genetikanya mirip dengan manusia adalah hewan primata. Hewan seperti monyet juga biasanya digunakan sebagai bahan uiji. Namun, penggunaan hewan seperti monyet dan primata lainnya dianggap kurang etis dan faktor pelestariannya juga sedang berada di ujung tanduk. Oleh karena itu, untuk saat ini hewan seperti kelinci dan tikuslah yang sering dijadikan percobaan dalam labratorium.
Pemilihan hewan tersebut pastinya bukan tanpa pertimbangan. Dibalik tubuh mungil mereka, tersimpan segelintir alasan yang membuatnya terpilih dari sekian macam hewan lainnya. Hal pertama yang mendasarinya adalah karena kedua hewan tersebut sulit terancam punah. Bagaimana tidak, perkembangan kelinci dan tikus terbilang sangat cepat, sekali beranak jumlahnya bisa lebih dari tiga ekor. Jarak kelahiran antara satu dengan setelahnya juga cukup pendek.
Hal yang mendasari lainnya juga berkaitan erat dengan kemiripan struktur mikroskopis. Struktur dan susunan DNA serta sel dari tikus dan kelinci memiliki kemiripan yang sangat identik dengan manusia. Keduanya merupakan golongan mamalia yang sangat memungkinkan untuk menderita penyakit yang sama seperti manusia. Maka alasan menggunakan kedua hewan tersebut adalah ketika uji coba berhasil maka kemungkinan besar juga akan berhasil pada manusia.
Tak hanya soal kemampuan berkembang biak, dan kemiripan biologis. Commonly Used Animal Models menjelaskan ukuran tubuh juga menjadi pertimbangan tersendiri. Tubuh tikus dan kelinci yang relatif kecil membuat keduanya lebih mudah ditempatkan dalam fasilitas penelitian. Karakteristik ini menjadi salah satu faktor praktis yang mendukung penggunaannya sebagai hewan model dalam berbagai penelitian ilmiah.
Dan masih banyak lagi alasan-alasan lain, seperti: kelinci dan tikus merupakan hewan jinak, mudah dipelihara di laboratorium, dan juga sangat efisien karena hewan ini relatif murah harganya. Selain harga yang relatif, kedua hewan tersebut juga mudah didapatkan dalam jumlah banyak di pasar maupun para pengembang biak hewan. Apabila dalam kondisi tertentu hewan tersebut sulit didapatkan, pengelola laboratorium dapat dengan mudah mengembangbiakkan sendiri.
Sampai pada akhirnya saya sadar ternyata animal testing bukan sekadar persoalan memilih hewan untuk dijadikan bahan percobaan sebagaimana istilah “kelinci percobaan” , tetapi juga tentang kebutuhan akan ilmu pengetahuan, sehingga kita tahu apa-apa yang harus menjadi pertimbangan akan hal yang kerap luput dari pandangan kita selama ini.
Walllahu a’lam