web analytics

Dari Lembar Gocap sampai Maklumat Djuanda

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:2 Minute, 57 Second

Lima puluh ribu rupiah. Ada apa di balik lembar lima puluh ribu rupiah? Dapat apa sih kalau hanya membawa lima puluh ribu untuk berkeliaran sehari semalam? Anak remaja saja mungkin tak akan cukup sekadar lima puluh ribu untuk sehari.

Semuanya berubah dikarenakan inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, yang menyebabkan daya beli uang menurun karena nilai uang berkurang, sehingga uang tidak lagi sebanding dengan barang yang bisa dibeli. Inflasi bisa terjadi karena permintaan lebih tinggi dari penawaran, atau biaya produksi naik, dan diukur oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Dengan alasan menghadirkan efisiensi perekonomian sekaligus meningkatkan daya saing nasional, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggaungkan rencana redenominasi rupiah yang ditargetkan selesai 2027. Rencana redenominasi rupiah pun masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) jangka menengah 2025-2029.

Karena wacana redenominasi bukanlah hal baru di Indonesia, maka kita tidak sedang membahas redenominasi ataupun hal-hal yang berbau ekonomi. Di sini kita akan menjelajah juga belajar sesuatu yang ada di balik pecahan lima puluh ribu rupiah. Pahlawan di balik lima puluh ribu rupiah.

Tak hanya lima puluh ribu rupiah, bulan Desember pun menjadi korban tulisan hari ini. Hari Nusantara yang diperingati setiap tanggal 13 Desember berawal dari Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada tanggal yang sama pada tahun 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia pada saat itu, Ir. H. Djuanda Kartawidjaya.

Tidak dianggapnya laut yang melebihi 3 mil dari garis pantai setiap pulau sebagai bagian dari wilayah Indonesia atau dianggap sebagai laut bebas karena masih terikat aturan kolonial Hindia Belanda. Hal ini menyebabkan penentangan dari Perdana Menteri Djuanda (Perdana Menteri Indonesia ke-10 dan terakhir) dan Menteri Khoirul Saleh, sehingga lahirlah Deklarasi Djuanda yang menyatakan kepada dunia bahwa, “Laut Indonesia di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.” Pun mengubah batas laut Indonesia menjadi 12 mil dari garis pantai.

Tentu hal tersebut merupakan langkah berani untuk sebagai upaya untuk melindungi keutuhan Indonesia juga kedaulatan laut Nusantara. Sayangnya, butuh usaha diplomasi yang terus dilancarkan selama 25 tahun agar konsep Negara Kepulauan Nusantara dapat diterima dan diakui secara internasional.

Setelah melalui perjalanan panjang, tahun 1982, konsepsi negara kepulauan dapat diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut internasional (United Nations Convention on the Law of the Sea, UNCLOS) oleh PBB. Hadirnya, sahnya, dan diakuinya Deklarasi Djuanda juga berpengaruh terhadap luas wilayah Republik Indonesia, yang sebelumnya 2.027.087 km2 menjadi 5.193.250 km2.

Oleh karena itu, pada 11 Desember 2001, Preseden RI Megawati Soekarnoputri menetapkan bahwa tanggal 13 Desember dinyatakan sebagai “Hari Nusantara” melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 126 Tahun 2001. Hari di saat Indonesia diakui sebagai negara maritim.

Indonesia tidaklah kekurangan hari besar sebagai wadah pengingat, pengenang, juga sejarah bagi apa-apa yang terjadi. Namun setidaknya, bantulah alam ini dengan merubah diri sendiri. Apabila kebanggaan masa lampau di tengah kehancuran masa kini adalah sebuah hal dungu, maka cobalah untuk menjaga laut yang mengisi sekitar 65% wilayah Indonesia. Mari sama-sama menjaga kepunyaan kita dimulai dari kesadaran diri.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Wallahu ’alam.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Peristiwa 1 Januari Sebagai Simpul Sejarah Nasional Hingga Internasional

Mengenal Peristiwa 1 Januari Sebagai Simpul Sejarah Nasional Hingga Internasional

14 Desember: Hari Ketika Indonesia Merebut Kembali Narasinya

14 Desember: Hari Ketika Indonesia Merebut Kembali Narasinya

Lembu Suro dan Ramalan Jayabaya: Misteri dari Kediri

Lembu Suro dan Ramalan Jayabaya: Misteri dari Kediri

Perjalanan Panjang HAM: Dari Teori Hak Kodrati hingga Reformasi Indonesia

Perjalanan Panjang HAM: Dari Teori Hak Kodrati hingga Reformasi Indonesia

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet