Malam berselimut langit bersih dengan pendar cahaya bulan di atas kepala. Cindy sedang asyik mengerjakan tugas sekolah dengan laptop pemberian papanya. Hingga waktu menunjukkan pukul 12.00, ia mulai kelelahan, lalu ia me-relaks-kan badannya dengan menyekrol akun Instagram.
Tak tersadar waktu berpindah menjadi 01.30. Bergegaslah ia menyiapkan diri untuk beristirahat agar memiliki tenaga yang cukup untuk hari esok.
Suara alarm handphone memekakkan telinga.
Dengan setengah sadar, ia melihat layar HP-nya dan langsung bergegas untuk melanjutkan persiapan berangkat sekolah. Setelah hampir 20 menit bersiap, akhirnya ia berangkat sekolah dengan diantar oleh sopir pribadi ayahnya.
Setibanya di sekolah, ia langsung masuk ke dalam kelas dan membaca sedikit pelajaran yang akan dipelajarinya hari itu.
Drrrt… Drrrt… Suara ringtone handphone terdengar dari sebelah lengannya.
“Halo, Sit? Tumben, ada apa?” sahut Cindy sambil menutup bukunya dengan malas.
“Cin, astaga… kau tahu nggak jawaban fisika halaman 28 nomor 8? Pusing banget, asli!”
Cindy terkekeh pelan sambil mengatupkan cerminnya. “Oh, itu. Aku baru nemu rumusnya saja sih, belum hitung total. Mau?”
“Nggak apa-apa! Yang penting ada dasarnya dulu, nanti jawabannya biar aku ulik sendiri. Daripada buta sama sekali.”
“Oke, oke. Eh, memang kau di mana sekarang? Kok berisik banget?”
“Oh itu, aku lagi ada di kelas. Yang lain lagi buat video TikTok.”
“Oke, bentar lagi aku ke sana, tunggu ya.”
“Ditunggu ya, beb.”
Dengan hanya membawa buku paket dan buku tulisnya, Cindy berangkat ke kelas Siti. Setibanya di sana, ia langsung melihat banyak teman sekelas Siti yang asyik membuat tren video TikTok terbaru dengan handphone berlogo apel kroak.
“Bha!!!” Cindy mengagetkan Siti yang sedang serius mencari rumus dalam buku tulisnya.
“Ih… ngagetin aja, Cin. Untung nggak jantungan.”
“Idih, biasa saja kali.”
“Oh ya, sudah ketemu belum?”
“He… he…” Siti tersenyum, menunjukkan hasil zonk dari pencariannya.
“Malah nyengir.”
“Ye, ini dari tadi juga sudah nyari kali…”
“Sini, biar aku jelasin.”
Dengan sigap, Cindy menjelaskan caranya kepada Siti. Setelah sekiranya Siti paham dengan penjelasannya, barulah ia menyuruh Siti untuk mengerjakannya sendiri.
Kring… kring… Bel pertanda masuk kelas tiba.
“Eh, Cin, nanti istirahat ke kantin ya!”
“Oke!!” teriaknya sembari berlari menuju kelas.
Selama pembelajaran, Cindy dan Siti serius mendengarkan penjelasan guru mengenai pelajaran hari itu. Dalam latar belakangnya, Cindy dan Siti adalah sahabat yang selalu bersama sejak SD hingga SMA. Jadi, maklum saja persahabatan mereka sangat akur.
Bel istirahat pun tiba. Cindy segera berangkat menuju kantin yang sebelumnya telah ia janjikan bersama Siti. Akan tetapi, hingga bekalnya hampir habis, Siti masih saja belum datang. Akhirnya ia meneleponnya dengan sedikit rasa kesal.
Untungnya, saat ia hendak menelepon, Siti sudah terlihat dari jauh dan segera menghampirinya.
“Sitiii!!! Lama kali, ngapain saja sih?”
“Ye, kau kira tadi mapelku aman-aman saja, hah?”
“Lhah, kok nanya ke aku sih? Kan kamu yang ngalamin.”
“Ish… sudah lah, malas kali aku.”
“Kenapa memang?”
“Nanti kujelasin semuanya.”
Akhirnya, setelah sedikit bercerita dengan Cindy, Siti membeli rice bowl karena bibinya tidak memasak. Dilanjutkan dengan curhat panjang mengenai kejadian di kelas yang membuatnya hampir gila.
“Hah, memang bisa, Cin?”
“Idih, ya bisa lah. Orang aku saja nggak ikut-ikutan, ngapain yang kena aku juga.”
“Hadeh…” sambil mengibas poninya.
“Eh, memang sebanyak itu ya user TikTok di kelasmu?”
“Ck… bukan lagi kalau itu. Memang sudah bandarnya.”
“Memang, kira-kira gimana media sosial kok bisa berpengaruh seperti ini pada manusia zaman sekarang?”
“Oh, itu mending lanjut habis sekolah saja. Kita mampir Mixue sambil me-time.”
“Alah, itu mah we-time, bukan me-time.”
“Pokoknya itulah.”
Bel kembali ke kelas berbunyi. Siti dan Cindy berpisah untuk melanjutkan obrolan dan curhatan mereka di tempat yang telah dijanjikan.
Selama berada di Mixue, Siti curhat habis-habisan soal masalah kelasnya yang membuatnya tak habis pikir. Dengan wajah serius dan prihatin, Cindy mendengarkan dengan baik curhatan sahabatnya itu. Sampai di penghujung cerita, Siti menanyakan persoalan yang belum dijawab saat di sekolah.
“Oh, awalnya dari tahun 1978, tapi masih terlalu lemah untuk dibilang media sosial.”
“Hah, lemah? Maksudnya apa, Cin?”
“Iya, masih lemah. Karena cuma untuk upload dan download info saja. Habis itu internetnya masih pakai modem.”
“Lhah, cuma gitu saja?” sambil membayangkan keadaan saat itu.
“Tapi, peneliti ARPA sudah mulai meneruskan pengembangan media sosial tahun 1971–1995. Nah, dari pengembangan inilah muncul GeoCities yang melayani web hosting.”
“Tunggu dulu, ARPA itu apa, Cin?”
“ARPA itu, gampangnya, kakek buyut dari semua media sosial sekarang. Kalau nggak ada dia, kita nggak bisa merasakan sosmed. Nah, yang mengembangkannya itu para peneliti Amerika.”
“Oh… paham, paham. Lanjut, Cin, kayaknya seru nih.”
“Ye, sabar kali.” sambil menyendok es krim yang telah ia pesan.
“Lanjut. Tahun 1995 muncul Classmates.com, tetapi kalah pamor dengan SixDegrees.com yang lahir pada tahun 1997. Classmates sendiri punya fitur membuat profil, menambah teman, dan chat saja.
Kemudian tahun 1998 muncul Friends dengan 15 juta pengguna, tetapi pada tahun 2008 kalah dengan Facebook.
Tahun 1999–2000 mulai muncul Blogger, LunarStorm, LiveJournal, dan Cyworld. Tahun 2001 muncul Ryze.com untuk jaringan bisnis. Setahun setelahnya muncul Friendster, media sosial untuk mencari jodoh yang didirikan oleh Jonathan Abrams.
Tahun 2003 muncul Flickr, MySpace, YouTube, dan LinkedIn. Setahun setelahnya Facebook muncul, tapi hanya untuk mahasiswa Harvard.
Tahun 2005 Friendster dan MySpace naik daun. Seiring waktu, Facebook semakin berkembang hingga mendapat investor dari Peter Thiel. Pada 11 September 2006, Facebook membuka registrasi untuk umum.
Tahun 2006–2009, Friendster dan MySpace mulai tergeser oleh Facebook dan Twitter. Tahun 2011 muncul Google+, meskipun awalnya terbatas melalui undangan.
Sejak 2012 hingga sekarang, banyak media sosial bermunculan dan membuat anak-anak seperti kita suka mengikutinya.”
“Oh… jadi begitu ceritanya, Cin.”
“Iya, begitu ceritanya.”
Dinn… dinn… suara klakson mobil terdengar dari arah parkiran.
“Oh ya, Cin, papaku sudah nyuruh pulang. Aku duluan ya,” ujar Siti sambil bersiap.
“Oke, Sit. Hati-hati ya.”
“Oke, bye!”
“Bye!”
Akhirnya Cindy dan Siti berpisah untuk beristirahat dari kesibukannya. Cindy pun bergegas menelepon sopir papanya untuk menjemputnya.
Wallahu a’lam.