web analytics

Kasih Sayang KH. Abdul Karim Terhadap Keluarga dan Santri

1 0
Read Time:2 Minute, 3 Second

Keluarga merupakan hubungan sosial yang memberikan kenyamanan, baik ketika susah maupun senang, keluarga menjadi tempat untuk saling memahami, mengasihi dan menyayangi, tanpa adanya keluarga seseorang tidak bisa merasakan apa arti kasih sayang.

KH. Abdul Karim merupakan figur seorang Kyai yang mengajarkan untuk selalu perhatian terhadap keluarga. Tak hanya itu, sebagai pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, beliau juga selalu memiliki rasa kasih sayang terhadap santri-santrinya. Hal ini bisa dibuktikan lewat tindak lampah (tingkah laku) beliau.

Semasa KH. Abdul Karim sugeng (Hidup), setiap setelah Sholat Shubuh beliau dengan rutin memberikan pelajaran kepada anak cucunya, pelajaran yang diberikan melalui metode sorogan, meliputi belajar Membaca Al-Qur’an, Tajwid, Aqo’id 50, Tasrif dan sebagainya. Awalnya pembelajaran secara sorogan ini berakhir pada pukul 07.30 Wib, Karena saking perhatiannya, beliau tambah hingga selesai pada siang hari.

Kepada putra-putrinya yang sudah menikah pun, KH. Abdul Karim tak pernah bosan untuk memperhatikan kemaslahatan keluarganya, beliau selalu menasihati agar selalu taat kepada suami. Bahkan, ketika beliau dilanda sakit, jika putrinya ingin menjenguk, beliau berpesan untuk meminta izin terlebih dahulu kepada suami. Jika sudah mendapat izin, KH. Abdul Karim tidak lupa untuk menanyakan berapa lama izin yang didapat dari suaminya. Kalau izinnya sudah habis, maka beliau menghendaki untuk segera pulang, kadang kala beliau sendiri yang mengantarnya.

Rasa sayang yang mendalam juga terlihat ketika putra beliau yang bernama Nawawi meninggal dunia saat sedang menuntut ilmu di Mekah pada tahun 1938 M. KH. Abdul Karim dengan ikhlas menerima takdir Allah Swt dan merelakan kepergiannya. Wujud ikhlas beliau dengan berucap ”Alhamdulillah, semoga jalan antara Lirboyo dan Mekah lurus”. Setelah itu, KH. Abdul Karim bersilaturahmi kepada teman-teman almarhum putranya, memintakan maaf dan memohon halal segala perkara yang mungkin telah digunakan putranya.

Tak hanya keluarga saja, kasih sayang dan perhatian KH. Abdul Karim juga dirasakan santri-santri beliau, ketika memberikan nasihat, beliau selalu mengingatkan santri agar rajin belajar. Tidak pernah sekalipun beliau menunjukan sikap yang menakutkan, apalagi berbicara kasar, jika ada santri yang nakal, beliau menanggapinya hanya dengan menangis kemudian berdoa kepada Allah Swt, tidak sekalipun KH. Abdul Karim menunjukan rasa marah kepada santri tersebut.

Pernah terdapat kejadian, seorang santri memiliki hutang banyak kepada beliau, hingga ketika santri tersebut meninggal dunia, hutang itu tak kunjung dilunasi, namun KH. Abdul Karim tidak mengungkit-ungkit lagi, beliau berkata, ”Kabeh tak halalke embuh aku eling apa ora” (Semua saya halalkan, entah saya ingat atau tidak).

Semoga kita semua dapat mengambil ibrah dari akhlak mulia yang telah dicontohkan KH. Abdul Karim.

Teruntuk beliau, Alfatihah.

 

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Sayyidah Maryam Lahir dari Nazar Kesucian

Sayyidah Maryam Lahir dari Nazar Kesucian

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet