Di tengah derap sejarah besar yang melahirkan organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU), berdirilah seorang ulama yang kiprahnya jarang tertulis serius namun menyimpan dampak luar biasa bagi perjalanan umat Islam di Indonesia. Dialah KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, sosok yang mengusulkan nama Nahdlatul Ulama pada saat organisasi ini pertama kali dibentuk di Surabaya, 31 Januari 1926.
Keluarga dan Latar Belakang
KH Mas Alwi bin Abdul Aziz — dalam sumber sejarah juga dikenal sebagai Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon atau akrab disebut Kiai Mas Alwi— lahir pada sekitar akhir abad ke-19, diperkirakan pada tahun 1890an. Ia berasal dari keluarga ulama besar yang *terhubung dengan lini keluarga Sunan Ampel, tokoh penting penyebaran Islam di Jawa pada abad ke-15.
Ayahnya, KH Abdul Aziz al-Zamadghon, dikenal sebagai kiai besar pula, dan hubungan kultural keluarga ini mempertemukan Kiai Mas Alwi dengan berbagai lembaga pendidikan Islam klasik yang saat itu berkembang di Jawa dan wilayah Nusantara. Meski detail biografi masa kecilnya tidak tercatat secara lengkap dalam dokumen sejarah populer, jejak pendidikan dan perjalanan hidupnya mencerminkan sosok ulama yang luas pandangannya serta mantap dalam prinsip.
Pendidikan dan Perjalanan Ilmiah
Sebelum terlibat dalam sejarah pendirian NU, Kiai Mas Alwi menempuh pendidikan tradisional di berbagai pesantren. Ia belajar pertama di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, salah satu pusat keilmuan Ahlussunah wal Jamaah pada masa itu. Di sana ia bertemu dengan banyak ulama yang kemudian menjadi sahabat seperjuangan.
Dari Bangkalan, ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo— pesantren yang kemudian menjadi salah satu pusat kajian penting di wilayah Jawa Timur. Beliau juga sempat menyelesaikan rihlah ‘ilmiyahnya di Makkah al-Mukarramah, suatu tradisi yang biasa dilakukan para ulama Nusantara untuk memperdalam ilmu agama dan memperluas wawasan keilmuan Islam.
Pengalaman tersebut bukan hanya memperkaya ilmu syariat dan tasawuf beliau, tetapi juga membuka perspektif yang luas tentang dinamika umat Islam di tanah air dan dunia. Bahkan, setelah kembali dari perjalanan ilmiahnya, dikenal pula bahwa ia pernah berkeliling ke Eropa, suatu pengalaman yang pada masa itu terbilang langka bagi seorang sarjana Muslim Indonesia.
Jejak Kiprah di Surabaya dan Sosial Keagamaan
Setelah pulang dari pengembaraan keilmuan dan perjalanan yang panjang, Kiai Mas Alwi menetap di Surabaya, salah satu kota pelabuhan dan pusat kegiatan intelektual Muslim di awal abad ke-20. Di kota ini, ia membuka usaha kecil berupa sebuah warung di Jalan Sasak Ampel— sebuah kawasan yang secara historis berkaitan erat dengan tradisi Islam dan pesantren di Jawa Timur.
Namun, kehadirannya di Surabaya bukan sekedar sebagai pedagang; beliau tetap aktif dalam pergaulan ulama dan para santri, berdiskusi tentang tantangan umat Islam di masa penjajahan Belanda dan tantangan modernisasi yang mulai menyeruak.
Peran Sentral dalam Lahirnya Nahdlatul Ulama
Peristiwa bersejarah yang paling melekat dengan nama Kiai Mas Alwi adalah usulan nama Nahdlatul Ulama pada pertemuan para ulama yang kemudian melahirkan organisasi tersebut pada 31 Januari 1926.
Pada awalnya, gagasan pendirian organisasi ulama itu akan diberi nama Jam’iyyah Ulama atau istilah lain seperti Nuhudlul Ulama. Namun dalam diskusi, Kiai Mas Alwi mengajukan sebuah pemikiran berbeda: bukan sekadar perkumpulan ulama, melainkan kebangkitan ulama yang telah berlangsung selama berabad-abad lamanya melalui tradisi pesantren dan pengajaran keagamaan. Ia berpandangan bahwa perjuangan ulama seharusnya ditandai dengan istilah nahdlatul (kebangkitan) karena semangat itu sudah ada jauh sebelum organisasi resmi dibentuk.
Usul ini diterima dan akhirnya menetapkan nama Nahdlatul Ulama, yang berarti Kebangkitan Para Ulama— sebuah nama yang sampai hari ini menjadi identitas organisasi Islam tradisional terbesar di dunia.
Prinsip dan Wawasan Keagamaan
Pemikiran Kiai Mas Alwi dalam memilih nama ini mencerminkan kedalaman prinsip keagamaan dan komitmen terhadap tradisi Islam Nusantara. Bagi beliau, konsep nahdlatul bukan sekadar istilah organisasi, melainkan cerminan dari sejarah panjang ulama dalam menjaga sanad keilmuan dan keutuhan umat Muslim di Nusantara.
Dalam hal ini, beliau menunjukkan sikap intelektual yang tidak hanya terpaku kepada dinamika saat itu, tetapi juga menghargai tradisi panjang ulama terdahulu. Pemilihan nama ini sekaligus menjadi sebuah pesan bahwa NU bukan sekadar organizasi baru, tetapi kelanjutan dari tradisi ulama yang sudah hidup bermasyarakat selama ratusan tahun.
Masa Akhir dan Warisan yang Terlupakan
Meski memiliki peran sentral dalam pendirian NU, kehidupan pribadi Kiai Mas Alwi tidak berakhir dengan kemegahan yang sama. Beliau diperkirakan wafat pada usia sekitar 55 tahun, sekitar tahun 1945. Ia dimakamkan di pemakaman Rangkah, Surabaya.
Ironisnya, makam beliau sempat berada dalam kondisi yang kurang terawat dan terlupakan, tersembunyi di lingkungan pemukiman padat. Baru belakangan ini makamnya diperbaiki dengan dukungan dari masyarakat dan organisasi setempat.
Kisah ini mencerminkan paradoks sejarah: seorang ulama yang kontribusinya begitu besar dalam sejarah Islam Indonesia tetapi namanya hampir luput dari narasi populer dan penghormatan sejarah yang layak. Ia bukan figur yang terpatri dalam buku pelajaran sekolah atau diperingati secara luas oleh masyarakat umum, tetapi jasanya tetap nyata pada identitas NU yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Makna Kiprah KH Mas Alwi bagi Generasi Kini
Kehidupan dan prinsip KH Mas Alwi mengajarkan beberapa hal penting:
KH Mas Alwi bin Abdul Aziz bukan hanya sekadar tokoh sejarah yang perlu diingat, tetapi inspirasi bagi generasi masa kini untuk memaknai sejarah dengan objektif dan menghargai jasa-jasa ulama yang mungkin tidak selalu tampak pada permukaan, tetapi membentuk fondasi besar kehidupan keagamaan di Indonesia. ([ANTARA News][5])