Hai, masyarakat Indonesia!
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Mulai dari bahan tambang, mineral, sumber daya manusia, hingga kekayaan hayati yang melimpah—semuanya adalah anugerah yang patut kita syukuri. Namun, lebih dari sekadar bersyukur, hal yang lebih penting adalah bagaimana kita mengelola dan memanfaatkannya dengan baik dan benar agar dapat menjadi penopang ekonomi di negeri kita tercinta.
Tak hanya itu, Indonesia juga dikenal sebagai negara maritim. Sebutan ini muncul karena sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan laut. Tapi, apakah kalian tahu bahwa di balik besar serta luasnya lautan yang kita miliki ternyata ada sejarah di balik itu semua? Salah satunya adalah perebutan kekuasaan laut yang awalnya dipegang oleh Jepang, kemudian diambil alih oleh negara kita sendiri. Kisah ini terjadi pada tanggal 21 Agustus 1945, beberapa hari setelah proklamasi kemerdekaan diumandangkan.
Dalam kisahnya, ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) mengambil alih kekuasaan laut Indonesia dengan peralatan seadanya melawan tentara Jepang yang memiliki peralatan lengkap. Tapi pada akhirnya, kemenangan diraih oleh tentara Indonesia sendiri. Itulah awal dari dicetuskannya Hari Maritim Nasional. Tak hanya itu saja, pada 23 September Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan yang bertujuan untuk menyoroti kesadaran nasional terhadap potensi kelautan yang ada di Indonesia.
Penetapan Hari Maritim sendiri berfungsi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia agar bisa memanfaatkan kekayaan laut yang ada. Bahkan, Indonesia memiliki berbagai hewan endemik laut yang hanya dapat ditemukan di wilayahnya. Salah satunya adalah hiu martil.
Hiu martil adalah salah satu jenis hiu yang hidup di perairan Indonesia. Keunikan hiu ini terletak pada bentuk kepalanya yang menyerupai martil. Bentuk kepala ini bukan hanya sebagai ciri khas, tetapi juga berfungsi untuk membantunya berburu mangsa. Kepala yang lebar memudahkannya untuk berbelok dengan cepat dan memperluas jangkauan penciumannya dibandingkan hiu pada umumnya.
Hiu martil atau hiu palu termasuk dalam famili Sphyrnidae dan genus Eusphyra. Ia merupakan predator yang agresif dan memangsa ikan, pari, cumi-cumi, serta krustasea (sejenis udang-udangan). Hiu ini juga memiliki sistem reproduksi yang unik, yaitu dengan cara melahirkan. Dalam sekali melahirkan, seekor hiu martil betina dapat menghasilkan 20–40 anak. Proses perkawinannya juga cukup unik, di mana ia memastikan lingkungan sekitarnya aman agar proses pembuahan dapat berlangsung dengan sempurna. Masa kehamilannya berlangsung selama 10–12 bulan. Setelah dilahirkan, anak-anak hiu akan dibiarkan hidup mandiri.
Hewan endemik lainnya adalah dugong, yang juga dikenal dengan sebutan sapi laut. Dugong merupakan mamalia laut pemakan rumput laut dan satu-satunya anggota famili Sirenia yang masih bertahan hidup. Keunikan dugong terletak pada bentuk mulutnya yang menghadap ke bawah, memudahkannya untuk merumput di dasar laut. Dugong hidup di perairan hangat dan dangkal, dengan suhu optimal antara 15–17°C.
Selanjutnya, ada hiu paus, salah satu hiu yang dikenal ramah dan tidak berbahaya bagi manusia. Hiu paus, atau dalam bahasa Jawa disebut Cucut Geger, merupakan spesies pemakan plankton. Ia termasuk dalam kelas Chondrichthyes dan masuk dalam keluarga hiu badak (Rhincodontidae), dengan nama ilmiah Rhincodon typus. Hiu paus adalah hewan laut terbesar di dunia, dengan panjang mencapai 12,1 meter dan mulut selebar 1,55 meter. Di dalam mulutnya terdapat lebih dari 300 baris gigi kecil serta 20 bantalan penyaring untuk menyaring makanan.
Tubuh hiu paus memiliki warna gelap dengan bintik-bintik putih di seluruh tubuhnya, serta bagian perut berwarna putih. Kulitnya sangat tebal, mencapai 15 cm. Ia memiliki sirip punggung yang terletak jauh di belakang tubuh, sepasang sirip dada, sepasang sirip perut, dan satu sirip dubur medial. Habitatnya tersebar di seluruh perairan tropis dan beriklim hangat.
Terakhir, ada ikan mungil nan cantik bernama Mandarinfish. Ikan ini terkenal dengan warna-warnanya yang cerah dan sifatnya yang pemalu. Mandarinfish termasuk dalam famili Callionymidae (dragonet), dan berasal dari wilayah Kepulauan Ryukyu hingga Australia. Panjang tubuhnya hanya sekitar 6 cm, dengan corak garis hijau, jingga, dan kuning di seluruh tubuhnya. Makanan utamanya adalah krustasea kecil dan invertebrata.
Mandarinfish senang bersembunyi di celah terumbu karang dan aktif di malam hari, sehingga sering dijumpai penyelam saat menyelam malam. Karena perilakunya ini, ia sering disebut sebagai hewan nokturnal.
Itulah sebagian dari keanekaragaman fauna laut yang dimiliki negeri kita tercinta. Semoga dengan kekayaan alam yang luar biasa ini, kita bisa menjaga dan melestarikannya agar generasi penerus kita tetap dapat menikmatinya di masa mendatang.