Surabaya, Elmahrusy Media. Dini hari sudah saat angkot berhenti sekembalinya dari Makam KH. M. Utsman Al-Ishaqi. Peserta rombongan langsung diarahkan ke area makam tanpa singgah ke bus guna menjaga ketepatgunaan waktu yang memang terbilang singkat untuk sekadar beristirahat. Bahkan, masih ada beberapa santri yang sedikit terlambat meski sudah diarahkan dengan sigap.
Kantuk peserta menguap pada tusuk dingin malam yang merangsek masuk ke sela barisan tahlil. Kelelahan menjadi manusiawi kala pukul menunjukkan 03.00 saat tahlil mulai terucap bersamaan. KH. Melvien Zainul Asyiqien kembali mengimami tahlil kami dengan khidmat. Nuansa dingin Makam Sunan Ampel memang menawarkan perjalanan ruhaniyah yang menyejukkan.
Aroma roti Mariyam mengekor hidung kami kala istirahat menunggu adzan subuh. Lengang itu memang dikhususkan untuk kami beristirahat. Sampai tibalah waktu subuh, wudhu di tengah angin dingin memanglah tugas diri menahan hawa nafsu agar tak terlena.
Sholat subuh pun usai kami tunaikan. Do’a kembali kami sampaikan ke haribaan. Berjejer menyusuri pasar sepanjang gang. Meski tidak diperbolehkan belanja karena memang ada peraturan sebagai acuan ketertiban.
Akhirnya sebelum matahari utuh menampakkan wujudnya. Semua peserta rombongan Khazanah 2026 telah memasuki bus masing-masing. Roda berputar menuju tujuan berikutnya.