Pers Mahrusy-Kediri, Jumat (25/02) deretan santri putri berpakaian putih memenuhi maqbaroh Yai Imam Yahya Mahrus, tak hanya siswi saja para mustahiq dan mustahiqoh juga turut hadir dalam majelis. Mereka terlihat begitu antusias dalam mengikuti acara sanadan dan ijazahan yang dilaksanakan di Pondok Al-Mahrusiyah 3 Ngampel, lebih tepatnya di maqbaroh almagfurlah Yai Imam Yahya Mahrus. Ba’da sholat Jum’at tepatnya pukul 13.00 WIB acara dimulai.
Acara diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin langsung oleh KH. Reza Ahmad Zahid, kemudian dilanjut dengan khataman sekaligus pembacaan sanad untuk tamatan madrasah diniyah tingkat tsanawiyah terdahulu, dimulai dari kitab Al-Jurumiyah karya Imam As-shonhaji , dilanjutkan dengan kitab Safinnatun Najah karya Syaikh Salim Ibn Samiir Al-Hadhromy dan Nadzmul ‘imrithy karya Syaikh Syarifuddin Yahya Al- Imrithi, kemudian diakhiri dengan sanad kitab matan khulashoh fii ghoyati taqrib karya Abu Syuja’.
اَلْمَرْءُ يَتِيْرُبِهِمَّتِهِ كَمَا يَتِيْرُ اَلطَّيْرُبِجَنَاحَيْهِ
“Orang yang terbang dengan himmahnya (semangat), seperti halnya terbangnya seekor burung dengan kedua sayapnya” Maka, ketika seseorang tidak punya himmah maka tidak punya sayap. Ketika seseorang patah himmahnya, patah pula sayapnya. Begitulah perumpamaannya.
Gus Reza, sapaan akrab beliau, mempunyai sanad kitab seperti Aj-Jurumiyah, Safinatun Najah dari Yai Imam sendiri yang merupakan Abahnya. Gus Reza mengaji kitab jurumiyah pertama kali saat kelas 6 SD dengan Yai Imam hingga berkali-kali.
“Saya dulu ngaji Jurumiyah pertama kali kelas 6 SD dengan Yai Imam. Saat itu awalnya boleh dimaknai kitabnya namun saat baca kitabnya harus kosongan. Untuk selanjutnya tidak boleh dimaknai dan bacanya kosongan. Bahkan ketika baca kitab, kemudian di pertengahan membaca salah maka Yai Imam menyuruh saya untuk mengulang sampai tiga kali. Kemudian setiap saya pulang sekolah dari MHM, beliau sering bertanya “membawa kitab apa?” lalu sebelum masuk rumah disuruh membaca kitab terlebih dahulu, walau hanya beberapa baris saja” Tangkas Gus kharismatik lulusan Al-Ahgaf Yaman ini.

Beliau juga bercerita bahwa Syaikh Yasin Isa Al-Fadani adalah guru Yai Mahrus Aly dan Yai Imam Yahya saat di Makah. Syaikh Yasin merupakan musnid hadist, sehingga kebanyakan sanad para ulama itu dari beliau. Bahkan Syaikh Yasin pernah ke ndalem Yai Mahrus di Lirboyo saat Yai Mahrus pulang keharibaan-Nya. Selain untuk takziyah beliau sekaligus memberikan sanad keilmuannya pada dzuriyah Lirboyo.
“Sesudah sanadan, insyaallah ilmu kita bisa dipertanggung jawabkan sampai kepada mualif dan nabi. Sehingga menjadi satu amanah untuk kita amalkan, karna orang yang memiliki ilmu tapi tidak diamalkan dia adalah orang yang al khiyanah kubro (khianat besar) sebab khianat ini lebih besar dari khiyanatul maal (khianat harta). Maka amalkan ilmu yang kalian dapatkan secara amanah, karena ketika seseorang tidak punya guru dan sanad maka gurunya adalah setan seperti berguru dengan google adalah salah satu contohnya.” Tutur putra pertama Yai Imam Yahya ini.

لَوْلاَ اَلسَنَدُ لَوْلاَالْمَقَالُ شَاءَبِهِ
“Kalau kita punya sanad, insyaallah sesuatu yang kita katakan dijaga dan terjaga. Tapi jika tidak maka sebaliknya”. Tutur Gus Reza pada seluruh santri sanadan.
Beliau juga menjelaskan bahwa Tholabul ‘ilmi (mencari ilmu) itu lebih baik tuluzzaman (waktu yang lama) dan katsrotu syaikh (banyak guru) maka kita akan mendapatkan ibroh. Usai membacakaan sanad kitab tingkat Tsanawiyah beliau mengkhatamkan sekaligus membacakan sanad untuk kitab Madrasah Diniyah tingkat Aliyah yakni kitab Alfiyah Ibnu Malik karya Syaikh Muhammad Abu Abdillah bin Malik Al-Andalusy.
Selain membacakan sanad, beliau juga memberikan ijazah yang dikhususkan bagi tamatan tingkat Aliyah yang telah dirangkum dalam kitab wushulul hikmah. Kemudian untuk tamatan tingkat Tsanawiyah dipersilahkan untuk meninggalkan maqbaroh terlebih dahulu.