web analytics

Khazanah 2026: Makam Masyayikh Gedongan

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:1 Minute, 41 Second

Gedongan, Elmahrusy Media. Tujuan terakhir dalam Khazanah 2026 sebelum nanti pulang ke Al Mahrusiyah. Di hari terakhir perjalanan ini dan terik menyengat di Cirebon, kami berziarah ke makam KH. Muhammad Sa’id. Meski nanti di tengah perjalanan pulang kami akan disinggahkan ke rest area Ngawi. Namun, di sinilah muawada’ah (perpisahan) dilangsungkan.

Tepat saja, setelah tahlil selesai dibacakan KH. Melvien Zainul Asyiqien. Beliau langsung menyambung dengan kalimat pembukaan. Layaknya seorang pembawa acara Gus Iing mempersilahkan Agus H. Izzul Maula Dliyaullah untuk sambutan yang pertama. Gus Izzul mendoakan semoga perjalanan ziarah Khazanah 2026 diliputi barokah melimpah. Apresiasi sebesar-besarnya Gus Izzul berikan pada tamatan dan panitia yang tahun ini sangat kompak. Pesan beliau, kekompakan ini harus terus dijaga di mana pun itu tempatnya.

Sambutan kedua dibawakan Agus H. Nabil Ali Ustman, sanjungan juga beliau tuju kan pada segenap panitia dan peserta atas kelancaran berjalannya Khazanah 2026. Gus Nabil berpesan, bahwa almamater harus selalu dibawa sampai kapan pun. Beliau juga mengutip falsafah Jawa “Teken, Tekun, Tekan” bila seorang santri memiliki teken (tongkat) pegangan keilmuan. Maka harus tekun menjaga juga percaya diri melangkah. Ketika kita sudah memiliki Teken dan bisa Tekun, kita akan Tekan (sampai).

Penghabisan sambutan oleh KH. Reza Ahmad Zahid diawali dengan do’a pada seluruh peserta dan panitia Khazanah 2026 semoga keberkahan senantiasa didapatkan. Dengan agenda seperti ini menjadi bukti hubungan santri terhadap gurunya harus selalu bersambung sebab tidak ada istilah mantan santri. Kun santriyan hatsuma kunta, di mana pun kita berada kita adalah santri. Dengan menjaga akhlak kepesantrenan kita akan mengalirkan ridho dan do’a-do’a dari leluhur kita.

Beliau juga bercerita tentang hadits nabi, ketika Rasulullah ditanya “Amal apa yang terbaik dilakukan ya rasul?” Nabi menjawab “Al hal wal murtahil.” Bahwa amal terbaik ialah amal yang kita terus ulangi meskipun telah rampung melaksanakannya.

Suasana cair di muwadda’ah kali ini merambat pada keceriaan seluruh peserta dan panitia Khazanah 2026. Selesai agenda di Makam KH. Muhammad Sa’id kami melaksanakan sholat jama’ qoshor taqdim dzuhur dan ashar sebelum bus dipacu pulang menuju asrama kami masing-masing.

About Post Author

Abidzar Maulana

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
Khazanah 2026
ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Isra Mi’raj : Momentum Memetik Barokah dan Menjemput Manfaat

Isra Mi’raj : Momentum Memetik Barokah dan Menjemput Manfaat

Kuis Pemantik dan Analogi Unik Warnai Peringatan Isra’ Mi’raj di Asrama Al-Misky

Kuis Pemantik dan Analogi Unik Warnai Peringatan Isra’ Mi’raj di Asrama Al-Misky

Gus Reza Memaknai Isra Mi’raj Dalam Masbro Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah 3 Ngampel

Gus Reza Memaknai Isra Mi’raj Dalam Masbro Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah 3 Ngampel

Masbro dan Is’ra Mi’raj Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah Putra Lirboyo

Masbro dan Is’ra Mi’raj Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah Putra Lirboyo

Khazanah 2026: Makam Sunan Gunung Jati

Khazanah 2026: Makam Sunan Gunung Jati

Khazanah 2026: Makam Raden Fatah

Khazanah 2026: Makam Raden Fatah