Di tengah kehidupan pesantren yang lekat dengan tradisi keilmuan dan spiritualitas, terdapat amalan-amalan yang tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi telah menjadi bagian dari napas kehidupan para santri. Salah satunya adalah pembacaan Rotibul Haddad dan Maulid Ad-Diba’i yang dilaksanakan secara rutin setiap malam Jumat Legi di Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah. Rutinan ini diikuti oleh seluruh santri Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah sesuai dengan jadwal giliran yang ditentukan. Kegiatan ini menjadisebagai salah satu momentum bersama untuk menghidupkan doa, zikir, sekaligus kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Pembacaan Rotibul Haddad memiliki akar sejarah yang panjang. Rotib ini disusun oleh seorang ulama terkemuka dari Hadramaut, yaitu Al-Habib Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad Al-Haddad. Di dalamnya terkandung ayat-ayat Al-Qur’an, doa, dzikir, dan pujian kepada Allah SWT yang dirangkai sebagai wirid. Bagi masyarakat pesantren, pembacaan rotib bukan sekadar aktivitas melafalkan rangkaian doa, tetapi juga merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon keberkahan dalam kehidupan.
Pembacaan Rotibul Haddad di Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah dilaksanakan beriringan dengan Maulid Ad-Diba’i. Keduanya menjadi satu kesatuan tradisi yang mempertemukan dzikir, doa, dan ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Jika Rotibul Haddad menghadirkan rangkaian doa dan dzikir, Maulid Ad-Diba’i menghadirkan kisah serta pujian terhadap Rasulullah SAW. Malam Jumat Legi pun menjadi lebih dari sekadar malam berkumpulnya para santri. Ia menjadi ruang bersama untuk menata kembali hubungan spiritual dengan Allah SWT sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Tradisi tersebut menyimpan sebuah kisah keteladanan dari sosok KH. Imam Yahya Mahrus, selaku muasis Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah. Semasa sugengnya, beliau senantiasa melanggengkan pelaksanaan rutinan Rotibul Haddad dan Maulid Ad-Diba’I sebagai wujud kecintaan beliau kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Bahkan, ketika kondisi fisik beliau mulai renta, semangat beliau terhadap Rotib dan Maulid tersebut tidak serta-merta terhenti.
Kisah tersebut disampaikan langsung oleh Ning Hj. Ita Rosyidah Miskiyah, putri Yai Imam. Menurut penuturan beliau, menjelang wafatnya, Yai Imam tetap berusaha mengikuti rutinan tersebut meskipun tidak dapat hadir secara langsung di tempat acara. Beliau mengikuti lantunan Rotibul Haddad dan Maulid Ad-Diba’i dari balik tirai yang menjadi pemisah antara ruang acara dengan tempat istirahat beliau. Disamping itu, adanya dzikir, do’a dan pujian yang terkumpul dalam aktivitas ini merupakan bentuk riyadhoh atau usaha untuk menjaga keamanan diri, hati serta tempat kita menuntut ilmu. Supaya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, tidak cukup usaha secara lahiriyah saja untuk itulah diperlukan usaha batiniyah salah satunya dengan membaca wirid yang diwariskan oleh KH. Imam Yahya Mahrus.
Bagi santri, keberkahan merupakan sesuatu yang tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasatmata. Ia dapat berupa ilmu yang bermanfaat, hati yang tenang, kemudahan dalam menjalani kehidupan, serta kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Karena itu, ngalap barokah menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi kehidupan pesantren, salah satunya adalah keberkahan dari rutinan pembacaan Rotib dan Maulid.
Kisah tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat sebuah pesan yang kuat tentang keteguhan dan konsistensi tiada henti dalam mengamalkan dan mencintai apapun yang beliau Imani. Ketika tubuh tidak lagi mampu hadir sebagaimana sebelumnya, hati tetap diarahkan untuk mengikuti majelis. Apa yang dilakukan KH. Imam Yahya Mahrus juga memperlihatkan bahwa sebuah tradisi pesantren tidak selalu diwariskan melalui nasihat atau tulisan. Sering kali, tradisi justru
diwariskan melalui keteladanan. Para santri menyaksikan bagaimana seorang kiai menjalankan amalan yang beliau ajarkan dan bagaimana sebuah rutinitas keagamaan memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan seorang teladan.
Di sinilah letak pentingnya tradisi dalam kehidupan pesantren. Sebuah tradisi bukan hanya perkara pengulangan kegiatan dari waktu ke waktu, tetapi juga proses pewarisan nilai. Ketika seluruh santri berkumpul dalam satu majelis, mengikuti pembacaan Rotibul Haddad dan Maulid Ad-Diba’i yang dipimpin pengasuh, terdapat sebuah ikatan spiritual yang dibangun secara bersama-sama. Santri belajar bahwa keberkahan ilmu dan kehidupan tidak hanya dicari melalui proses belajar, tetapi juga melalui doa, zikir, adab, dan kedekatan dengan para ulama.
Pembacaan rotib yang dibarengi dengan maulid juga berangkat dari harapan untuk memperoleh keberkahan dari doa-doa yang dilantunkan. Setiap bacaan menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT agar kehidupan senantiasa diberi kebaikan dan kebermanfaatan. Di saat yang sama, pembacaan Maulid Ad-Diba’i menjadi sarana untuk memperbarui kecintaan kepada Rasulullah SAW serta mengharapkan syafaat beliau.
Lebih jauh, tradisi ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat berlangsungnya proses transfer ilmu pengetahuan. Pesantren juga merupakan ruang nilai, adab, doa, dan kebiasaan baik diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Apa yang dilakukan oleh seorang kiai menjadi bagian dari pendidikan yang mungkin tidak tertulis dalam kitab pelajaran, tetapi dapat membekas kuat dalam ingatan dan perilaku para santri.
Karena itu, Rotibul Haddad dan Maulid Ad-Diba’i yang dilaksanakan setiap malam Jumat Legi bukan sekadar agenda rutin dalam kalender kegiatan Pondok PesantrenHM Al-Mahrusiyah. Di dalamnya terdapat doa, kecintaan, keteladanan, dan harapan akan keberkahan. Lebih dari itu, terdapat jejak pengasuh yang telah terlebih dahulu menghidupkan tradisi tersebut dan kemudian meninggalkan teladan bagi generasi setelahnya.
Pada akhirnya, merawat tradisi bukan sekadar mempertahankan sebuah kebiasaan agar tidak hilang. Merawat tradisi berarti menjaga nilai yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup. Selama lantunan Rotibul Haddad dan Maulid Ad-Diba’i masih menggema di malam Jumat Legi, selama para santri masih berkumpul dalam satu majelis dan melantunkan doa dengan harapan memperoleh keberkahan serta syafaat Rasulullah SAW, selama itu pula warisan spiritual para ulama akan terus menemukan jalannya untuk hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.