web analytics

Ngaji Syamail Part 23: Sifat Amanahnya Rasulullah SAW

ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">
0 0
Read Time:3 Minute, 8 Second

Para ahli tafsir berpendapat bahwasanya Rasulullah SAW memiliki julukan Al Amin, ucapan beliau sangat dipercaya dan terpercaya dari kalangan Quraiys sebelum diangkat menjadi nabi. Kala itu, ada sebuah perselisihan memperebutkan siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di dalam Ka’bah? Karena kehendaknya Allah SWT jadilah yang meletakkan Hajar Aswad tersebut kanjeng Nabi Muhammad SAW kekasih Allah yang dijuluki dengan sebutan Al Amin.

Ning Ochi menjelaskan, “Perlu diketahui pembangun Ka’bah pertama adalah malaikat.” Tutur Ning Ochi. Jadi, awal mula pembentukan Ka’bah itu adalah persegi panjang, Karena ada suatu pertimbangan, Ka’bah tersebut direnovasi menjadi kubus. Dari sisanya bentuk tersebut terdapat sisa ½ lingkaran yang dinamakan dengan Hijr Ismail.

Abu Jahal menyatakan:

وما انت فينا بمكذب ولكن نكذب بما جئت به انا لا نكذبك

Kemudian Allah berfirman pada QS. Al An’am: 33 yang menjelaskan, “Orang-bodoh itu adalah orang yang diberi kebenaran tapi dia tidak ingin mengimani.” Sangat jelas bagaimana nabi Muhammad SAW adalah orang yang benar dan dipercaya. Karena sifat angkuhnya para kaum jahiliyyah pada masa itu yang seolah-olah merasa paling benar ketika Rasulullah menyampaikan nasihat, sehinggga orang jahiliyyah tersebut tidak percaya dengan apa yang dibawa oleh Rasuluullah SAW.

Rasulullah SAW adalah sosok yang pemalu. Sehingga Ning Ochi ngendikan, “Panjengan niku seharusnya malu jika terlihat mencolok, malu menjadi pusat perhatian, malu mengenakan pakaian yang ketat, karena hal itu adalah penggambaran orang yang memiliki sifat lupa dengan rasa malunya,”

Kemudian Ning Ochi menambahkan, “Contoh lainya seperti dengan percaya dirinya joget-joget di depan kamera, rela memviralkan saudara sendiri ketika terkena musibah demi membuat konten. Apakah tindakan semua itu bisa membuat derajat kita lebih tinggi?” tutur beliau.

“Kita sebagai santri jangan sampai kehilangan jati diri kita sebagai santri, jangan sampai lisan kita menjerumuskan ke dalam hal kemaksiatan, gambarannya seperti ketika ditempat umum dengan percaya dirinya mengeluarkan suara yang keras dan kata kata tidak seharusnya dikeluarkan demi mendapatkan perhatian lebih dari khalayak ramai. Itulah gambaran dari zaman sekarang yang rasa malunya mulai terkikis.” Nasihat Ning Hj.Itta Rosyidah Miskiyyah.

Gambaran lain dari sifat pemalunya Rasulullah SAW adalah ketika nabi Muhammad SAW tidak menyukai tingkah laku seseorang yang membuat beliau itu marah, seketika wajah beliau langsung terlihat marah dari pandangan orang lain memandang, akan tetapi beliau tidak marah.

Beliau memiliki wajah tersirat (tidak selalu menatap) dan selalu menundukkan kepala itu adalah bentuk dari cara beliau menjaga pandangan.

Ning Ochi menambahkan, “Dan adab dari masuk kamar mandi yaitu dengan menggunakan kaki kiri dan keluar menggunakkan kaki kanan setelah itu ketika hendak membuka baju diawali dengan membaca basmalah terlebih dahulu,” pesan beliau kepada para santri.

Dijelaskan pula dalam Kitab Syamail Rasulullah SAW adalah sosok yang humoris, bercandanya selalu dalam hal kebaikan bukan dalam hal dusta. Beliau sangat menyukai anak kecil sehingga beliau memberikan sebutan tersendiri dengan sebutan يا ابا عمير . Rasulullah SAW tidak pernah menolak hadiah dari seseorang, karena timbulnya rasa kasih sayang itu juga karena saling mengasihi satu sama lain.

Dahulu terdapat suatu kisah, ada seseorang datang memberikan hadiah kepada Rasulullah SAW tapi hadiah tersebut dalam keadaan belum terbayar, sehingga Rasulullah SAW yang membayar tanggungan hutangnya orang yang memberikan hadiah kepada Rasulullah SAW tersebut.

Namun, Rasulullah tidak marah, beliau tersenyum kala mendengar penjelasan dari sang pedagang, kemudian beliau membayar hadiah tersebut.

Dikisahkan pula pada suatu hari datanglah wanita tua yang meminta do’a kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, doakan saya supaya bisa masuk surga!” kemudian beliau menjawab, “Di dalam Surga tidak ada orang tua!” dari tutur kata beliau tersebut, wanita tua itu langsung pergi meninggalkan Rasulullah dengan keadaan menangis.

Kemudian Rasulullah mengutus sahabatnya untuk menjelaskan bahwasanya di dalam surga tidak ada orang tua, semua orang akan diselaraskan di usia tengah tengah.

“Kamu adalah berharga di mata Allah SWT jadi jangan takut ketika kamu melakukan suatu kebaikan.”

Wallahu a’lam.

Oleh: Selviana Anggraini

 

 

 

 

 

 

 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
AmanahSyamail
ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-format="fluid" data-ad-layout-key="-hl+e-h-ax+mx" data-ad-client="ca-pub-8525911879235889" data-ad-slot="5239857579">

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Tanggung Jawab Manusia Terhadap Lingkungan

Tanggung Jawab Manusia Terhadap Lingkungan

Hubungan Santri Dengan Literasi

Hubungan Santri Dengan Literasi

Guru Sebagai Profesi atau Ajang Mengabdi?

Guru Sebagai Profesi atau Ajang Mengabdi?

Tor Monitor Ketua …

Tor Monitor Ketua …

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet

Relevansi Dakwah Digitalisasi Bagi  Santri

Relevansi Dakwah Digitalisasi Bagi Santri