Di berbagai penjuru pesantren Syair ilahilas sangat terkenal dan sering dibacakan sebagai pujian, syair yang diciptakan oleh seorang Penyair ulung asal Persia ini menjadi salah satu karya masterpiece sepanjang masa, oleh seorang yang ingin diampuni dosa-dosa oleh Sang Kuasa, maka bagi dirinya merayuNya adalah salah satu caranya
Abu Nawas atau dikenal sebagai Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami (756-814), atau Abū-Nuwās (Bahasa Arab:ابونواس), adalah seorang pujangga Arab. Dia dilahirkan di kota Ahvaz di negeri Persia, dengan darah Arab dan Persia mengalir di tubuhnya.
Meski terjerumus dalam kubangan maksiat, Abu Nawas sempat menuntut ilmu agama, yakni ilmu Al Qur’an, ilmu hadis, dan sastra Arab melalui sejumlah ulama. Setelah hidayah Allah, besar kemungkinan taubatnya Abu Nawas ditengarai oleh manfaat ilmu agama yang pernah dipelajarinya. Sisi lain dari Abu Nawas inilah yang tidak sepopuler reputasinya sebagai penyair eksentrik dan gemar hura-hura.
Sahabat Abu Nawas, Abu Khalikan, menuturkan bahwa sebelum wafatnya, Abu Nawas menulis bait-bait syair yang ia sembunyikan di bawah bantal. Ibnu Khalikan mengaku bertemu Abu Nawas dalam mimpi dimana ia berkata, “Wahai Abu Nawas, apa balasan Allah terhadapmu?”
Abu Nawas menjawab, “Allah Mengampuni dosaku karena beberapa bait syair yang ku tulis saat aku sakit sebelum wafat, syair itu berada di bawah bantalku.”
Abu Khalikan kemudian mendatangi kediaman keluarga Abu Nawas dan benar saja, ia menemukan secarik kertas berisi syair di bawah sebuah bantal. Di antara penggalan bait syair terakhir yang ditulis Abu Nawas berbunyi:
“Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang yang baik-baik saja,
Lalu kepada siapakah orang yang jahat akan memohon?”
***
Alkisah ada tiga orang tamu bertanya kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama.
Orang pertama bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
Abu Nawas menjawab, “Orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil.”
Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” kata Abu Nawas.
Orang kedua bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang tidak mengerjakan keduanya.”
“Mengapa?” kata orang kedua.
“Sebab lebih mudah diampuni oleh Tuhan,” kata Abu Nawas.
Orang kedua bertanya, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
Jawab Abu Nawas, “Orang yang tidak mengerjakan keduanya.”
“Mengapa?” kata orang kedua.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu tidak memerlukan pengampunan dari Tuhan,” kata Abu Nawas.
Kini giliran orang ketiga, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”
“Orang yang mengerjakan dosa-dosa besar,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa?” kata orang ketiga.
“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba itu,” jelas Abu Nawas.
Kemudian ketiga orang itu pulang dengan perasaan puas.
Ada murid yang sejak awal mendengar tanya jawab Abu Nawas dan ketiga tamunya.
Kerena belum mengerti ia pun bertanya kepada Abu Nawas.
“Mengapa dengan pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda?” tanya si murid.
Jawab Abu Nawas, “Manusia dibagi menjadi tiga tingkatan.
Tingkatan mata, tingkatan otak, dan tingkatan hati.”
Kemudian Abu Nawas menjelaskan ketiga tingkatan itu.
Ada anak kecil yang melihat bintang di langit.
Ia mengatakan bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan mata.
Demikianlah tingkatan mata.
Berbeda dari orang pandai yang melihat bintang di langit.
Ia mengatakan bintang itu besar karena ia berpengetahuan.
Inilah tingkatan otak.
“Lalu apakah tingkatan hati itu?” sela si murid.
Ialah orang pandai dan mengerti yang melihat bintang di langit.
Ia tetap mengatakan bintang itu kecil walaupun ia tahu bintang itu besar.
Karena bagi orang yang mengerti, tidak ada sesuatu apa pun yang besar jika dibandingkan dengan ke Maha Besaran Allah.
Si murid mulai mengerti maksud dari Abu Nawas.
“Wahai guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?” si murid bertanya lagi.
“Mungkin,” jawab Abu Nawas.
Bagaimana caranya?”
“Dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” jelas Abu Nawas.
***
Syair I’tiraf adalah doa Abu Nawas untuk merayu Tuhan, menjadi syair dan pujian yang populer dikalangan muslim.
Syairnya indah, membuat siapa saja yang membacanya secara khidmat ingin meneteskan air mata.
Misalkan pada baris pertama syair yang berarti, “Wahai Tuhanku, hamba tak pantas menjadi penghuni surga.
Namun, hamba pun tak sanggup menjadi penghuni neraka.”
Abu Nawas, meninggal dunia pada tahun 806 M, walaupun dari banyak versi ada yang mengatakan pada tahun 813 M, ada pula yang mengatakan 814 M, Wallahu A’lam, penyair yang ahli maksiat ini diakhir hayat nya, menulis syair yang memuji dan merayu Tuhannya, atas sesalnya mengenai dosa-dosa yang ia lakukan semasa hidupnya, jenazahnya dikebumikan ditanah Baghdad, Irak. Tepatnya di pemakaman Syunizi. Walaupun telah diratakan dengan tanah, pada suatu waktu yang tidak diketahui, makamnya sering dikunjungi para peziarah yang ingin mengambil berkah atas dirinya, dan kini sebuah jalan di Baghdad juga telah diberi nama Abu Nawas, sebagai penghormatan serta penghargaan atas karyanya.
Wallahu A’lam