Setelah menyerap begitu banyak ilmu-ilmu dipesantren, Hal yang pasti dilakukan kebanyakan santri adalah kembali pulang ke kampung halamannya, dan pulang tak sekedar pulang, tapi dibalik kata pulang terdapat tugas abadi yang diemban seorang santri, yakni untuk menyebarkan ilmu-ilmu yang didapat, sehingga santri ketika pulang tak hanya sebatas membawa abu, tapi membawa bara yang dalam tanda kutip menyalakan kembali api pesantren di lingkungan masyarakat dengan cara menyebarkan ilmu-ilmunya, selaras dengan dawuh Mbah Yai Karim yang melegenda, ”santri lek mulih ojo lali ngadep dampar”.
Nasihat atau pesan ini bukan hanya sekadar nasihat etik belaka, tapi bagi santri khususnya santri lirboyo menjadikan dawuh ini sebagai filosofi hidup dalam mengimplementasikan ilmu-ilmunya, sehingga ketika santri sudah tamat jenjang pesantrennya bukan berarti ia sudah berhenti dan terbebas dari yang namanya belajar, tetapi terus hidup dan tak berjauhan dengan ilmu. Nabi SAW pun dalam hadisnya menerangkan bahwa setiap kaum muslim itu wajib untuk menuntut ilmu dari ayunan ibunya sampai ia tidur diliang kuburnya, dan dalam hadis lain dijelaskan bahwasannya Nabi memerintahkan untuk menyebarkan dari Nya, walaupun itu hanya satu ayat.
Sehingga ketika pulang, bekas seorang santri bukan hanya sekedar abu, atau dalam tanda kutip sekadar formalitas lulus dengan ijazah, tetapi lebih dari itu seorang santri mampu memberikan manfaat lewat ilmu-ilmu yang didapat.
Memaknai dampar sebagai komitmen esensial.
Dampar sendiri ketika dimaknai secara singkat adalah sebuah meja yang digunakan seorang guru untuk mengajar, akan tetapi definisi luasnya, dampar sendiri melambangkan pusat spiritualitas, sumber sanad ilmu yang jelas dan komitmen moral-sosial yang diajarkan. Secara singkatnya dampar dimaknai sebagai nilai esensial yang harus terus dipegang santri yang sudah pulang kerumah.
Terdapat tiga pilar yang terkandung dalam kata Dampar.
Dampar adalah komitmen untuk menjaga dan memuliakan ilmu dengan mengamalkannya, ilmu bukan hanya untuk dihafal dan diajarkan, tetapi juga untuk diamalkan. Komitmen untuk memastikan ilmu yang diwariskan adalah murni dan bersanad, dan bebas dari kepentingan duniawi. Dampar diartikan sebagai pengakuan bahwa ilmu adalah amanah Ilahi yang harus diraih dengan kesucian hati. Dampar juga merupakan pengakuan bahwa ilmu naqli (agama) harus menyatu dengan ilmu aqli (akal) dan dibungkus dengan tasawuf (spiritualitas). Ilmu tanpa akhlak (Tawadhu’) tentu akan menjadi sebuah kesombongan.
Ngadep dampar adalah komitmen untuk mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi umat, sejalan dengan hadis Nabi, “sebaik-baiknya Manusia adalah yang paling bermanfaat bagi Manusia lainnya”. Dimata masyarakat, santri adalah dampar berjalan, tugas esensialnya adalah bersikap rendah hati dan siap berkhidmah (melayani) serta berbaur tanpa memandang status. Inilah inti dari penyebaran ilmu, dengan menunjukan bahwa ilmu menghasilkan akhlak mulia.
Ilmu adalah amanah dari Allah SWT, bukan hak pribadi untuk dipergunakan sesuka hati. Seorang santri harus menyampaikan ilmu secara jujur dan adil, tanpa membelokkan atau menutupi kebenaran demi kepentingan duniawi. Komitmen ini mengubah seluruh aktivitas mengajar menjadi ibadah yang tak terputus. Tujuan utama dari Dampar adalah menghasilkan amal jariyah (amal yang pahalanya terus mengalir) melalui penyebaran ilmu yang bermanfaat. Secara keseluruhan, komitmen esensial terhadap Allah adalah menjadikannya Mihrab Vertikal, tempat dimana niat dimurnikan, ilmu disucikan, dan segala pengabdian diarahkan semata-mata untuk meraih ridho Ilahi.
Dengan demikian memaknai dampar sebagai komitmen esensial adalah memahami bahwa kedudukan seorang ulama tidak diukur dari tinggi bangku atau megahnya pesantren, melainkan dari kedalaman janji batin untuk mengamalkan ilmu dengan kerendahan hati, berjuang untuk umat dan sepenuhnya ikhlas kepada ilahi. Dampar adalah tanggung jawab bukan sekedar kehormatan.
wallahu a’lam