KH Mahrus Aly dalam suatu kesempatan pernah ngendikan; “Mulango Ngaji! Nek nganti awakmu ora iso mangan ketho’en kupingku”. Kalau di terjemahkan artinya “Mengajarlah Ngaji! Kalau sampai kamu tidak bisa makan (miskin) potonglah telingaku”. Dengan karomah beliau, dawuh atau kalimat yang beliau keluarkan tentu menjadi kalimat yang melegenda dan terus dipegang oleh para santri lirboyo, tentu karena ini adalah dawuh yang dilontarkan daripada seorang guru, menjadikannya sebagai Mentalitas santri Lirboyo.
Kalimat ini lahir dari kedalaman maqam atau kedudukan kewalian dan keyakinan yang sangat tinggi dan tentu menjadikan kalimat ini masyhur dikalangan santri Lirboyo. Beliau memahami betul bahwa kekhwatiran para santri terutama setelah menyelesaikan jenjang pesantren adalah urusan ekonomi. Dengan Bahasa yang lugas, tegas dan berani, beliau bahkan berani mempertaruhkan telinganya jika nanti dengan mengajar, para santri tidak bisa makan. Beliau tentu ingin memutus rantai keraguan tersebut dari dalam hati para santrinya. Mbah Mahrus menegaskan pula bahwa pengabdian kepada Al-Qur’an dan Ilmu Agama tidak akan pernah berujung pada kesengsaraan dunia, melainkan justru menjadi pintu pembuka bagi keberkahan yang tak terduga, terlebih perihal Rizqi.
Secara esensial, dawuh ini mengajarkan kepada konsep tawakkal tingkat tinggi, yang aktif dan bukan pasif. Mengajar ngaji adalah bentuk nyata dari upaya menolong agama Allah. Sebagaimana termaktub dalam Firman-Nya bahwa siapa yang menolong agama-Nya, maka Allah akan meneguhkan kedudukannya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”
Rizqi yang dijanjikan tentu bukan hanya perihal materialistis uang, pangkat atau harta yang melimpah, namun lebih kepada konsep barokah. Keberkahan adalah bertambahnya kebaikan, dimana nanti akan mendapatkan berupa kecukupan dan rasa syukur serta ketenangan yang senantiasa menyelimuti. Inilah sejatinya kekayaan sejati yang seringkali tidak dimiliki mereka yang hanya selalu mengejar angka-angka nominal tanpa menyisipkan pengabdian di dalamnya
Di zaman yang serba materialistis, dawuh Mbah Mahrus ini tentu sangat relevan sebagai tameng dan juga senjata bagi para guru madrasah terlebih bagi para santri Lirboyo khususnya. Seringkali tanpa kita sadari, tekanan sosial memaksa seseorang untuk meninggalkan dunia pendidikan agama demi mencari pekerjaan yang dianggap lebih “menghasilkan”. Namun, banyak juga diluar sana yang mampu membuktikan bahwa para pengajar terlebih alumni pesantren yang dalam kesehariannya diisi dengan mengajar TPQ di mushola atau madrasah di desa-desa terpencil mampu membiayai kehidupan keluarganya.
Tentu hal ini bukan berarti kegiatan mengajar lantas dijadikan sebagai prosefesi. Akan tetapi, tetap saja harus punya pekerjaan yang memang dapat mampu menunjang penghasilannya, dan tetap tidak meninggalkan kegiatan mengajar dan juga membagikan ilmu, dengan mengkolaborasikan antara keduanya, tentu keberkahan akan senantiasa dalam genggamannya.
Keberanian Mbah Mahrus dalam memberikan jaminan ini juga menunjukkan betapa pentingnya peran guru ngaji dalam menjaga moralitas bangsa. Beliau sadar bahwa jika pilar penghafal kitab dan Al-Qur’an lantas berhenti mengajar karena takut miskin, maka runtuhlah pilar-pilar peradaban Islam. Oleh karena itu, beliau dengan tegas menyampaikan Dawuh tersebut demi memastikan estafet keilmuan tetap terjaga. Keyakinan Beliau ini menular kepada ribuan alumni Lirboyo yang kini tersebar diseluruh penjuru negeri, membangun surau dan madrasah tanpa sedikit pun rasa takut akan kelaparan. Hal ini tentu juga memiliki korelasi dengan apa yang disampaikan Mbah Yai Abdul Karim, “santri lek muleh, ojo lali ngadep dampar”.
Sekali lagi, bahwa dawuh mulia Mbah Mahrus ini adalah warisan spiritual dan juga semangat mentalitas yang harus terus digemakan. Mengajar adalah sebuah misi suci yang memiliki pendanaan langsung dari langit. Kita sebagai santri harus percaya bahwa selama lisan kita masih bisa mengucap serta mengajar alif, ba, ta, maka sang Ar-Razzaq (Sang Maha pemberi Rezeki) akan selalu menjamin keberlangsungan hidup kita.
Wallahu a’lam