Melihat semakin maraknya anak muda yang telah berpasangan, ataupun melihat kasus-kasus baru-baru ini, mungkin kita bisa memandangnya dengan sedikit lebih logis. Mulai dari mengapa hal ini terjadi, apa yang membuatnya terjadi, dan terakhir, jika hal ini terus berlangsung, apa yang akan terjadi?
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Setiap hari, bahkan setiap malam, tentu kita sering melihat banyak anak muda berpegangan tangan dengan lawan jenis, mulai dari di dalam sekolah, taman kota, pusat perbelanjaan, ataupun di tempat lain.
Namun, kita sering lupa untuk bertanya: mengapa tren ini seolah telah menjadi hal yang normal saat ini? Ada beberapa faktor yang mendukung, seperti:
Hal ini menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam beberapa kasus yang terjadi. Bukan berarti menormalkan, akan tetapi dalam fase ini seorang anak muda mulai berusaha memahami kondisinya sendiri ketika ia mencoba mencari tahu siapa dirinya.
Tak hanya itu, pada fase ini para anak muda sering menjadikan pasangan sebagai ruang “laboratorium” untuk mencari jati diri mereka. Terlihat jahat memang. Dengan kondisi kedewasaan perempuan yang umumnya lebih cepat daripada laki-laki, hal ini terkadang membuat perempuan lebih rentan menjadi korban dari ketidakmatangan emosional pasangan.
Namun, hal ini dapat dikurangi dengan adanya dukungan dari keluarga ataupun kerabat agar tidak sampai menjadikan anak perempuan sebagai “tumbal” dari proses pencarian jati diri tersebut. Bahkan, dukungan itu juga dapat mengurangi luka batin akibat hubungan yang tidak sehat.
Setelah memiliki “ruang laboratorium” dalam kesehariannya, anak muda saat ini juga difasilitasi dengan berbagai contoh hubungan dari media sosial.
Jika dilihat dengan mata terbuka, banyak pasangan sekarang menjalani hubungan layaknya pasangan suami istri, mulai dari gaya hidup hingga cara mereka menanggapi berbagai hal. Akan tetapi, yang paling menyakitkan adalah ketika mereka berpisah, mereka justru saling menyalahkan satu sama lain.
Meski begitu, risiko dari hal ini sebenarnya dapat ditekan dengan beberapa cara yang mungkin cukup efektif, seperti:
Memang terlihat sulit, akan tetapi bukan berarti mustahil. Kita bisa mencontoh tokoh trader terkenal, Timothy Ronald, yang hingga usia 25 tahun belum terdengar kabar mengenai pasangan yang akan ia pilih. Karena sejatinya, pasangan adalah cerminan dari diri kita sendiri.
Kemudian, jika sampai akhir hayat seseorang belum memiliki pasangan, maka hal yang pasti tetaplah kematian, bukan keberadaan pasangan hidup.
Hari ini, banyak anak muda bertahan dalam sebuah hubungan hanya karena rasa takut, seperti:
Pada dasarnya, rasa takut itu wajar dimiliki manusia, termasuk remaja. Akan tetapi, rasa tersebut perlu diarahkan dengan baik agar tidak membawa seseorang ke jalan yang salah.
Dalam pandangan Islam, hubungan harus dikelola dengan pengendalian diri yang kuat tanpa adanya sikap manipulatif dari salah satu pihak.
Pada usia muda, banyak orang mengira bahwa hidup mereka masih panjang dan masa depan masih penuh ketidakpastian. Hal inilah yang membuat sebagian anak muda terus mencari jati dirinya sampai benar-benar merasa siap, baik secara finansial maupun mental.
Kesimpulannya, anak remaja era sekarang sering menjalani hubungan atas dasar “cover” atau sekadar mengikuti arus. Belum lagi ditambah dengan pengaruh media sosial yang seolah membenarkan semuanya.
Cara mengurangi dampaknya adalah dengan memberi pemahaman mengenai kerugian yang mungkin terjadi serta akibat akhirnya. Akan tetapi, di sisi lain, masih ada orang-orang yang percaya bahwa suatu saat mereka akan membangun kehidupan bersama hingga memiliki keturunan.
Jadi, alangkah baiknya jika kita memperbanyak wawasan terlebih dahulu sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius. Saya teringat perkataan seorang teman:
“Jangan cari untung dulu, cari saja pengalamannya.”
Wallahu a‘lam.