Sebenarnya saya paham betul, bahwa judul di awal terlihat kontradiksi untuk antonim yang tidak sesuai. Kata ‘keras’ yang menjadi tesis, seharusnya dihadapkan dengan kata ‘lunak’ sebagai antitesis, bukan kata ‘lemah’— yang seharusnya bersanding lawan dengan kata ‘kuat’.
Kalian boleh memberikan hipotesis sejak awal, tapi dalam tulisan ini, izinkan saya menjelaskan sintesisnya. Dan rasanya, memang lebih nyaman ditulis dan dibaca seperti itu.
Raim Laode dalam salah satu podcast mengatakan, bahwa “Orang yang cerdas adalah orang yang paling banyak referensi.” Baik dari ruang kelas, atau dari pengalaman.
Kecerdasan yang sepenuhnya berasal dari luar diri, lalu kita menyerapnya dengan efektif, membenturkan pengetahuan satu dengan lainnya, juga mengolahnya optimal dengan opini pribadi, hingga menyampaikannya sebagai produk baru hasil pergulatan kognitif konstruktif.
Dengan itu saya berpikir, bahwa segala sesuatu itu memang harus disikapi dengan dan dari berbagai perspektif dan probability. Nggak bisa kita menghakiminya dengan sempitnya kaca mata kuda dan ego. Itu kenapa ada istilah growth mindset, sebagai tendensi dari keberagaman surplus rancangan, rumusan, konsep dan gagasan dalam pilihan-pilihan yang kita ciptakan.
Sehingga kita tidak hancur oleh ketakutan dan kekhawatiran, resah dan gelisah yang kita ciptakan sendiri dalam ruang dan lorong-lorong gelap diri; untuk sepenuhnya menjadi manusia yang tegap dan merdeka.
Itu kenapa, setiap ada pernyataan tidak semerta-merta saya terima dan iyakan, sebelum sempat mengulitinya dengan pertanyaan perspektif dan probability. Dalam teori perspektif manusia, Pak Fahruddin Faiz menyebutnya dengan dualisme.
Seperti:
“Sebenarnya, harga buku yang mahal atau uang saya yang sedikit?”
“Saya yang nggak bisa nabung atau emang nggak ada yang bisa ditabung?”
“Jadi guru yang kecil itu gajinya atau perhatiannya?”
“Rakyat Indonesia ini miskin atau malah memang dimiskinkan?”
Hingga dalam ruang ngeluh, saya bertanya pada kenyataan:
“Sebenarnya, hidup yang keras atau saya yang lemah?”
Perihal hidup, hidup ini memang keras, hidup ini memang berat. Hidup semakin terasa keras dan berat dalam kenyataan, bahwa hidup ini serba tidak pasti: cita-cita, rezeki, usia, semua baik-buruk takdir, keinginan dan keharusan, hingga kemauan dan kemampuan.
Di satu sisi, kita ini memang lemah, kita ini memang lelah. Kita semakin terasa lemah dan lelah dalam kenyataan, bahwa kita ini memiliki batas: pikiran, perasaan, badan, semua baik-buruk energi, sifat dan sikap, hingga lisan dan tulisan.
Karena bagaimanapun, hidup adalah sebuah perjalanan. Kita harus tetap bergerak. Einstein bilang, “Hidup ibarat naik sepeda. Agar tetap seimbang, kita harus tetap bergerak”. Boleh untuk istirahat dan jeda, tapi bukan berhenti. Karena berhenti berarti mati. Itu kenapa jantung terus berdetak.
Begitupun dalam istirahat dan jeda, nggak lebih lama dari fokus inti yaitu bergerak. Itu kenapa dari 24 jam, hanya 8 jam untuk istirahat.
Bahkan juga, hidup adalah sebuah perlombaan. Sebagai makhluk sosial yang tentu terikat dengan orang lain. Baik dan buruknya, jahatnya, baik-baik yang nggak cocok, dan hal-hal yang mempengaruhi. Selalu ada perbandingan dan tolak ukur antara manusia satu dengan manusia lainnya. Dan terkadang itu menyebalkan!
Hingga, tiada rasanya hal yang lebih melelahkan dan sulit untuk perlombaan dan bermusuhan dibanding dengan diri sendiri. Melawan dan berdamai dengan diri sendiri: rasa malas, nafsu, luka, dan hal-hal yang belum usai.
Juga bahkan, hidup adalah soal tanda tanya. Sebagaimana di awal, hidup adalah ruang semu ketidakpastian. Soe Hok Gie bilang, “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.”
Namun nyatanya, perihal menerima dan menghadapi, tidak semudah itu.
“Bisa sukses nggak?”
“Bisa membanggakan nggak?”
“Ke mana arahnya?”
“Gimana caranya?”
Untuk setiap kegagalan, untuk setiap hal yang belum tercapai, untuk setiap hal-hal yang melelahkan dan menyakitkan, rasanya kita hanya apa yang dikatakan Albert Camus dalam konsep absurdisme:
“Nobody realizes that some people expend tremendous energy merely to be normal.” (Banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka menghabiskan sangat banyak energi hanya untuk menjadi normal).
Ya, agakya, menjadi normal: sudah cukup.
Whatever that, Allah itu Maha Baik. Dia menciptakan segala sesuatu dengan berpasangan. Dia menciptakan cinta. Kita menerima cinta dengan syukur, syukur bahwa Allah tidak akan menimpakan sesuatu di luas batas kemampuan hambanya, syukur bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat…” (QS. Al Baqarah ayat 186).
Di tengah kemelut grasak-grusuk gedebak-gedebuk dar der dor semester akhir, banyak sekali hal yang tersita, untuk beberapa hal yang membutuhkan fokus lebih. Saya jadi teringat suatu kutipan buku dalam Antologi Cerpen “Motor Matik Milik Bapak”.
“Jika kamu tidak bisa melakukan sesuatu hal yang kamu sukai, mulailah menyukai hal yang kamu lakukan.”
Banyak hal yang kita sukai, namun kini tak bisa dilakukan karena beberapa sebab. Growth mindsetnya, kita bisa menyukai hal-hal yang kita lakukan. Agar terasa lebih manis, ringan, dan tulus.
Bahkan untuk hal-hal yang rasanya sudah terlalu lelah dan menyakitkan, soal kegagalan, guru menulis saya pernah bilang, “Naskah-naskah yang tidak jadi, itu bukanlah sebuah kegagalan. Tapi tanda dari sebuah proses!”
Hingga Buya Hamka benar-benar mengusap air mata ini:
“Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua.”
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imran ayat 139).
Jangan bersedih, Innallaha ma’ana.
Kamu itu berharga.
Kita ini berharga.
Mari terus hidup!