Kenapa dalam hadits nabi nama ibu sampai disebut tiga kali sebelum ayah? Mungkin kita sering bertanya-tanya mengapa alasannya. Apakah sebagai bentuk penghormatan belaka? Atau tersemat makna agung sehingga Rasulullah begitu memuliakannya?
Hadits nabi riwayat Abu Hurairah yang berbunyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: “أُمُّكَ”، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: “ثُمَّ أُمُّكَ”، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: “ثُمَّ أُمُّكَ”، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: “ثُمَّ أَبُوكَ”.
(رواه البخاري ومسلم)
Sudah sangat masyhur di indra pendengar kita, terlebih lagi di kalangan para santri. Hadits tersebut menceritakan bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW dan laki-laki tersebut bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu.” Laki-laki tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu,” dan laki-laki tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu,” laki-laki tersebut bertanya kembali untuk keempat kalinya, “Kemudian siapa?” dan barulah Rasulullah menjawab, “Kemudian Ayahmu.”
Pengulangan nama ibu sebanyak tiga kali, menyiratkan pesan dari Rasulullah SAW bahwa pangkat ibu tiga kali lebih tinggi dibanding ayah. Mengapa demikian?
Dijelaskan dalam Kitab Tuhfatul Abna lil Aba buah karya Agus Muhammad Ridwan Qoyyum bin Said bin Aly asal Nganjuk, Jawa Timur. Dalam kitab tersebut disebutkan redaksi dari Imam Qurthubi r.a:
دلالة ظاهرة أن محبة الام والشفقة عليها ينبغى أن تكن ثلاثة أمثال محبة الاب, لذكر انبي الام ثلاث مرات وذكرالاب في الرابعة فقط, وذلك أن صعوبة الحمل وصعوبة الوضع وصعوبة الرضاع والتربية تنفرد بها الام دون الاب, فهذه ثلاث منازل يخلو منها الاب
Imam Qurthubi menyebutkan bahwa terdapat petunjuk yang sangat jelas untuk mencintai ibu dan menyayanginya seharusnya tiga kali lebih besar daripada cinta kepada ayah. Hal ini terlihat dari penyebutan ibu sebanyak tiga kali dalam hadits. Sedangkan ayah hanya disebut sekali pada urutan keempat. Kemudian petunjuk yang menjadikan ibu disebutkan tiga kali lebih utama dari ayah alasannya terlihat dari redaksi
وذلك أن صعوبة الحمل
Yang artinya karena beratnya masa kehamilan. Sudah jelas kita ketahui bahwa ibu mengandung selama kurang lebih 9 bulan lebih 10 hari. Bayangkan saja selama itu kita berada di perut seorang ibu. Membebaninya disaat tidur maupun bangunnya. Ditambah perjuangan fisik dan emosional yang dialami ketika masa kehamilan seperti mual dan lelah. Yang Allah gambarkan rasa sakitnya dalam Al-Qur’an sebagai “wahnan ‘ala wahn” yaitu kelemahan yang bertambah-tambah.
وصعوبة الوضع وصعوبة الرضاع
Kemudian yang kedua karena beratnya proses melahirkan. Ada analogi yang menyebutkan bahwa intensitas kontraksi itu seperti 20 tulang yang patah secara bersamaan atau seperti tulang yang dihancurkan. Sungguh dahsyat rasa sakitnya. Bahkan bertaruh nyawa antara hidup dan mati. Karena tak jarang ibu hamil yang syahid ketika berjuang untuk melahirkan buah hatinya ke dunia.
والتربية تنفرد بها الام دون الاب, فهذه ثلاث منازل يخلو منها الاب
Dan yang ketiga, yakni karena perjuangan menyusui serta merawat anak. Ibu memiliki beban secara khusus sejak sang buah hati hadir dalam rahimnya. Bahkan setelah melalui proses panjang, melelahkan, dan menyakitkan, seorang ibu masih memiliki beban dalam menyusui dan merawat sang buah hati.
Maka dari itu, tak heran jika Allah menempatkan Surga berada dibawah telapak kaki ibu. Karena hal ini sebanding dengan perjuangan khusus yang di alami oleh seorang ibu. Dan tiga fase tersebut tidak dialami oleh seorang ayah.
Sangat tepat jika Allah dan Rasulnya menjadikan kedudukan ibu dalam hal kasih sayang dan perhatian disebut lebih besar dan lebih utama. Meskipun demikian, bukan berati merendahkan peran seorang ayah. Ayah tetaplah figur keluarga yang patut dihormati sebagaimana seorang Ibu, seperti sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:
رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِوَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ
“Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka orang tua”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim)
Dari hadits tersebut menegaskan bahwa tidak ada pengecualian antara ibu dan ayah yang membedakan kedudukannya. Meskipun di redaksi hadits pertama keutamaan menghormati dan menyayangi ibu lebih besar. Rasulullah mengingatkan kembali di hadits kedua bahwa ayah juga bagian dari orang tua yang harus di hormati dan disayangi. Serta memiliki kedudukan yang sama-sama mulia di sisi Allah ta’ala.
Jadi, hormati dan sayangi orang tua kita selagi ada. Do’akan selalu kabaikan untuknya seperti halnya do’anya untuk kebaikan putra-putrinya. Karena sebesar apapun balasan jasa kita kepada ibu dan ayah tak akan sebanding dengan besarnya cinta dan pengorbanan ibu dan ayah untuk putra putrinya.
Orang tua merawat dan membesarkan putra-putrinya dengan penuh harap, menanti hari ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang berhasil dan bahagia. Sebaliknya, ketika seorang anak merawat orang tuanya di masa tua, mereka melakukannya dengan kesadaran bahwa waktu kebersamaan itu tidak akan selamanya. Dan menemani di sisa-sisa usia dengan sabar hingga tiba saat perpisahan yang tak terelakkan. Berbaktilah selagi bisa sebelum Allah mengambil kesempatan sehingga meninggalkan penyesalan.
Waallhu a’lam.