Ibu adalah figur keluarga dengan sejuta istimewa. Perjuangan dan pengorbanan seorang ibu dari mengandung hingga mencetak sang buah hati menjadi insan yang berharga patut di acungi jempol. Maka, tak heran jika pengandaian malaikat tak bersayap bagi seorang ibu tersemat indah dalam namanya yang terhormat.
Selain hebat dalam peran ibu yang mencurahkaan kasih sayang hangat kepada sang buah hati. Ibu juga berperan sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama yang memberikan andil besar dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan kepribadian seorang anak. Menurut attachment theory (Teori Kelekatan) yang dikembangkan oleh John Bowlby mengatakan bahwa ikatan emosional antara ibu dan anak sudah terbentuk sejak dalam kandungan dan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional serta sosial anak di masa depan.
Teori psikososial Erikson juga mengatakan bahwa interaksi yang hangat antara ibu dan anak selama fase oral (tahun pertama) dan fase selanjutnya akan membentuk kepribadian anak dan membangun kepercayaan dasar pada diri anak.
Secara ilmiah, para peneliti perkembangan anak juga menegaskan bahwa masa kehamilan dan lima tahun pertama kehidupan merupakan golden age pembentukan struktur otak. Pada fase ini, 80% otak berkembang pesat, dan ibu menjadi sumber stimulasi utama bagi anak. Suara ibu, sentuhan, emosi, dan kebiasaan hariannya secara langsung memengaruhi pertumbuhan sel-sel saraf bayi. Penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa ibu yang memiliki emosi stabil, pola makan sehat, serta lingkungan spiritual yang baik cenderung melahirkan anak dengan kecerdasan kognitif dan emosional lebih optimal.
Ikatan emosional yang terjalin sejak dalam kandungan juga berpengaruh besar terhadap rasa aman dan perkembangan belajar anak. Ibu yang sering berbicara, membaca buku, atau bernyanyi untuk janinnya membantu menstimulasi kecerdasan bahasa dan rasa percaya diri sang anak kelak. Karena itu, para ahli menyebut pendidikan pertama bukan hanya sekadar kegiatan formal, melainkan proses alami yang berlangsung sejak dalam rahim hingga masa tumbuh kembang.
Selain memiliki jasa besar dalam tumbuh kembang sang anak. Dalam perspektif agama, figur ibu sangat dimuliakan kedudukannya. Rasulullah SAW bersabda:
ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik:
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya”
(HR. Bukhori)
Hadis Rasulullah tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa penghormatan kepada ibu tiga kali lebih utama daripada ayah karena peran ibu yang begitu besar mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, hingga membesarkan anak. Bahkan proses kehamilan seorang ibu yang penuh perjuangan pun disebut dalam Al-Qur’an surah Al-Luqman yang berbunyi:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)
Selain perjuangan dan pengorbanan ibu yang begitu hebat hingga tersebut dalam hadits nabi dan Al-qur’an, dalam Islam dikenal pula tradisi tirakat orang tua sebelum kelahiran sang anak. Para ulama dan orang saleh zaman dahulu menjaga diri dari perbuatan buruk dan hal-hal yang haram hingga makruh, memperbanyak istighfar, sedekah, dan salat malam sebagai bentuk persiapan spiritual agar mendapatkan keturunan yang saleh.
Hal ini telah dibuktikan oleh ayahanda Imam syafi’I yang menjaga diri dari makanan yang tidak halal dan keajaiban do’a ibunda Imam Bukhori yang terus menerus berdo’a dalam tahajudnya agar mata putranya yang buta sejak lahir diberikan kesembuhan. Kisah ini juga sesuai dengan pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Imam Al-Ghazali menyebut bahwa anak adalah amanah yang harus dipersiapkan dengan hati yang bersih, karena karakter, kecerdasan kognitif, dan kecerdasan emosional anak memiliki kaitan erat dengan keadaan orang tuanya, baik lahir maupun batin.
Kesalehan dan kecerdasan anak merupakan warisan genetik yang diturunkan dari orang tuanya. Berdasarkan penelitian University of Washington menyebutkan bahwa ibu memiliki pengaruh lebih banyak terhadap kecerdasan anak. Berdasarkan data penelitian gen kecerdasan sering kali berada di kromosom X, dan ibu memiliki dua kromosom X (XX) sementara ayah hanya satu (XY)
Maka dari itu ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula. Ibu yang menjaga ibadahnya, memperbaiki akhlaknya, serta istiqamah dalam doa adalah fondasi yang memastikan tumbuh kembang anak menjadi generasi yang cerdas dan berkarakter. Sebuah ungkapan Arab mengatakan:
الأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا … أَعْدَدْتَ جَيْلاً طَيِّبَ الأَعْرَاقِ
“Ibu adalah sekolah utama (pertama); jika engkau mempersiapkannya dengan baik, engkau telah mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya (kuat akar-akarnya)”
Dengan demikian, ibu bukan hanya pengasuh, melainkan pendidik mulia yang membentuk fondasi kecerdasan kognitif, emosiaonal, dan moral anak bahkan sejak sebelum mereka dilahirkan.
Waallahu a’lam.