web analytics

Hikayah dan Hikmah di Balik Istimewanya Bacaan Tahiyat

0 0
Read Time:2 Minute, 34 Second

Dalam ritual sholat, bacaan tahiyat adalah sebuah bacaan yang menjadi rukun sholat. Namun, masih banyak yang menganggap bahwa rangkaian kalimat yang kita ucapkan pada saat duduk tahiyat sekadar formalitas ibadah. Padahal kalimat dalam doa tahiyat adalah sebuah prasasti lisan yang mengabadikan dialog penuh hikmah karena pertemuan secara langsung antara Rasulullah dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Mengetahui sejarah Isra’ Mi’raj memanglah penting, namun lebih penting lagi jika kita bisa mengambil value (nilai) atau hikmah dari sebuah keagungan Allah dalam bacaan tahiyat.

Seperti dawuh yang disampaikan oleh Ning. Hj. Ita Rosyidah Miskiyah (Ning Ochi) pada acara peringatan Isra’ Mi’raj di Sakan Daruz Zainab, “tanpa kita sadari, perjalanannya kanjeng nabi itu diabadaikan dalam bacaan sholat. Apa yang kita baca dalam doa tahiyat itu mengandung sebuah sarat dan makna yang mendalam”. (tutur cucu KH. Ustman Al-Ishaqy)

Kisah ini dimulai pada saat Rasulullah mencapai puncak tertinggi yang tidak bisa dilewati oleh makhluk siapapun, bahkan Malaikat Jibril sekalipun. Di hadapan keagungan Allah, Rasulullah yang penuh rasa ta’zim sekaligus sekujur tubuhnya gemetar memberikan salam kepada Allah SWT. Namun, ternyata tidak ada jawaban salam dari Allah hingga Rasulullah mencoba memberikan salam yang ke-dua namun hasilnya tetap sama belum ada balasan salam dari Allah SWT. Di tengah kegelisahan Rasulullah tentang bagaimana cara seorang hamba memberikan salam yang pantas kepada tuhanNYA, lalu Allah SWT mewahyukan salam yang sempurna untuk diucapkan oleh seorang hamba kepada-Nya.

Lantas Rasulullah mempersembahkan salam penghormatan sebagaimana yang diwahyukan Allah, “Attahiyyaatul mubaarakaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah” (Segala penghormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan adalah milik Allah).

Mendengar salam sekaligus pujian dari kekasih-Nya, Allah SWT pun menjawab dengan salam keselamatan langsung kepada Rasulullah, “Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh” (Keselamatan, rahmat, dan berkah Allah semoga tercurah kepadamu, wahai Nabi).

Di sinilah letak keajaiban kasih sayang Nabi Muhammad SAW. Di tengah-tengah beliau merasakan nikmat pertemuan langsung sekaligus nikmat keselamatan, beliau langsung teringat pada umatnya yang berada di bumi. Beliau menyahut salam tersebut dengan menyertakan kita semua,“Assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin” (Keselamatan semoga tercurah atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh).

Melihat pemandangan yang luar biasa indah dan penuh cinta ini, seluruh langitpun ikut bergetar dan para malaikat serentak mengucapkan,“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullahs” Rangkaian dialog inilah yang kemudian diabadikan menjadi bacaan tahiyat yang kita baca hingga hari ini.

Hikmah pertama yang dapat kita ambil dalam bacaan tahiyat adalah sebagai pengingat bahwa sholat adalah moment bertemunya seorang hamba untuk berbicara langsung dan melepas penat di hadapan Allah. Kedua, Rasulullah juga mengajarkan bahwa saat kita berada di posisi tertinggi atau saat mendapatkan nikmat kebahagiaan jangan pernah lupa untuk mendoakan dan membawa kebaikan bagi orang lain. Ketiga, ketika para malaikat membacakan syahadat disitulah prinsip keyakinan yang teguh, kita diingatkan bahwa meski Rasulullah telah berada pada puncak tertinggi beliau tetaplah hamba Allah dan Allahlah yang paling tinggi dari seluruh apa yang ada di langit dan bumi. Setelah kita memahami hikayah dan hikmah bacaan tahiyat ini semoga dapat membantu kita agar menghayati setiap kalimatnya dengan lebih khusyuk dan penuh rasa syukur. Wallahu a’lam bi showab.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tagged with:
fiqhopini

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Mengenal 78 Cabangan Iman: Menyelami Kedalaman Ajaran Syaikh Nawawi Al-Jawi

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan   

Memilah Makna Ramadhan Bukan Dari Sekadar Kemasan  

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali dalam Hadits Nabi? Berikut Penjelasan dan Hikmahnya

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

KH. Mahrus Aly: “Mulango Ngaji! Nek Nganti Awakmu Ora Iso Mangan, Ketho’en Kupingku.”

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Bayangkan Jika Kita Tidak Menulis

Tantangan Besar di Balik Organisasi Besar

Tantangan Besar di Balik Organisasi Besar