Setelah mengetahui beberapa hal mengenai anjuran yang harus diperhatikan dalam bersentuhan dengan Al-Qur’an (termasuk membaca, mendengarkan, serta membaca secara bersamaan seperti yang dijelaskan dalam artikel sebelumnya), maka alangkah baiknya kita beranjak kepada beberapa anjuran lain yang masih perlu diperhatikan:
اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون
Artinya: “Disunahkan mencari guru Al-Qur’an yang baik dan bagus suaranya. Ketahuilah bahwa para ulama Salaf meminta para pembaca Al-Qur’an yang bersuara bagus untuk membacanya sementara mereka mendengarkan.”
Dari penjelasan di atas, dapat diambil pelajaran bahwa mencari guru Al-Qur’an memiliki kriteria:
• Memiliki suara yang bagus
• Memiliki bacaan yang baik dan benar
Lalu bagaimana jika guru tersebut tidak memiliki kedua kriteria itu? Maka satu hal yang harus diperhatikan adalah bacaan yang baik dan benar. Sebab suara yang bagus saja tidak menjamin kebenaran dalam membaca.
Diriwayatkan pula oleh Abdullah bin Mas’ud:
عن رسول الله ﷺ: فقد صح عن عبد الله بن مسعود ﵁ قال قال لي رسول الله ﷺ: اقرأ علي القرآن فقلت يا رسول الله أقرأ عليك وعليك أنزل قال أني أحب ان اسمعه من غيري فقرأت عليه سورة النساء حتى إذا جئت إلى هذه الآية فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا قال حسبك الآن فالتفت إليه فإذا عيناه تذرفان رواه البخاري ومسلم
Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda kepadaku, ‘Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku pantas membacakannya untukmu, sementara kepadamu ia diturunkan?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku ingin mendengarnya dari orang lain.’ Maka aku membacakan Surah An-Nisa’ hingga sampai pada ayat:
Terjemahan: ‘Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.’
(QS An-Nisa 4:41)
Beliau bersabda, ‘Cukup sampai di sini.’ Lalu aku menoleh kepadanya dan ternyata kedua matanya berlinang air mata.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ النِّسَاۤءِ (An-Nisa’ ayat 24)
Artinya: “Dan (haram juga kamu mengawini) wanita yang bersuami …”
(QS An-Nisa 4:24) dan ayat-ayat lainnya.
١ – فتكره القراءة في حالة الركوع والسجود والتشهد وغيرها من أحوال الصلاة سوى القيام
٢ – وتكره القراءة بما زاد على الفاتحة للمأموم في الصلاة الجهرية اذا سمع قراءة الامام
٣ – وتكره حالة القعود على الخلاء
٤ – وفي حالة النعاس
٥ – وكذا إذا استعجم عليه القرآن
٦ – وكذا في حالة الخطبة لمن يسمعها
Artinya: “Makruh membaca Al-Qur’an dalam keadaan rukuk, sujud, tasyahud, dan keadaan shalat lainnya selain berdiri. Makruh membaca lebih dari Al-Fatihah bagi makmum dalam shalat jahr ketika ia mendengar bacaan imam. Makruh membacanya saat duduk di tempat buang hajat, dalam keadaan mengantuk, ketika mengalami kesulitan dalam membaca, serta saat mendengarkan khutbah.”
Jika diringkas, maka poin-poinnya adalah:
• Dimakruhkan membaca Al-Qur’an dalam gerakan shalat selain berdiri.
• Dimakruhkan membaca dengan suara keras bagi makmum saat imam membaca keras.
• Dimakruhkan membaca di tempat buang hajat dan sejenisnya.
• Dimakruhkan membaca dalam keadaan mengantuk.
• Dimakruhkan membaca ketika mengalami kesulitan atau tidak fokus.
• Dimakruhkan membaca saat mendengarkan khutbah.
Itulah beberapa penjelasan lanjutan mengenai adab membaca Al-Qur’an. Hal-hal lainnya akan dijelaskan pada artikel berikutnya.
Wallahu a‘lam.