web analytics

Tilawah yang Bermakna: Suara Indah, Bacaan Benar, dan Sikap yang Tepat

0 0
Read Time:3 Minute, 8 Second

Setelah mengetahui beberapa hal mengenai anjuran yang harus diperhatikan dalam bersentuhan dengan Al-Qur’an (termasuk membaca, mendengarkan, serta membaca secara bersamaan seperti yang dijelaskan dalam artikel sebelumnya), maka alangkah baiknya kita beranjak kepada beberapa anjuran lain yang masih perlu diperhatikan:

  1. Dalam perihal mencari guru untuk membaca Al-Qur’an, terdapat salah satu kesunahan yang harus diperhatikan, yakni mencari guru yang baik dan bagus suaranya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an:

اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون

Artinya: “Disunahkan mencari guru Al-Qur’an yang baik dan bagus suaranya. Ketahuilah bahwa para ulama Salaf meminta para pembaca Al-Qur’an yang bersuara bagus untuk membacanya sementara mereka mendengarkan.”

Dari penjelasan di atas, dapat diambil pelajaran bahwa mencari guru Al-Qur’an memiliki kriteria:
• Memiliki suara yang bagus
• Memiliki bacaan yang baik dan benar

Lalu bagaimana jika guru tersebut tidak memiliki kedua kriteria itu? Maka satu hal yang harus diperhatikan adalah bacaan yang baik dan benar. Sebab suara yang bagus saja tidak menjamin kebenaran dalam membaca.

Diriwayatkan pula oleh Abdullah bin Mas’ud:

عن رسول الله ﷺ: فقد صح عن عبد الله بن مسعود ﵁ قال قال لي رسول الله ﷺ: اقرأ علي القرآن فقلت يا رسول الله أقرأ عليك وعليك أنزل قال أني أحب ان اسمعه من غيري فقرأت عليه سورة النساء حتى إذا جئت إلى هذه الآية فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا قال حسبك الآن فالتفت إليه فإذا عيناه تذرفان رواه البخاري ومسلم

Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda kepadaku, ‘Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku pantas membacakannya untukmu, sementara kepadamu ia diturunkan?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku ingin mendengarnya dari orang lain.’ Maka aku membacakan Surah An-Nisa’ hingga sampai pada ayat:

Terjemahan: ‘Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.’
(QS An-Nisa 4:41)

Beliau bersabda, ‘Cukup sampai di sini.’ Lalu aku menoleh kepadanya dan ternyata kedua matanya berlinang air mata.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

  1. Diberitahukan pula kepada para pembaca Al-Qur’an, apabila memulai bacaan dari tengah ayat atau berhenti bukan pada akhir ayat, maka sebaiknya memulai dari bagian ayat yang masih berkaitan dengannya. Seperti pada ayat:

وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ النِّسَاۤءِ (An-Nisa’ ayat 24)

Artinya: “Dan (haram juga kamu mengawini) wanita yang bersuami …”
(QS An-Nisa 4:24) dan ayat-ayat lainnya.

  1. Adapun beberapa hal yang dimakruhkan dalam membaca Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an:

١ – فتكره القراءة في حالة الركوع والسجود والتشهد وغيرها من أحوال الصلاة سوى القيام
٢ – وتكره القراءة بما زاد على الفاتحة للمأموم في الصلاة الجهرية اذا سمع قراءة الامام
٣ – وتكره حالة القعود على الخلاء
٤ – وفي حالة النعاس
٥ – وكذا إذا استعجم عليه القرآن
٦ – وكذا في حالة الخطبة لمن يسمعها

Artinya: “Makruh membaca Al-Qur’an dalam keadaan rukuk, sujud, tasyahud, dan keadaan shalat lainnya selain berdiri. Makruh membaca lebih dari Al-Fatihah bagi makmum dalam shalat jahr ketika ia mendengar bacaan imam. Makruh membacanya saat duduk di tempat buang hajat, dalam keadaan mengantuk, ketika mengalami kesulitan dalam membaca, serta saat mendengarkan khutbah.”

Jika diringkas, maka poin-poinnya adalah:
• Dimakruhkan membaca Al-Qur’an dalam gerakan shalat selain berdiri.
• Dimakruhkan membaca dengan suara keras bagi makmum saat imam membaca keras.
• Dimakruhkan membaca di tempat buang hajat dan sejenisnya.
• Dimakruhkan membaca dalam keadaan mengantuk.
• Dimakruhkan membaca ketika mengalami kesulitan atau tidak fokus.
• Dimakruhkan membaca saat mendengarkan khutbah.

Itulah beberapa penjelasan lanjutan mengenai adab membaca Al-Qur’an. Hal-hal lainnya akan dijelaskan pada artikel berikutnya.

Wallahu a‘lam.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Ning Sheila Hasina: “Mengaji Dulu, Influencer Pesantren Kemudian!”

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Mengapa Kita Mencari Alam? Antara Biologi, Emosi, dan Ilusi Sosial

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Dilema antara Puasa Syawal atau Puasa Qadha?

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Disusui Berbagai Wanita Lintas Kabilah, Berikut Hikmah Bagi Dakwah Rasulullah SAW

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Belajar Adab Al-Qur’an dari Kitab Tibyan Imam Nawawi

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an

Dari Pelepah Kurma hingga Mushaf Utsmani: Sejarah Pembukuan Al-Qur’an