“Apalah arti sebuah nama?!”
Begitulah kira-kira kelakar anak muda mengutip William Shakespeare yang menulis dalam salah satu masterpiecenya, Romeo and Juliet.
“What’s in a name? That’s which we call rose by any other name would smell as sweet.”
(Apalah arti sebuah nama? Toh dinamakan apapun, harumnya mawar tetap akan wangi tercium).
Kalimat itu sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Kalimat yang diucapkan Juliet perihal Romeo yang berasal dari keluarga Montague, musuh keluarganya (Capulet) itu, menegaskan bahwa nama itu tidak penting—yang penting adalah hakikat atau sifat asli sesuatu.
Tapi secara orientasi dan esensi, nama memiliki aspek dan kedudukan yang penting. Prof. Quraish Shihab mengatakan bahwa nama merupakan sebuah tanda untuk mengenal di balik sebuah makna yang tersirat. Itu kenapa kita percaya, bahwa nama adalah do’a.
. عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم): إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم
“Dari Abu Darda Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya di hari kiamat nanti kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka dari itu, perbaguslah nama-nama kalian,’” (HR. Abu Dawud).
Terlebih perihal saat memberikan nama untuk anak. Hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi para orang tua dan calon orang tua. Di tengah gempuran nama-nama unik dan nyenterik, orang tua harus mengetahui apa yang disampaikan Syekh Nasr bin Muhammad As-Samarqandi dalam karangannya, Tanbihul Ghafilin:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي ﷺ قال من حق الولد على الوالد ثلاثة أشياء أن يحسن اسمه اذا ولد ويعلمه الكتاب اذا عقل ويزوجه اذا أدرك
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Di antara hak anak atas orang tuanya ada tiga perkara: memberinya nama yang baik ketika lahir, mengajarinya ilmu (membaca/menulis/Al-Qur’an) ketika sudah berakal, menikahkannya ketika telah dewasa.”