Apakah sudah bosan menyayangi buku? Lebih baik beli sepatu saja. Biar kutendang kepalamu yang bersandar pada muka buku! Dewasa ini nampaknya anak-anak semakin beranak. Memangnya ada yang peduli dengan negara? Jangan jauh-jauh ke negara kalau buku pun tak kau baca juga pelihara.
Begitulah agaknya beberapa kalimat singkat seputar nasib buku di Indonesia yang dapat saya gambarkan dengan abstrak. Kenyataannya memang sebegitu miris dunia perbukuan di Indonesia, baik penulis, pembaca, rakyat, siswa, sampai Indonesia seisinya. Dari segi penulis, mereka dipaksa berkedok amal keikhlasan guna membagi keuntungan penjualan buku dengan penerbit, percetakan, sampai pajak.
Di negara kita tercinta penulis saja hidup segan mati pun enggan, apalagi kondisi generasi bangsa yang sudah mengalami degradasi moral. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini mari kita berbincang seputar dunia perbukuan di Indonesia.
Buku Sulit Dijangkau
Dari segi harga, buku di Indonesia sering dianggap mahal dibandingkan dengan daya beli masyarakat. Hal tersebut terjadi karena biaya produksi tinggi meliputi kertas impor, distribusi yang panjang, pajak, dan jumlah cetak sedikit.
Sementara, di negara maju seperti Amerika Serikat, harga buku setara dengan belanja makan siang, namun di Indonesia, harga tersebut setara belanja kebutuhan dapur selama beberapa hari. Hal tersebut dipengaruhi oleh perbandingan UMR. Daya beli penduduk setempat yang tinggi menyebabkan harga buku di luar negeri tergolong murah bagi masyarakatnya..
Tidak hanya dari segi harga, fasilitas penunjang gemar membaca dari negara yang minim turut menjadi sebab terjadinya penurunan skor Tingkat Gemar Membaca (TGM) Indonesia. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional RI terbaru (per November 2025), jumlah perpustakaan di Indonesia mencapai 219.415 unit, yang mencakup berbagai jenis perpustakaan dari khusus hingga umum. Sayangnya hanya terdapat 54.344 Perpustakaan Umum yang tersebar di Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan.
Meskipun Indonesia memiliki ratusan ribu perpustakaan, keberadaannya belum maksimal meningkatkan literasi nasional. Penyebab utamanya meliputi akses yang terbatas, rendahnya kualitas koleksi, aktivitas literasi pasif, hingga kurangnya SDM. Sehingga ratusan ribu perpustakaan tersebut hanya sebagai tempat penelantaran buku dengan gaya.
Secara logika kondisional, jika para buku dapat memantik gairah membaca maka TGM akan naik. Namun sayangnya, ratusan ribu perpustakaan yang menelantarkan para buku itu tidak bisa berbuat apa-apa jika para manusia hanya makan, minum, dan naum. Apalah daya?
Pun dengan logika yang sama, apabila harga buku begitu bikin rakyat miskin, maka perpustakaan adalah solusi untuk meluapkan gelora membaca. Lantas apakah para perpustakaan dapat menampung para orang yang malas? Sayangnya hanya ada orang tak waras dalam perpus.
Mudahnya seperti ini, apabila tak memiliki cukup uang dan sangat ingin membaca sebuah buku, maka pergilah ke perpustakaan! Karena ketahuilah bahwa TGM sangat penting bagi sebuah bangsa karena merupakan indikator perilaku atau kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi, yang berdampak langsung pada pembangunan kualitas manusia dan daya saing bangsa.
Jika tak sudi membaca buku di tempat bernama “perpustakaan” maka sisihkanlah sepeser uangmu sekadar membeli seonggok buku untuk kemudian membawanya pulang dan menjilati isinya pakai mata. Bukan malah membeli buku bajakan yang harganya lebih murah dari sampah sepele macam tutup botol.
Karena ketika membeli buku bajakan, maka secara tidak langsung Anda mendukung peningkatan harga buku dan merusak ekosistem perbukuan. Mengapa? Karena membeli buku bajakan berpotensi menurunkan penjualan buku ori juga merusak industri dengan merugikan penulis, penerbit dan mematikan kreativitas.
Melihat beberapa faktor penyebab rendahnya TGM di Indonesia, nampaknya satu ini yang paling seram. Rendahnya budaya membaca. Oleh karena hal ini tidak bisa ditumbuhkan oleh orang lain apabila tak memiliki kesadaran bahwa membaca itu perlu. Maka mulailah dari diri sendiri untuk membangun lingkungan dan kebiasaan berbasis perbukuan.
Kalau memang hal itu tidak bisa diatasi, maka langkah terakhir … Hormatilah Ilmu!
فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Mujadillah: 11)
Wallahu a’lam.