وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Q.S. Al-Isra’: 24)
“Tidak ada anak yang tidak susah ketika ditinggal orang tuanya. Bagi kalian yang masih memiliki orang tua, jagalah sebaik-baiknya. Pendidikan dasar telah mengajarkan kita cara menghormati orang tua, cara memuliakan orang tua, bahkan sejak menempuh jenjang TK pun kita sudah diajari cara mendoakan orang tua.” Pesan Ning Hj. Niswatul Arifah.
“Ditinggalkan orang tua itu rasanya seperti kiamat terlebih dahulu. Seakan-akan tumpuan kita hilang separuh. Setiap do’a dan permohonan yang semula mudah diijabah, serasa hilang separuh setelah ditinggal orang tua.”
“Meskipun khidmah Ning Rifa kepada Beliau hanya berlangsung selama 5 tahun, tapi kesan yang ditinggalkan sangat mendalam.” Kenang Menantu pertama K.H. Imam Yahya tersebut.

Selanjutnya, Ning Rifa berpesan kepada para santri untuk selalu terbuka kepada ‘Ndalem’. Ini karena semua santri merupakan amanah yang dititipkan orang tuanya kepada Pengasuh Pondok Pesantren. “Kalau ada apa-apa, maturo. Semisal lagi susah hatinya, matur saja. ‘Ndalem’ selalu terbuka untuk kalian semua. Tidak ada yang dibedakan, semuanya sama. Seseorang yang sudah niat tholabul ilmi maka derajatnya sama dihadapan sesama tholabul ilmi.”
Dawuhnya Mbah Yai Imam; “Jangan pernah membawa ‘embel-embel’ apapun dari rumah. Berangkatlah dengan tangan kosong.”
Berangkat dengan tangan kosong disini bukan berarti tidak membawa uang saku. Maksudnya ialah seseorang yang berangkat tholabul ilmi harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dari rumah.
“Lepaskan, Tawadlu’lah! Ini ibarat gentong air yang isinya akan keluar jika di dalamnya sudah terisi penuh. Sebaliknya, apabila gentong tersebut dikosongi, maka semua ilmu yang dipelajari akan masuk.”
Wallohu a’lam.