web analytics

Ibnu Rusyd: Filsuf yang dibuang

Averroes statue. Averroes (1126-1198), an Islamic physician and philosopher, was born in the city of Cordoba, Spain. His full Arabic name is Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rushd, often given as Ibn Rushd (The Commentator). Averroes served as a judge and a physician in Spain and Morocco. He wrote Kulliyat fi al tib (General Medicine, 1162-1169), as well as commentaries on Aristotle. Averroes’ work was widely translated into Latin, and later used by Aquinas as a basis for his works. Photographed in Cordoba.
0 0
Read Time:5 Minute, 21 Second

Siapa sangka? Ulama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan filsafat Islam terutama di dunia Islam Barat, jutru malah dibuang dan diasingkan bersama orang Yahudi. Difitnah oleh khalifah yang dibakar ambisi politik. Menjadi bahan ejekan karena dibuan di tengah-tengah orang Yahudi yang dianggap rendah.

Ibnu Rusyd atau Abu Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd yang terkenal di Barat dengan nama Averroes karena pengaruh bahasa Spanyol, adalah salah satu ulama terkemuka dari Barat. Perubahan nama dari Ibnu Rusyd menjadi Averroes Adalah akibat dari terjadinya metamorphose Yahudi-Spanyol-Latin.

Ibnu Rusyd lahir di Cordova, Spanyol (sebuah kota yang saat itu menjadi pusat kajian-kajian ilmu pengetahuan) pada tahun 1126. Cordova merupakan kota Allah yang bukunya paling banyak. Keluarga Ibnu Rusyd tidak hanya dikenal sebagai keluarga qadhi, tetapi juga sebagai tokoh yang terlibat dalam bidang politik.

Kakeknya, Abu Al-Walid Muhammad Ibn Rusyd, adalah ahli hukum termasyhur yang bermadzhab Maliki. Tidak kalah dengan kakek Ibnu Rusyd, ayah Ibnu Rusyd pun pernah menjabat sebagai qadhi di Cordova dan merupakan seorang fakih bermadzhab Maliki termasyhur.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Lingkungan keluarga yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan tentu sangat mendukung perkembangan intelektual Ibnu Rusyd. Pada masa mudanya, ia belajar adab, fiqih madzhab Maliki, ushul fiqih, dan ilmu kalam madzhab Asy’ariah. Namun, Ibnu Rusyd bersikap kritis terhadap ilmu kalam dengan paham Asy’ariah, membuat Ibny Rusyd tidak begitu saja menerima paham tersebut.

Para guru yang mengajar ilmu-ilmu tersebut selain ayahnya sendiri adalah Abi Al-Qasim ibn Basykual, Abi Marwan ibn Massaroh, Abi Bakr ibn Samhun, dan Abi Ja’far ibn Abd Al-Aziz. Mereka Adalah fuqoha-fuqoha terkemuka pada saat itu.

Ibnu Rusyd digambarkan sebagai orang yang selalu dahaga ketika menuntut ilmu. Kemampuan Ibnu Rusyd menguasai ilmu-ilmu tersebut membuatnya tetap tamak. Oleh karena itu, dengan dorongan yang kuat ia mempelajari ilmu kedokteran, metematika, dan filsafat. Ia belajar ilmu kedokteran dari Abi Ja’far ibn Harun Al-Turjaliy.

Perkembangan intelektual yang luar biasa jenius bisa dilihat dari kemampuannya dalam menguasai filsafat Aristoteles. Ibnu Rusyd mampu menerangkan dan memberi ulasan karya-karya Aristoteles secara jelas. Karena kehebatannya itu, ia pernah diberi tugas oleh Khalifah Muwahhidun, Abu Ya’qub, khalifah kedua dari Dinasti Muwahhidun, untuk menulis komentar-komentar dari karya-karya Aristoteles.

Komentarnya terhadap filsafat Aristoteles tidak hanya berdiam pada satu bahasa, ia juga menerjemahkan dalam bahasa Latin dan Ibrani agar lebih mudah dipahami dari terjemahan yang langsung dari bahasa Yunani yang dilakukan oleh sarjana Eropa pada waktu itu. Sementara Ibnu Rusyd sendiri tidak menguasai bahasa Yunani. Dalam membuat karya-karya terjemahan dan komentar filsafat Aristoteles ia hanya bersandar pada karya-karya Aristoteles yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Tidak hanya tamak dalam menuntut ilmu, beliau juga rakus dalam memberi pencerahan. Diriwayatkan oleh Ibn Al-Akbar bahwa Ibnu Rusyd tidak pernah berhenti berpikir dan membaca kecuali pada waktu malam perkawinannya dan malam saat ayahnya meninggal. Meski terlihat berlebihan, paling tidak kita dapat gambaran betapa antusiasnya Ibnu Rusyd dalam belajar.

Berkecimpung dalam Dunia Politik

Berbeda dengan keluarganya yang mendapat posisi penting di bawah pemerintahan Al-Murabithun, Ibnu Rusyd mendapat berbagai jabatan di bawah pemerintahn Al-Muwahhidun, rezim yang menaklukkan pemerintahan Al-Murabithun.

Orang yang memperkenalkan Ibnu Rusyd kepada penguasa Muwahhidun Adalah Ibn Tufayl. Ibn Tufayl mengajak Ibnu Rusyd menghadap Khalifah. Setelah memuji Ibnu Rusyd dan menyebut-nyebut keluarganya, Khalifah Muwahhidun mengadakan diskusi seputar filsafat yang membuat Ibnu Rusyd kagum terhadap pengetahuan Khalifah mengenai filsafat. Akhirnya Ibnu Rusyd memberanikan diri mengungkapkan pendapat pribadinya.

Pada kesempatan yang lain, Ibn Tufayl memanggil Ibnu Rusyd karena ada keluhan dari Khalifah mengenai kesulitan dari ungkapan-ungkapan Aristoteles. Khalifah sangat berharap adanya seseorang yang mau membuat komentar atas karya-karya Aristoteles dan memberi penjelasan-penjelasan tentang maksudnya agar dapat dipahami orang-orang pada umumnya.

Karena hubungan antara Ibnu Rusyd dan Khalifah yang semakin dekat. Pada tahun 1169, Ibnu Rusyd ditunjuk untuk menjabat sebagai qadhi di kota Seville (sebuah kota yang waktu itu terkenal dengan aktivitas-aktivitas artistik). Dua tahun kemudian, ia kembali ke Cordova juga sebagai qadhi. Pada tahun 1179 untuk kedua kalinya ia ditunjuk sebagai qadhi di Seville dan tiga tahun setelahnya diangkat sebagai qadhi qudhat (hakim agung) di Cordova. Beberapa bulan menjalani jabatannya, ia ditunjuk sebagai dokter pribadi Khalifah untuk menggantikan posisi Ibn Tufayl.

Dibuang

Pada tahun 1184, Abu Yusuf Ya’qub Al-Mashur naik tahta. Namun kemesraannya antara Ibnu Rusyd tidak berlangsung lama karena kemudian Ibnu Rusyd dihukum buang ke Lucena oleh sang Khalifah.

Pada tahun 1190, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Mereka sudah menguasai kota Silvas dan mengancam kota Seville. Khalifah berusaha keras mengatasi pemberontakan yang terjadi di Barat Tengah tersebut, namun ia tidak mampu mengatasinya secara total.

Pada tahun 1195, Khalifah berhasil mengalahkan pasukan koalisi Kristen di Alarcos dekat Badajos setelah mendapat bala bantuan dari Seville, Trujillo, Talavera, dan Toledo. Meskipun Khalifah dapat mengalahkan pasukan Kristen, ia menyadari adanya kelemahan dukungan massa di kerajaannya. Untuk memperoleh hubungan yang lebih dekat dengan massa, Khalifah menyingkirkan para filsuf agar mempunyai hubungan dengan para fuqoha yang lebih dekat dengan massa.

Pertentangan antara fuqoha dan filsuf memang sudah terjadi sejak lama. Tidak hanya pertentangan masalah keagamaan, tetapi juga mengenai masalah politik. Penderitaan dan hukuman yang dialami oleh Ibnu Rusyd seolah sebagai korban dari ambisi politik Khalifah.

Untuk menjatuhkan Ibnu Rusyd dari posisinya yang penting, ia difitnah dan dituduh menghina Khalifah dan mengajarkan pendapat yang bisa menjadikan kekafiran. Berkaitan dengan tuduhan penghinaan kepada Khalifah, Ibnu Rusyd didakwa menulis kalimat:

“Sesungguhnya saya pernah melihat hewan itu (jerapah) menjadi piaraan raja Barbar.”

Berkenan dengan tuduhan mengajarkan kekafiran, ia didakwa mengeluarkan pendapat bahwa planet Venus adalah salah satu dari Tuhan. Berikutnya, ia dituduh menolak kebenaran kisah kaum Ad seperti yang disebut dalam Al-Qur’an.

Akibat dari itu, tidak hanya dibuang, karya-karyanya pun dibakar kecuali karya-karya di bidang kedokteran, matematika, dan astronomi. Ibnu Rusyd diasingkan ke Lucena, sebuah kota kecil di sebelah selatan Cordova yang mayoritas penduduknya adalah orang Yahudi.

Fitnah tersebut berdampak negatif yang besar terhadap perkembangan filsafat di dunia Islam. Khalifah mengeluarkan manifesto yang berisi larangan mempelajari filsafat dan penentangan terhadap para filsuf karena dianggap berbahaya. Oleh karena itu, semua buku yang berkaitan dengan filsafat dibakar. Manifesto tersebut disebarluaskan ke seluruh wilayah Andalusia dan Afrika Utara.

Tidak lama setelah peristiwa fitnah tersebut. Ibnu Rusyd diampuni dan namanya direhabilitasi oleh Khalifah dan kajian filsafat juga diperbolehkan kembali. Setelah mendapat pengampunan dan rehabilitasi, Ibnu Rusyd pergi ke Marakeys dan beberapa bulan kemudian meninggal di sana, tepatnya pada hari Kamis tanggal 9 Shafar 596 H. (11 Desember 1198).

Wallahu a’lam.

About Post Author

Rahmat Adhy Wicaksana

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Lahir di ujung timur Pulau Sumatra. Hidup sederhana sambil melukis menggunakan kata-kata.

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

Dari Madura ke Medan Perang Dunia: Perjalanan Halim Perdanakusuma

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

KH Mas Alwi bin Abdul Aziz: Sang Pemberi Nama Nahdlatul Ulama

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Biografi, Kontribusi dan Genealogi Intelektual KH Hasyim As’ari Pada NU

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Mengenal Syaikh Abdulloh Mursyad, Salah Satu Penyebar Islam di Kediri

Sayyidah Maryam Lahir dari Nazar Kesucian

Sayyidah Maryam Lahir dari Nazar Kesucian

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet

Api Perjuangan Kiai Abbas Buntet