web analytics

Kritik Sastra: Cerpen “Banjir Darah”

Kritik Sastra: Cerpen “Banjir Darah”
0 0
Read Time:1 Minute, 59 Second

Mitos merupakan cerita dari mulut ke mulut yang bertahan dari generasi ke generasi. Tidak dapat dipastikan apakah cerita itu benar adanya atau hanya sekedar bohong. Buatan seseorang dengan tujuan propaganda atau sekedar hiburan saja. Hebatnya, ada magnet tersendiri yang membuat cerita dari mitos membuat beberapa orang percaya dan meyakininya. Hingga, dapat bertahan sampai ke generasi anak cucu, juga ada yang yakin bahwa itu bagian dari sejarah yang dihilangkan. Sebab tidak ada sumber yang jelas dan empirik menurut pengetahuan modern, sangat layak jika tidak percaya sepenuhnya.

Dalam cerpen ”Banjir Darah” karya Aqna Mumtaz kita dibawanya ke nuansa horor yang mencekam. Bahwa ada ritual balas dendam bernama Santet Ronggot Nyowo, ketika seseorang harus menumbalkan darah dari kambing, di atas gunung Siboro. Begitu seram bukan? Namun alur berubah drastis yang ternyata plot twitsnya adalah itu Hari Raya Qurban. Di mana, kita harus mengorabnkan seekor kambing atau sapi di hari besar islam tersebut. Cerita dilanjutkan dengan percakapan anak dan ibunya yang cukup aneh, ada anak yang ingin makan T-Rex pada hari raya Idhul Adha. Anehnya lagi, si ibu ingin mengutuknya menjadi kecebong, namun bisa mengurungkan niatnya. Ending dari cerpen ini sangatlah membagongkan bayangkan ada kampung yang dipenuhi zombie.

Dapat disimpulkan, bahwa penulis mencoba membuat alur yang tidak terduga, itu terlihat dari satu bagian dan bagian lain yang tidak ada nyamung-nyambungnya sama sekali. Hebatnya, penulis bisa membumbui cerpen ini dengan humornya. Jokes-jokes dalam cerpen ini memang absurd, tapi segar. Membacanya dapat mengundang tawa. Jika diamati jokes dalam cerpen ini, terinspirasi dari gurauan di Stand up Comedy. Itu terlihat dari bagaimana membuat set up dan premis yang tersusun sebelum jokesnya yang absurd keluar. Tidak diragukan lagi, kualitas jokes dari penulis.

Kelemahan cerpen ini, akibat dari alurnya yang drastis berubah, juga komedi yang begitu kental. Mungkin, cerpen “Banjir Darah” lebih baik menjadi materi Stand up dari pada sebuah cerpen. Sangat sulit untuk kita mencari amanat dari cerpen ini. Namun, jika kita telisik lagi ilmu kepenulisan non-fiksi berupa cerpen akan lebih banyak lagi kita jumpai karya-karya non-fiksi yang lebih absurd dari “Banjir Darah”. Sebab, non-fiksi memiliki tugas membuka imajinasi pembaca, sedangkan logisnya cerita sekedar bumbu dan tidak wajibkan dalam sebuah karya non-fiksi. Jadi, tidak salah kalau “Banjir Darah” menjadi salah satu cerpen dengan berbagai kerandomannya. Yang salah, adalah kita yang tidak mau membaca dan lebih suka rebahan.

Terimakasih.

baca cerpen “Banjir Darah” selengkapnya: https://elmahrusy.id/banjir-darah/

About Post Author

Abidzar Maulana

Ingin bisa segalanya, termasuk menulis
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like